BPS Sebut Ekspor Industri Turun Bukan Deindustrialisasi

NERACA

Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suharyanto menyampaikan bahwa terjadinya penurunan ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 bukan karena terjadinya deindustrialisasi di Indonesia.

"Tidak deindustrialisasi. Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan karena minyak kelapa sawit, produksinya tetap baik, namun terjadi penurunan harga," kata Suharyanto di Jakarta, disalin dari Antara.

Kecuk, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa penurunan ekspor tekstil dan produk tekstil serta produk sepatu ke Amerika Serikat lebih dipengaruhi oleh musim yang tengah terjadi di Negeri Paman Sam itu.

Menurut data BPS, ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 mencapai 9,41 miliar dolar AS atau turun 7,71 persen jika dibandingkan Januari 2019 dan turun 8,06 persen jika dibandingkan Februari 2018.

Kendati demikian, sektor industri pengolahan masih berkontribusi paling tinggi, yakni sebesar 75,12 persen, jika dibandingkan dengan ekspor sektor lainnya, yaitu tambang 14,33 persen, migas 14,33 persen, dan pertanian 1,86 persen. Adapun ekspor nonmigas menyumbang 91,31 persen dari total ekspor pada Februari 2019.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas terhadap Januari 2019 yakni bahan kimia organik turun 98,4 persen, alas kaki turun 138,7 persen, kelompok bijih, kerak, dan abu logam turun 149,5 persen, kelompok lemak dan minyak hewan/nabati turun 208,9 persen, serta bahan bakar mineral turun 282,1 persen.

Kendati demikian, ekspor beberapa golongan barang mengalami peningkatan, di antaranya perhiasan naik 227,5 persen, tembaga naik 62,9 persen, bubur kayu atau pulp naik 38,7 persen, timah 33,1 persen, dan bahan kimia anorganik 21,1 persen.

Suharyanto mengumumkan bahwa neraca perdagangan Februari 2019 mengalami surplus 0,33 miliar dolar AS, meskipun ekspor turun karena impor yang turun tajam. "Surplus terjadi karena impornya turun tajam dan ekspornya juga turun. Tapi, ini berita baik karena akan berpengaruh pada angka pertumbuhan ekonomi kuartal I/2019," katanya.

Kecuk, panggilan akrabnya, memaparkan bahwa nilai ekspor pada Februari 2019 mencapai 12,53 miliar dolar atau turun 10,03 persen jika dibandingkan Januari 2019 yang disebabkan oleh penurunan ekspor migas maupun nonmigas.

Sementara nilai impor pada Februari 2019 senilai 12,2 miliar dolar AS atau turun tajam hingga 18,61 persen jika dibandingkan dengan Januari 2019. Menurut Kecuk, angka surplus pada Februari 2019 ini merupakan buah dari komitmen pemerintah yang berupaya menekan angka defisit neraca perdagangan melalui berbagai kebijakan.

"Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan, salah satunya melalui mekanisme menaikkan pajak impor barang mewah. Ini sudah baik, namun masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilanjutkan agar momentum ini bisa terus terjaga," ujar Kecuk.

Suharyanto melansir upah nominal harian buruh tani nasional Februari 2019 naik sebesar 0,33 Persen jika dibanding upah buruh tani Januari 2019 yaitu dari Rp53.604,00 menjadi Rp53.781,00 per hari, sedangkan upah riil mengalami peningkatan sebesar 0,62 persen.

"Kami melansir upah nominal harian buruh karena mayoritas penduduk Indonesia bekerja sebagai petani dan buruh, sehingga kita bisa mengetahui daya beli dari pendapatan yang diterima," kata Suharyanto di Jakarta, sebagaimana disalin dari laman kantor berita Antara, pekan lalu.

Kecuk, sapaan akrabnya, memaparkan upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Februari 2019 naik 0,21 persen dibanding upah Januari 2019 yaitu dari Rp88.442,00 menjadi Rp88.628,00 per hari. Sementara upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,29 persen.

Rata-rata upah nominal pembantu rumah tangga per bulan pada Februari 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,35 persen dari Rp404.949,00 menjadi Rp406.366,00. Upah riil pembantu rumah tangga pada Februari 2019 dibanding Januari 2019 naik sebesar 0,43 persen dari Rp298.129,00 menjadi Rp299.415,00.

Sedangkan, rata-rata upah nominal buruh bangunan pada Februari 2019 dibandingkan Januari 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,21 persen, yaitu dari Rp88.442 menjadi Rp88.628. Upah riil buruh bangunan pada periode yang sama juga naik 0,29 persen, yaitu dari Rp65.113 menjadi 65.302.

Upah nominal buruh pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan. Sementara upah riil buruh atau pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan yang diterima pekerja.

BERITA TERKAIT

Kontribusi Manufaktur Masih Besar - Pemerintah Bantah Terjadi Deindustrialisasi di Indonesia

NERACA Jakarta – Kontribusi industri manufaktur Indonesia sebagai penopang perekonomian dinilai masih cukup besar. Hal ini terlihat melalui pertumbuhan sektor,…

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENINGKAT - BPS: NPI Februari dan Maret Alami Surplus

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami surplus US$ 0,54 miliar pada Maret 2019. Surplus ini berasal…

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…

Penilaian IGJ - Dua Aspek Lemahkan Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

NERACA Jakarta – Peneliti senior Indonesia for Global Justice (IGJ) Olisias Gultom menilai, terdapat dua aspek yang membuat lemah Indonesia…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…