Lima Sektor di Program Making Indonesia 4.0 untuk Pacu Ekspor

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, lima besar negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia adalah Amerika Serikat, China, Jepang, India dan Singapura. Ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut pada 2018, naik cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya, ekspor Indonesia ke Amerika pada 2017 nilainya USD16,67 miliar, pada 2018 naik menjadi USD17,20 miliar. Ekspor Indonesia ke China pada 2017 sebesar USD15,03 miliar, kemudian pada 2018 naik menjadi USD16,07 miliar.

Ekspor Indonesia ke Jepang pada 2017 tercatat sebesar USD10,96 miliar, pada 2018 naik menjadi USD12,06 miliar. Selanjutnya, ekspor Indonesia ke India pada 2017 sebesar USD8,79 miliar dan pada 2018 naik menjadi USD8,67 miliar. Lalu ekspor Indonesia ke Singapura pada 2017 sebesar USD8,34 miliar dan pada 2018 naik menjadi USD7,68 miliar.

“Tujuan ekspor kita saat ini utamanya ke pasar-pasar tradisional. Untuk meningkatkan nilai ekspor, kami mendorong lima sektor yang prioritas di program Making Indonesia 4.0,” jelas Menperin.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar, berdasarkan Making Indonesia 4.0, lima sektor manufaktur yang diprioritaskan pengembangannya dalam memasuki era revolusi industri 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika. “Kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi sebesar 65 persen terhadap total ekspor, kemudian menyumbang 60 persen untuk PDB, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” ungkap Haris.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melantik sebanyak sembilan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama atau Eselon II di lingkungan Kementerian Perindustrian. Kepada para pejabat yang dilantik, Menperin meminta mereka ikut berkontribusi menciptakan iklim usaha yang konduif. Hal ini dapat memacu industri nasional agar lebih tangguh dan berdaya saing global terutama untuk mengimplementasikan peta jalan Making Indonesia 4.0 dalam menyongsong industri keempat.

“Kami menginginkan peran serta saudara-saudara untuk memberikan kontribusi terbaiknya dalam mewujudkan penerapan Making Indonesia 4.0 supaya berjalan dengan sukses. Kami sangat berharap kehadiran saudara sekalian sebagai pimpinan di lingkungan Kemenperin agar dapat mendorong efektivitas dan kemajuan industri sehingga industri Indonesia dapat bersaing di pasar global,” kata Menperin pada acara pelantikan tersebut di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (12/3).

Menurut Airlangga, pelantikan sembilan pejabat Eselon II ini merupakan langkah konsolidasi dalam rangka menata jabatan strategis guna meningkatkan kinerja kementerian. Selanjutnya, implementasi program kerja yang efektif diharapkan mendukung iklim investasi industri dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Adapun sembilan pejabat Eselon II Kemenperin yang dilantik, yakni R Hendro Marnoto sebagai Kepala Pusat Peningkatan Penguatan Produk Dalam Negeri, Yulia Astuti menjadi Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri, Jonni Afrizon sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri, M Arifin menjadi Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri, serta Dini Hanggandari sebagai Direktur Industri Logam.

Kemudian, Wawas Swathatafrijiah dilantik menjadi Inspektur IV, Iken Retnowulan sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Agro, serta Ali Murtopo Simbolin dilantik menjadi Kepala Balai besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri.

Menperin juga meminta para pejabat yang dilantik agar terus berinovasi dan tidak terjebak dalam rutinitas. Menurutnya, sebagai personel lembaga yang menjadi leading sector dari revolusi industri 4.0, para pejabat tidak boleh tertinggal dalam teknologi dan sistem yang digunakan sehari-hari. “Pemanfaatan inovasi dapat membantu tercapainya tujuan dan sasaran besar Kemenperin untuk kemajuan Indonesia,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Airlangga menegaskan, perlunya akselerasi secara maksimal beberapa program kerja utama Kemenperin, antara lain penguatan pendidikan vokasi melalui konsep dual system, pembangunan Politeknik dan Akademi Komunitas di kawasan industri, program Link and Match antara SMK dengan industri, Diklat 3 in 1, Sertifikat Kompetensi Tenaga Kerja Industri, serta Pengembangan SDM Industri 4.0. Kemudian, pengembangan kawasan dan sentra industri di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.

BERITA TERKAIT

Skema PPnBM Diubah untuk Pacu Pengembangan Mobil Listrik

Pemerintah siap memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Dalam aturan baru ini, PPnBM tidak…

Sumbangkan Dana US$ 1 Juta - Google.org Bantu Persiapan Bencana di Indonesia

Menyadari Indonesia menjadi negara rawan bencana dan bencana sendiri tidak bisa diprediksi kapan datangnya, maka kesadaran masyarakat akan potensi bencana…

Software Bajakan Disebut Sulit Dibrantas di Indonesia

Maraknya penggunaan software tidak berlisensi atau bajakan untuk kebutuhan bisnis maupun perorangan sudah semakin meresahkan. Berdasarkan data dari BSA I…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Industri Hasil Tembakau Tercatat Serap 5,98 Juta Tenaga Kerja

NERACA Jakarta – Industri Hasil Tembakau (IHT) menjadi salah satu sektor manufaktur nasional yang strategis dan memiliki keterkaitan luas mulai…

Agar Usaha Kecil Manfaatkan Teknologi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian gencar mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri agar segera memanfaatkan teknologi…

Insentif Investasi Industri Gula Perlu Ekosistem Teknologi

NERACA Jakarta – Lahirnya 12 pabrik baru di industri gula merupakan salah satu bentuk keberhasilan pemerintah dalam memberikan insentif bagi…