Darmin Minta Pemda Tak Bikin OSS Tandingan

NERACA

Tangerang - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta pemerintah daerah tidak membuat sistem perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau "Online Single Submission/OSS" tandingan. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi di ICE BSD Tangerang Selatan, Banten, Selasa, Darmin mengatakan bahwa sejumlah pemerintah daerah diketahuinya membuat sistem OSS yang justru tumpang tindih (overlap) dengan sistem OSS yang dibuat pemerintah pusat.

"Saya lihat DKI Jakarta lebih dulu membuat juga beberapa perizinan dalam bentuk IT. Bukan untuk Ease of Doing Business (EoDB), malah ikut membuat IT perizinan berusaha di OSS," katanya. Darmin menjelaskan sistem OSS bertujuan untuk memudahkan izin berusaha sehingga dapat meringkas tahapan dan waktu dalam memproses izin berusaha.

Sementara itu Pemprov DKI Jakarta dan daerah lain juga membuat sistem online untuk melayani perizinan berusaha. Padahal, sebagai wilayah yang disurvei untuk laporan Ease of Doing Business, Darmin menilai Pemprov DKI seharusnya membuat sistem IT untuk kemudahan berusaha terutama di 10 indikator survei tersebut.

Terlebih saat ini tim Bank Dunia tengah berada di Indonesia untuk mengecek perbaikan kemudahan berusaha di Indonesia untuk laporan Ease of Doing Business. "Mohon bapak, ibu gubernur, bupati dan wali kota, kalau mau membuat sistem IT, buatlah untuk EoDB, jangan OSS karena malah tabrakan kerjaannya antara pemerintah pusat dan daerah," katanya.

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu mengatakan sistem OSS yang dibuat pemerintah pusat meliputi sekitar 15-20 perizinan berusaha. Sementara EoDB yang lebih rinci berisi lebih dari 100 prosedur perizinan. "Kalau dia (pemda) mau buat IT sendiri, mending buat lengkap. Dia (pemda) buat hanya empat izin, misalnya SIUP, TGP dan beberapa lainnya. Ya kalau begitu (lebih baik) jangan. Sudah 'overlap' habis-habisan itu," katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR Juliari Batubara menilai bahwa system ISS juga bisa mengurangi penyelewengan-penyelewengan yang dapat terjadi dalam mengurus persyaratan perizinan oleh pelaku dunia usaha. "Hanya realitanya di lapangan atau daerah saat ini masih perlu sinkronisasi antara sistem OSS dengan peraturan-peraturan daerah yang masih berlaku," katanya.

Ia menerangkan, saat ini masih adanya sistem OSS yang perlu disinkronisasi seperti izin lokasi yang dikeluarkan via OSS. Hal itu lantaran adanya yang tidak sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di daerah maupun tempat perusahaan pemohon izin berusaha tersebut.

Juliari juga mencontohkan adanya pengusaha yang harus melakukan perizinan dari awal karena melakukan pengurusan perizinan sebelum adanya sistem OSS itu. Menurut dia, sistem tersebut sebaiknya dapat segera dicarikan solusinya agar investasi mudah masuk ke Tanah Air sehingga bisa membuka banyak lapangan kerja hingga ke daerah.

"Ini adalah contoh-contoh permasalahan saat ini yang terjadi yang harus segera dicarikan solusinya, agar sasaran daripada penerapan perizinan melalui sistem OSS dapat benar-benar terasa manfaatnya oleh dunia usaha," pungkasnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Kepala BP Batam Edy Putra Irawady menyampaikan Batam mempunyai karakter yang berbeda dengan daerah lainnya dalam penerapan OSS. “Kami tak seperti OSS pada umumnya. Di regulasinya, ada izin usaha kawasan. Di PP 24 ini tak ada lagi namanya disini, pemasukan dan pengeluaran bukan ekspor dan impor. Di PP 24, namanya ekspor dan impor," kata Edy.

Kepada tim OSS, Edy meminta ada penyesuaian peraturan terkait penerapan OSS di Batam. Hal lain, untuk proses bisnis sepanjang pelaku usaha komit dengan OSS, menurutnya tak ada masalah, dan sejauh ini sudah harmonis. Walaupun ada pengurusan izin yang sebagian diurus di Pemko Batam, dan sebagian lagi di BP Batam.

"Tapi secara sistem itu bersatu, dan investor tak melihat itu. Cuma ada masalah di output OSS," ujar pria yang pernah menjabat Staf Khusus Kemenko Perekonomian RI ini. Di situ, lanjutnya, ada bunyi kurang lebih, "izin ini baru berlaku efektif kalau komitmennya sudah dipenuhi,” katanya. Ia juga menerangkan, di Batam ada beberapa daerah yang koordinatnya berada di luar Free Trade Zone (FTZ).

BERITA TERKAIT

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

Kinerja Memburuk, Dua Komisaris Minta RUPS Ganti Dirut Garuda

NERACA   Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, rencananya akan digelar akhir bulan ini,…

Terus Merugi, BEI Minta Penjelasan Bentoel

Melorotnya performance kinerja keuagan PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) lantaran mencatatkan kerugian bertahun-tahun, rupanya mengelitik PT Bursa Efek Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

APBN 2020 Fokus ke Penguatan SDM dan Perlindungan Sosial

  NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 akan lebih berfokus…

Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Perlu Lakukan Pembenahan Ekonomi

    NERACA Jakarta - Pemilihan umum serentak baru saja usai dan kini rakyat Indonesia sedang menunggu hasilnya karene penghitungan…

Tingkat Kemiskinan Ditargetkan Dibawah 9%

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menargetkan tingkat kemiskinan…