Gedung Pertunjukan Kesenian, Wisata Budaya dan Sejarah

Sabtu, 24/03/2012

NERACA

Jakarta, di tengah kemacetannya yang ruwet dan rumit, ternyata menyimpan jutaan pesona yang mungkin sebagian telah Anda lupakan. Dan ketika bertandang ke sini, tak lengkap rasanya jika tidak mendatangi beberapa gedung kesenian yang menarik sekaligus bernilai sejarah tinggi, di antaranya Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Gedung Wayang Orang Bharata Purwa dan Graha Bakti Budaya yang berada di areal Kompleks Taman Ismail Jakarta (TIM).

Keempat gedung ini mempunyai keistimewaan masing-masing. GKJ misalnya, didirikan di tahun 1814 pada saat Inggris menjajah tanah Jawa, Gubernur Sir Stamford Raffles yang saat itu menjadi petinggi penting berupaya membangun sebuah tempat pertunjukan untuk menghibur para tentara Inggris. Awalnya hanya berupa pondok dari bambu berkapasitas hingga 250 orang. Meski buruk, tanpa disangka ternyata bangunan itu berhasil menjalankan fungsinya untuk memberikan “rekreasi” jiwa.

Baca juga: Pesta Adat Erau dan International

Kemudian, datanglah Tentara Belanda yang menjajah Indonesia. Tempat tersebut dirubuhkan dan dibangun kembali dengan nama “Schouwburg” yang berarti Gedung Teater dalam bahasa Belanda. Gedung ini sangat memenuhi syarat dengan arsitektur Roccoco dan gaya Neo-Yunani yang populer di masa itu, dan akhirnya, diresmikanlah “Schouwburg” pada 1821.

Dalam sejarahnya gedung ini pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda yang pertama (1926) dan di gedung ini pula pada 29 Agustus 1945, Presiden RI pertama Ir. Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang di gedung ini. Selanjutnya, untuk keperluan pendidikan, gedung ini dipakai oleh Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi & Hukum (1951), lalu pada tahun 1957-1961 dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Baca juga: Kenalkan Kota Yang Aman, Nyaman, Indah dan Harmonis

Ketika Taman Ismail Marzuki diresmikan pada 1968, seluruh pusat kesenian dipindahkan ke kompleks tersebut. GKJ yang juga dikenal sebagai Gedung Kesenian Pasar Baru dan Gedung Komidi ini akhirnya disewakan kepada produser-produser film untuk dibuat bioskop yang mempertontonkan kebanyakan memutar film kung-fu serta India (Bollywood). Tahun-tahun suram inilah GKJ mengalami banyak kerusakan di sana-sini. Meski arsitektur tampak luar masih bagus, namun di dalam gedung tidak lagi berbentuk sebagai pusat pertunjukan.

Baca juga: Tana Toraja Kenalkan Logo dan Tagline Baru

Barulah saat R. Suprapto menjabat menjadi Gubernur Jakarta di tahun 1984, ia mengembalikan GKJ dalam fungsi aslinya yakni gedung kesenian. Renovasi pun dimulai hingga akhirnya pada 5 September 1987 GKJ kembali diresmikan dengan SK Gubernur KDKI No. 24 Tahun 1984. Hingga kini, GKJ masih terawat dengan apik dan digunakan untuk mengadakan pementasan-pementasan baik tradisional, modern maupun kontemporer dari seniman dalam dan luar negeri.

Gedung yang juga tertata dengan baik adalah Graha Bakti Budaya (GBB). Tempat pertunjukan kesenian yang berada di areal kompleks TIM ini sejak awal dibangun sudah disepakati pengelolaannya di bawah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). GBB menjadi salah satu gedung yang beruntung sebab tetap dijaga semua fasilitasnya sehingga sangat nyaman. Beberapa seniman besar dan kelompok kesenian ternama hampir saban tahun “manggung” di GBB, di antaranya Teater Koma pimpinan R. Riantiarno.

