BEI Rubah Auto Rejection Saham IPO - Berikan Keamanan Investor

NERACA

Jakarta – Mendapatkan pro dan kontra dari pelaku pasar, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengkaji aturan yang membatasi penurunan dan kenaikan harga saham atau auto rejection atas (ARA) dan auto rejectionbawah (ARB) yang difokuskan untuk saham penghuni baru atau saham initial public offering (IPO).

Laksono Widodo, Direktur Bursa Efek Indonesia mengatakan, aturan ARA dan ARB akan jadi satu paket aturan dengan aturan harga saham batas bawah Rp 50 per saham yang nantinya akan tertuang di peraturan bursa II A.”Tingkatan fraksi ARA dan ARB masih sama dengan yang sekarang. Hanya saja untuk saham IPO ada kelonggaran bisa lebih besar dua kali dari saham biasa. Nanti arahnya saham IPO tidak akan bisa lebih besar dua kali,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Pihaknya melihat, alangkah lebih baik jika ARA dan ARB dilakukan perhitungan yang saham dengan saham IPO ataupun saham biasa. Diharapkan aturan ini bisa hadir di semester II tahun 2019. Sementara Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, Kevin Juido menyampaikan, apabila ada kajian BEI untuk menghapus ketentuan batasan auto rejection bagi pergerakan harga saham di hari pertama emiten baru melantai di pasar modal, diyakini keamanan investor akan terjamin dari fluktuasi pergerakan harga.

Dirinya menjelaskan, dengan adanya auto reject atas dan bawah, setidaknya pelaku pasar dapat mencermati untuk bisa memasang posisiholdatau tidak dalam satu hari. Namun demikian, Kevin mengakui secara keseluruhan, kebijakan tersebut tak akan berdampak signifikan. Pasalnya, transaksi di bursa tergantung dari masing-masing investor.

Bagi investor ritel yang bertransaksi di pasar reguler sendiri, kebijakan tersebut nantinya tidak akan terlalu berpengaruh karena investor biasanya lebih mencermati likuiditas saham.“Karena yang diperlukan adalah apakah si investor bisa dapat barang atau tidak, terlepas dari [auto reject] 25% atau 50%,” imbuhnya.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna pernah bilang, ada beberapa hal yang akan dilakukan untuk menerapkan aturan tersebut. Antara lain dengan mengatur besaran penawaran auto reject, serta memperkuat pengawasan transaksi. Dia menuturkan, beberapa bursa di dunia telah mengatur batasan auto reject atas dan bawah pada saat initial public offering (IPO) sebesar 20% - 30%.

Menurutnya, investor yang akan melakukan transaksi sebaiknya memiliki sifat rasional dalam mengambil keputusan. Banyak investor mengalami euforia dengan lonjakan harga saham yang sejatinya tidak didukung oleh fundamental perusahaannya. “Bursa tidak bisa membatasi keinginan seseorang karena bursa hanya bisa meregulasi. “Misalnya kenaikan harga cukup signifikan kita hanya bisa memberi warning, makanya ada pengawasan yang dilakukan oleh UMA (unusual market activity),” ujarnya.

BEI telah mengubah batas baru auto rejection atau penolakan otomatis oleh JATS atau sistem apabila harga melampaui persentase harian tertentu. Hal itu tertuang dalam keputusan direksi BEI Nomor Kep-00113/BEI/12-2016 yang dikeluarkan pada 13 Desember 2016. Surat keputusan direksi tersebut juga perihal peraturan Nomor II-A tentang perdagangan efek bersifat ekuitas.

BERITA TERKAIT

Berikan Pendampingan Analis Investasi - CSA Research Gandeng Kerjasama Modalsaham

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal, khususnya generasi milenial dan juga mendukung inovasi sektor keuangan digital, Certified Security…

Ditopang Milenial Melek Investasi - Investor Sumsel Meningkat Empat Kali Lipat

NERACA Palembang –PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kantor perwakilan Sumatera Selatan (Sumsel) menyebutkan, jumlah investor pasar modal asal Sumatera Selatan…

Konflik Jababeka, BEI Belum Tentukan Sikap

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan belum mengambil sikap soal penolakan tiga kontraktor PT Kawasan Industri Jababeka…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…

Alokasikan Dana Rp 1,2 Triliun - Tower Bersama Buyback 110,94 Juta Saham

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, beberapa perusahaan masih mengandalkan aksi korporasi buyback saham. Hal inilah yang…