Terganjal Soal Birokrasi, Saham Infrastruktur Terhambat

NERACA

Jakarta – Kebijakan pemerintah melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang akan menelan investasi Rp4.012 triliun hingga 2025, yang diantaranya Rp267 triliun memberikan berkah bagi industri pasar modal, khususnya emiten di sektor infrastruktur. Pasalnya, banyaknya proyek infrastruktur yang bakal digarap pemerintah dengan nilai triliunan rupiah diyakini akan mengerek naik nilai harga saham sektor infrastruktur seperti jalan tol, konstruksi, properti dan alat berat.

Menurut Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, proyek MP3EI akan mendongkrak nilai harga saham berbasis infrastruktur. Alasannya, pasar sektor infrastruktur didalam negeri belum banyak tergarap. “Sejauh ini saham-saham berbasis infrastruktur masih oke dan trennya terus mengalami peningkatan,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (15/3).

Oleh karena itu, banyaknya proyek infrastruktur yang bakal digarap pemerintah di tahun ini seperti pelabuhan, jalan tol, dermaga dan pembangkit listrik akan menghidupkan investasi sektor infrastruktur. Lantaran itu pula, banyak perusahaan sekuritas menangkap peluang tersebut dengan merilis produk berbasis infrastruktur.

Dia juga menjelaskan, saham infrastruktur ini ada bermacam-macam, di mana juga terdapat saham kecil dan menengah yang didominasi saham-saham telekomunikasi. Meski demikian, sambung Satrio, genjarnya sektor infrastruktur yang sedang digarap pemerintah tidak akan menjamin nilai saham sektor infrastruktur juga naik. Pasalnya, hambatan soal pembebasan lahan dan punggutan liar masih menjadi kendala dan alasan ini pula investor tidak akan mengoleksi banyak saham sektor tersebut.

Menurut dia, besar kecilnya saham tersebut tidak akan menjadi masalah jika mereka masih banyak memiliki proyek. “Nah, dari banyaknya proyek inilah yang akan menghindari investor dari aksi goreng-menggoreng saham. Saya sih tidak mau menjamin, tetapi intinya kalaupun sahamnya kecil tetap memiliki banyak proyek, kenapa tidak,”tegasnya.

Hal senada juga disampaikan dosen FEUI Budi Frensidy, lemahnya komitmen pemerintah mengatasi soal infrastruktur menjadi kendala saham sektor infrastruktur memiliki prospek yang cerah jangka panjang.

Menurut dia, perekonomian Indonesia harus dibenahi dalam sektor infrastrukturnya baik dari jumlah dan waktu pelaksanaannya. Budi lalu memberi contoh, infrastruktur jalan tol pertama kali dijalankan dan dikembangkan Indonesia dibandingkan Malaysia. Faktanya, Indonesia tertinggal oleh Malaysia.“Ini karena birokrasi kita yang berbelit-belit. Para pengusaha atau investor pun sulit masuk,” jelasnya.

Lebih lanjut Budi menuturkan, terkait jaminan pemerintah dalam melaksanakan program infrastruktur ini, seperti pembebasan lahan, dirinya mengatakan pemerintah harus berperan aktif atas pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur.

Baik Budi dan Satrio, keduanya sepakat, prediksi para analis pasar saham bila sektor infrastruktur masih positif dan pilihan terbaik dibandingkan saham sektor lainnya. Sebut saja, Wijaya Karya, Adhi Karya, Pembangunan Perumahan (PTPP), United Tractor, Bakrie Land dan masih banyak lainnya

Disampaikan Budi, dengan peningkatan infrastruktur seperti listrik, pelabuhan, dan udara akan membuat inflasi yang rendah akan menjadi fluktual (permanen) dengan inflasi berkisar 6%-7%. “Kalau sektor infrastruktur berjalan maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 7%," ujarnya.

Produk Basis Infrastruktur

Sebelumnya, Direktur Utama Trimegah Asset Management, Denny Taher mengatakan, sektor infrastruktur masih menjanjikan ditengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif dan pertumbuhan pendapatan perkapita masyarakat meningkat US$ 300 perkapita/pertahun, “Kita targetkan dana kelolaan TRAM Infrastruktur Plus bisa mencapai Rp500 miliar satu tahun kedepan,” jelasnya.

Dia menjelaskan, nantinya produk baru reksa dana TRAM Infrastruktur akan diserap 60% investor institusi dan 40% investor ritel. Pihaknya pun optimis target tersebut bisa dicapai tahun ini mengingat ruang pertumbuhan infrastruktur masih cukup besar.

Selain itu, MP3EI menurut dia, berpotensi mengundang investasi senilai Rp4.012 triliun hingga 2025, atau Rp267 triliun. Dari total rencana investasi tersebut, sekitar 44% akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur di 6 koridor ekonomi.

Menurut Abipriyadi, saat ini ekonomi Indonesia sedang bagus. Dengan ekonomi yang baik tersebut dapat dimanfaatkan dengan mempercepat proyek infrastruktur. "Kami akan meluncurkan reksa dana-reksa dana yang terkait dengan infrastruktur pada tahun ini," ujarnya.

Dia mengatakan, proyek yang dibidik seperti pengadaan listrik dan jalan. Selain itu, proyek air minum juga dilirik untuk RDPT tersebut. PT Mandiri Manajemen Investasi juga akan mengeluarkan 2-3 reksa dana saham dengan tema tertentu pada 2012.

Menyadari pasar saham sektor infrastruktur menjanjikan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menerbitkan indeks infrastruktur dan perbankan. Direktur Pengembangan BEI, Friderica Widyasari Dewi pernah mengatakan, pihak BEI tengah menyusun mekanisme dan kriteria saham emiten yang masuk dalam kategori dua indeks infrastruktur dan perbankan. "Masih dalam proses pembahasan. Tapi kami berharap sudah bisa dirilis pada akhir semester satu tahun ini,”katanya

Dia menambahkan, pengelompokkan saham-saham yang tergabung dalam sektor infrastruktur dan perbankan itu juga untuk melengkapi indeks yang telah ada sebelumnya di BEI. Saat ini, BEI memiliki beberapa indeks di pasar saham antara lain, indeks LQ45, Kompas100, Jakarta Islamic Index (JII), Pefindo 25, Bisnis-27, Sri-Kehati, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). mohar/ahmad/ardi/bani

Related posts