Baca juga: Wisata Budaya Masyarakat Kalimantan

Namun kondisi GBB berbanding terbalik dengan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Gedung yang menyimpan ribuan arsip sejarah sastra Indonesia serta tulisan-tulisan mengenai perkembangan seni budaya sastra Indonesia. Puluhan naskah kuno juga ada d sini. Namun sekarang kondisinya mengenaskan. Banyak naskah sastra yang rusak dan tak terurus. Ditambah kebijakan pemerintah yang mengurangi dana bantuan untuk pengelolaan PDS HB Jassin. Padahal, jika PDS HB Jassin ikut dikelola dengan baik, bukan tak mungkin bisa menjadi tujuan wisata domestik maupun asing yang ingin belajar sastra Indonesia dan sejarahnya.

Baca juga: Indonesia Menjadi Tujuan Wisata Dunia

Berjalan sedikit dari TIM, ke arah Senen, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan Gedung Wayang Orang Bharata Purwa. Gedung ini khusus dibuat untuk menampilkan kesenian tradisional wayang orang yang besar di tanah Jawa. Banyaknya bioskop dan tempat-tempat hiburan modern lainnya, membuat Gedung Bharata Purwa seperti terpinggirkan namun pecinta kesenian ini masih ada saja, terutama mereka yang rindu akan pertunjukan tradisi “wayang wong”.

Gedung yang bercat warna krem itu, setiap malam minggunya menyelenggarakan pentas wayang orang sejak sebelum 1970 hingga 1980-an. Pada masa-masa itulah mereka mendapatkan kejayaan. Layaknya artis ternama, mereka bahkan sudah pernah pentas di luar negeri, seperti Jerman (1981), Turki (1983), dan Belanda (1999) dan pada saat di Belanda, mereka pentas di beberapa kota termasuk menjadi pembuka acara World Music Theatre Festival di Amsterdam.

Baca juga: Mengupas Habis Budaya Dayak

Mengambil inspirasi dari arsitektur China, gedung ini dihiasi oleh dua naga pada bagian atap depan, dan mengadopsi patung Gupolo, karakter penjaga dari kebudayaan Hindu. Patung Gupolo ini banyak terdapat di situs-situs candi Hindu seperti Prambanan dan Ratu Boko.

Terakhir adalah Gedung Pertunjukan Miss Tjitjih. Tempat kesenian ini dinamai demikian untuk menghormati salah seorang seniwati yang turut membesarkan gedung tersebut yakni Nyi Tjitjih. Perempuan yang asalnya dari Jawa Barat merupakan sosok idola alias kembangnya setiap pementasan yang diadakan oleh kelompoknya. Gelar “Miss” diberikan oleh kolonial Belanda kepadanya pada 1930. Tak hanya berprofesi sebagai seniwati, Nyi Tjitjih juga tercatat sebagai pahlawan wanita dengan menggelar lakon yang berisi pemberontakan-pemberontakan terhadap Belanda. Aksinya ini tak pernah diketahui sebab pementasan banyak dibawakan dalam tatanan bahasa sunda.

Baca juga: Kenalkan WIsata Indonesia Ke Berlin

Gedung Miss Tjitjih pernah terbakar pada 1997, namun dibangun kembali dengan lebih baik. Di dalam area gedung tersedia pendingin ruangan dan bangkunya pun empuk. Kondisi luar bangunan juga menarik dengan gapura aksara sunda bertuliskan “Gedung Pertunjukan Miss Tjitjih” yang seolah memberikan ucapan selamat datang bagi Anda yang berkunjung ke sana. Arsitektur dengan material beton nampak membuat tempat ini terlihat kokoh, indah dan bersejarah.

Tempat-tempat tadi dapat mengingatkan kita akan sejarah unik pendiriannya. Selain itu, dapat pula dijadikan area wisata budaya yang kental akan “cultural historical” yang membanggakan. Masih ada yang berjaya (GKJ dan GBB) namun ada pula yang redup pamornya (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Gedung Miss Tjijih dan Gedung Bharata Purwa). Adalah tugas kita untuk menghidupkannya kembali sekaligus menimba ilmu dari tempat-tempat ini agar kelak generasi selanjutnya masih mengenalnya. (rani)

Baca juga: Menarik Minat Kapal Layar dan Pelaut Internasional