Pertunjukan Tradisional : Seni Yang Hampir Terlupakan

NERACA

Masihkah Anda rela membayar demi sebuah pertujukan kesenian tradisional? Jika, ya, kira-kira berapa banyak dari Anda yang masih mau menonton pertunjukan tersebut? Agaknya jumlah penggemar seni tradisional semakin hari semakin berkurang. Kalaupun ada, hanyalah menyisakan generasi tua yang rindu akan kejayaan budaya asli Indonesia.

Ya, seni tradisional Indonesia seakan menjadi “asing” di negaranya sendiri. Sementara ratusan orang mengagumi pertunjukan budaya Indonesia yang beraneka ragam seperti tarian, teater, wayang dan sebagainya. Tentunya Anda masih ingat dengan pertunjukan “I La Galigo”, teater tradisional dari ranah Sulawesi Selatan yang digubah dari naskah tertua dan terpanjang di dunia warisan Kerajaan Luwu. Eposnya mencapai 2851 halaman folio, mengalahkan naskah “Mahabrata” dari India. Naskah ini menceritakan Awal mula kerajaan bumi, kisah Dewa-Dewi yang berasal dari kerajaan Langit dan kerajaan bawah air, kisah Percintaan Abadi, Serta semua kearifan lokal yang terkandung dalam kebudayaan Bugis klasik.

Ironisnya, kebesaran sastra tulis yang sudah mendunia itu justru dapat dijumpai di beberapa negara. Naskah “I La Galigo” tidak merupakan satu kesatuan yang utuh akan tetapi naskah tersebut terpisah-pisah. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi para Peneliti Epos La Galigo. Manuskrip La Galigo bisa di jumpai di Museum La Galigo di Makassar, di Perpustakaan Leiden di Belanda, di Malaysia, dan manuskrip juga masih bisa kita jumpai pada keluarga-keluarga Bugis yang melestarikan epos tersebut. Ketambahan, pementasan pertamanya justru di negara-negara Eropa, baru ke Asia dan akhirnya teater yang terinsipirasi dari Sureq Lagaligo dapat dipentaskan di tanah kelahirannya, Makassar pada 2011 kemarin.

Lalu, apa kabar pertunjukan macam ludruk, ketoprak, opera tradisional Batak dan sebagainya? Boleh dikatakan mereka dalam kondisi yang “hidup segan mati tak mau”. Ide untuk melestarikannya bukan datang dari pemerintah maupun masyarakat, apalagi masyarakat kota besar. Gagasannya malah datang dari civitas akademika kampus kesenian semacam Institut Kesenian Indonesia (ISI). Seperti opera Batak yang pernah dipentaskan beberapa mahasiswa ISI pada bulan Juli tahun 2010. Meski dikemas modern dan berdurasi satu setangah jam, versi asli Opera Batak bisa berlangsung semalam suntuk karena selalu ada selingan ceramah agama atau lawakan.

Ludruk yang asalnya dari Jawa Timur pun hampir jarang lagi dipentaskan di gedung-gedung kesenian, bahkan di kampung-kampung pun kesenian. Ludruk mati suri. Zaman dulu, setiap ada sebuah “hajatan” di kampung, penyelenggara pesta selalu “nanggap” atau mengundang kesenian ludruk sebagai hiburan bagi masyarakat sekitar. Sekarang nampaknya ludruk terpinggirkan oleh panggung dangdutan. Demi bertahan dari gerusan masa, Ludruk berinovasi menjadi kesenian yang lebih modern dan mendobrak pakem-pakem. Opera Van Java yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta merupakan salah satu tontonan yang mengambil semangat pentas Ludruk dan disukai oleh masyarakat masa kini.

Dan mari menanyakan tentang ketoprak kepada kaum muda masa kini. Jawaban yang sangat kentara adalah, sejenis makanan. Namun yang paling mengecewakan, ketoprak merupakan komedi di televisi. Sangat miris ketika mengetahui seni yang luhur ini disejeniskan dengan makanan dan lawakan. Memang agak sulit mendapati seniman ketoprak yang mengemban pakem Ketoprak yang sesungguhnya, di mana lakon dibawakan dengan sastra Jawa yang indah dan isinya pun bercerita mengenai kearifan lokal, legenda bahkan mengadaptasi dari karya-karya luar negeri.

Tapi, jangan pernah mengatakan ragam kesenian tradisional Indonesia ini mati dalam arti sebenarnya. Masih ada seniman-seniman yang mau melestarikannya meskipun jumlah pemain lebih banyak dari yang menonton. Para seniman pun harus membenahi diri dan memasukkan unsur yang lebih modern sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas dan multikultural. Tak hanya mengandalkan para seniman itu sendiri, kita juga harus ikut berusaha membangkitkan semangat kesenian tersebut, minimal mempelajari dan memahami estetika yang terkandung di dalamnya, persis seperti kata pepatah lama, “lebih baik menyalakan lilin daripada memaki kegelapan”.

Related posts