Tata Cara Menonton di Gedung Pertunjukan

NERACA

Memasuki wilayah gedung pertunjukan kesenian, tentu ada tata caranya sendiri-sendiri. Mulai dari yang resmi hingga yang santai, tergantung dari peraturan yang diberlakukan oleh manajemen gedung.

Jika Anda memasuki areal Gedung Kesenian Jakarta, peraturannya cukup ketat. Di antaranya, Anda dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam tempat pertunjukan. Selain itu, Anda dilarang memakai sandal jepit, celana pendek maupun busana santai lain yang dianggap kurang pantas. Casual boleh, asalkan sopan. Sementara untuk waktunya, usahakan 30 menit datang lebih awal agar tak ketinggalan tontonan pilihan Anda. Apalagi jika yang berpentas hari itu merupakan kelompok kesenian yang ternama, bisa dipastikan tiket akan sold out, seperti yang terjadi pada pementasan “Nabi Darurat, Rasul Ad Hoc” di GKJ, minggu lalu. Jadi, pesan dan belilah tiket jauh-jauh hari agar dapat menikmati pementasan kesenian yang Anda sukai. Dan terakhir, untuk menghormati pertunjukan, non aktifkan atau “silence” nada telepon genggam Anda supaya jalannya pementasan tidak terganggu oleh suara-suara tersebut.

Serupa tapi tak sama, ketika berada di Graha Bakti Budaya (GBB), TIM, Anda juga dilarang membunyikan handphone bahkan merekam gambar pementasan. Selain itu, jangan pula menyalakan rokok di dalam gedung pertunjukan. Namun di sini, Anda bebas berpakaian asalkan tidak terlalu terbuka. Bukan apa-apa, di dalam ruangan yang full AC tersebut tentunya akan membuat Anda cepat masuk angin jika Anda berpakaian yang terlalu terbuka.

Tata tertib ini berbanding terbalik dengan peraturan di Gedung Wayang Orang Bharata Purwa dan Gedung Pertunjukan Miss Tjitjih. Di kedua tempat ini, Anda bebas membawa makanan dan minuman. Bahkan bisa memesannya kepada penjaja makanan di luar gedung, asalkan Anda menyebutkan nomor bangku yang diduduki. Layanan pesan antar ini memang agak sedikit mengganggu tetapi dijamin Anda tak kelaparan selama tontonan berlangsung.

Selain tata tertib yang perlu diperhatikan, ada baiknya Anda juga mengetahui rata-rata harga tiket pertunjukan yang dijual oleh pihak pengelola gedung.

Di tempat senyaman GKJ, tiket pertunjukan relatif sedikit mahal, terutama jika yang berpentas adalah kelompok kesenian terkenal atau bahkan dari luar negeri. Jika tiket dibanderol hanya kisaran di bawah Rp 50 ribu, tentulah yang lakonnya dinilai kurang “menjual”. Jadi, kelompok pertunjukan amat berpengaruh pada harga tiket.

Demikian pula di GBB, jangan harap Anda mendapatkan harga murah untuk tiket pertunjukan Teater Koma, misalnya. Rata-rata tiket dijual mencapai ratusan ribu rupiah. Hal ini bukan berarti menyurutkan niat Anda untuk menikmati pertunjukan berkelas. Pihak manajemen tentunya sudah memikirkan masak-masak perihal harga tiket. Untuk tontonan berkualitas, maka Anda pun harus membayar dengan kualitas yang sama.

Kembali realitas ini berbanding jauh dengan tiket yang dijual di Gedung Wayang Orang Bharata Purwa dan Gedung Pertunjukan Miss Tjitjih. Harganya tak sampai ratusan ribu untuk pementasan apapun, bahkan di Miss Tjitjih, tiket hanya dijual seharga Rp 10 ribu! Bukan berarti harga murah tersebut juga disuguhkan lakon murahan. Sebaliknya, para seniman yang berpentas di dua gedung tadi tetap total dalam permainan sandiwara yang dibawakan.

Semua kembali pada pilihan dan selera Anda masing-masing. Ada baiknya Anda mencoba mendatangi gedung pertunjukan tersebut satu per satu sekadar untuk mengetahui dan merasakan setiap kesenian dari berbagai sudut.

Related posts