Akankah Bakal Banyak Pekerjaan Diambil Alih Robot?

Oleh: Ade Irwansyah

Jika mengacu pada riset yang dirilis McKinsey & Company, dalam seperempat abad mendatang 47 persen pekerjaan akn menghilang. Robot dan kecerdasan buatan akan menyingkirkan 800 juta tenaga kerja di seluruh dunia pada 2030. Hasil studi Universitas Oxford menyebut, sebanyak 50 persen pekerjaan yang tersedia saat ini akan mengalami otomatisasi alias pekerjaan tersebut tak lagi butuh tenaga manusia untuk menunaikannya. Otomatisasi berarti fungsinya digantikan mesin maupun robot.

Saat ini apa yang diandaikan dalam fiksi ilmiah kian terasa nyata. Mobil tanpa awak tinggal selangkah diproduksi dan dijual massal. Berbagai ujicoba telah dilakukan. Saat ini harganya memang masih terlalu mahal, tapi tak lama lagi kian terjangkau dan umum dipakai. Mobil tanpa awak berarti mengancam pekerjaan para supir. Suatu saat nanti, bila memesan GoCar atau GrabCar yang datang mobil tanpa supir.

Di sektor pengiriman barang atau logistik, drone telah menggantikan peran kurir. Di sektor manufaktur, banyak pekerjaan di pabrik telah mulai digantikan robot. Perusahaan besar macam Adidas hingga Foxconn telah mempekerjakan robot sejak dua tahun lalu. Di Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk telah memulai pilot project kendaraan robotik di gudangnya. Pabrik tekstil PT Pan Brothers, pabrik mainan PT Mattel Indonesia juga telah mengimplementasikan kecerdasan buatan dalam proses produksinya.

Dengan menggunakan robot, produksi terbukti meningkat. Robot tidak pernah terluka, lelah, bekerja tepat waktu, akurat, dan jarang melakukan kesalahan. Beli robot memang mahal. Tapi cukup sekali beli. Robot tak menuntut gaji bulanan, uang lembur, asuransi, tunjangan hari raya, serta pesangon bila kena PHK. Robot juga tak berdemo menuntut kenaikan gaji UMR. Artinya, untuk jangka panjang, mempekerjakan robot tepat secara hitungan ekonomi. Benarkah demikian adanya?

Kelihatannya memang menyeramkan. Selama ini berbagai studi tentang otomatisasi, baik robotik maupun kecerdasan buatan kerap dilakukan dengan pendekatan apokaliptik. Sebagaimana film fiksi ilmiah kala robot pada akhirnya tak hanya menggantikan manusia, namun juga memperbudak manusia. Padahal persoalan sesungguhnya tak sesederhana cerita film atau novel fiksi ilmiah.

Otomatisasi telah berlangsung sejak lama. Bahkan jauh sebelum gegap gempita Revolusi Industri 4.0 didengungkan. Misalnya, ATM alias anjungan tunai mandiri. Kehadiran ATM di tahun 1980-an sempat membuat para teller bank takut kehilangan pekerjaan. Tapi faktanya, di Amerika, seperti dikutip dari acara HBO Last Week Tonight, jumlah teller bank meningkat dalam tiga puluh tahun dari 1980-2010. Pekerjaan menerima dan menyerahkan uang pada nasabah memang digantikan mesin, tapi teller tetap punya pekerjaan, contohnya memasarkan produk bank atau menerima keluhan nasabah.

Contoh lain, wartawan termasuk jenis pekerjaan yang diramal bakal hilang ketika dotcom mewabah di awal 2000-an dan media cetak mulai berguguran. Media cetak memang kian sedikit dalam 20 tahun terakhir, namun pekerjaan wartawan tetap ada. Dominasi situs mesin pencari semacam Google, media sosial dan menjamurnya media online justru melahirkan pekerjaan baru seperti penulis SEO, admin media sosial dan macam-macam lagi. Sampai 10 tahun lalu tak pernah terpikir akan ada yang berprofesi jadi youtuber, influencer, maupun buzzer.

Melihat kenyataan itu, apa ini artinya kita tak perlu khawatir akan kehilangan pekerjaan karena otomatisasi robotik di masa depan?

Waspada perlu. Tapi merasa khawatir berlebihan tak diperlukan. Sebagai manusia yang dibekali akal budi, tugas kita beserta anak cucu kita membekali diri dengan kepandaian dan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Jika hanya bisa pekerjaan yang gampang digantikan mesin, kita bakal tersisih. Masalahnya, kita sedang berlomba beradu cerdas dengan komputer. Kecerdasan buatan yang dimiliki komputer di masa depan akan kian mengaburkan kemampuan mesin dan manusia. Apa akhirnya kita akan dikalahkan kecerdasan buatan?

Pemerintah telah mencanangkan kampanye Making Indonesia 4.0 untuk menyambut revolusi industri gelombang keempat. Namun kampanye itu akan sia-sia bila hanya berhenti sebatas jargon. Jika kita gagal menghadapi Industry 4.0 bisa-bisa kita tak hanya akan diperbudak robot tapi juga negara lain. Bukankah itu lebih menyeramkan? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Mewaspadai Aksi Terorisme Jelang Pelantikan Presiden-Wapres

Oleh : Dewi Widyasari, Pemerhati Sosial Politik   Ancaman dari kelompok radikal untuk menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden kian…

Peringkat Daya Saing, PR Jokowi di Periode Kedua

Oleh: Sarwani, Pemerhati Ekonomi Kado tak sedap datang dari World Economic Forum (WEF). Di akhir periode pemerintahan Presiden Joko Widodo…

Masyarakat Bijak Bermedsos, Waspada Terjerat UU ITE

  Oleh : Hanum Titian, Pengamat Media    Kasus provokasi dan pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik kembali terjadi. Salah…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Capaian Energi Berkeadilan bagi Rakyat Indonesia

Oleh: Fahmy Radhi, Pengamat Ekonomi Energi UGM Energi Berkeadilan merupakan program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyediakan…

Keberhasilan Pembangunan Pemerintahan Jokowi-JK

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Pelantikan Jokowi untuk menjadi Presiden pada periode…

Pers dan Masyarakat Wujudkan Kondusivitas Jelang Pelantikan RI-1 dan RI-2

    Oleh : Ahmad Pahlevi. Pengamat Sosial Politik   Kesuksesan Pemilu tentu membutuhkan peran banyak pihak, tidak hanya KPU…