BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Bisa Capai 6% - Ditopang Pembangunan Infrastruktur

NERACA

Jakarta – Geliat pembangunan infrastruktur yang digarap pemerintah menjadi keyakinan pelaku ekonomi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih baik di tahun ini. Optimisme yang sama juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, perekonomian Indonesia akan tumbuh semakin baik dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini didukung oleh mulai terasanya dampak pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara masif selama lima tahun terakhir.

Selain itu, ekspor dan investasi juga akan menunjang perekonomian ke depan.”Investasi dan ekspor juga akan lebih tinggi. Perkiraan kami, pertumbuhan ekonomi akan naik tidak dalam dua tahun ini tapi seterusnya karena dampak dari infrastruktur. Kebijakan lima tahun ini akan segera kita rasakan. Ini yang kemudian akan meningkat 6%," ujar Perry di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, seharusnya ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi dari 5,17% di 2018. Namun, hal itu tertahan akibat kondisi global yang masih menantang dan penuh ketidakpastian. "Kalau negara lain tidak tahan dengan ketidakramahan dunia, Alhamdulillah kita tahan. Bahkan kita tidak hanya menjaga stabilitas, tapi cenderung naik," paparnya.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata Perry, bisa dilihat dari pertumbuhan di beberapa komposisi ekonomi dalam negeri, seperti konsumsi rumah tangga dan investasi yang tumbuh di atas lima persen."Lihat komposisinya, konsumsi rumah tangga itu 5,05% di atas 5%. Investasi itu sudah tumbuh di tahun lalu. Kalau kita jumlah, pertumbuhan ekonomi domestik itu tumbuh 5,5%. Tapi kenapa kuotanya 5,17%, ya itu ekspornya, lupa produksi dalam negeri. Jadi, perlu naikkan value added biar impornya tidak tinggi," jelasnya.

Selain itu, perekonomian daerah tumbuh kuat terutama di luar Jawa. Namun demikian, lanjutnya, tetap berhati-hati keberlangsungan daerah-daerah ini tergantung pada harga komoditas dan ini pola pertumbuhan yang parsial. Meskipun begitu, ketahanan ekonomi Indonesia masih kuat dalam menghadapi gejolak perekonomian global. Kondisi ini membuat Perry percaya, ekonomi Indonesia bisa tembus enam persen dalam empat hingga lima tahun ke depan.

Menurut Perry, Indoesia masih optimistis pertumbuhan tinggi, rupiah stabil, inflasi rendah. Ke depan, diyakininya, sepanjang ada kontinyuitas ini bisa ke arah enam persen dalam empat sampai lima tahun ke depan. Disampaikannya, melorotnya perekonomian di China sebagai salah satu pasar tujuan ekspor terbesar, bisa dimanfaatkan bagi Indonesia untuk memperoleh peluang relokasi industri. Pasalnya, kondisi kondisi serupa pernah terjadi di tahun 1980 antara Jepang dan Korea Selatan pada saat krisis Asia.

Pandangan yang sama juga disampaikan Wakil Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta, pertumbuhan ekonomi mencapai 6% pada lima tahun ke depan cukup realistis. Alasannya, pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan pemerintah sangat membantu dalam menarik datangnya investasi masuk ke dalam negeri.”Pertumbuhan ekonomi 6% itu realistis, kuncinya investasi harus tumbuh double digit dan neraca pedagangan kembali positif," tandasnya.

Oleh karena itu, infrastruktur yang dibangun pemerintah ini harus diarahkan agar terkoneksi dengan kawasan industri, sumber energi dan diperkuat dengan teknologi digital. Sementara itu, dia menilai investasi yang masuk perlu diarahkan untuk memenuhi tiga kriteria utama, yaitu menghasilkan devisa, padat karya dan dibangun di luar Jawa.

Di sisi lain, dia menekankan pertumbuhan ekonomi ke depannya tetap harus diikuti oleh strategi pengembangan pertumbuhan berbasis potensi regional sehingga pertumbuhannya tidak hanya tinggi, tetapi juga merata.Sementara Ekonom Indef, Bhima Yudhistira mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di kisaran 6% dalam lima tahun ke depan masih berat.“Meskipun ada infrastruktur tetapi kalau kita masih bergantung pada raw commodity untuk ekspor, struktur ekonomi Indonesia jadi rapuh," ujarnya.

Untuk tumbuh tinggi, dia menilai industri manufaktur yang harus menjadi tulang punggung. Oleh sebab itu, pemerintah harus bisa mencegah deindustrialisasi terlebih dahulu.Selanjutnya, belanja riset dan inovasi oleh pemerintah harus terus ditingkatkan dari saat ini yang hanya 2% dari PDB. Senada dengan KEIN, Bhima mengungkapkan Penanaman Modal Asing (PMA) harus tumbuh lebih dari 10%. Kendalanya, investasi Indonesia terhadap PDB hanya di bawah 10%, tertinggal jika dibandingkan Vietnam yang bisa lebih dari 15%. bani

BERITA TERKAIT

Said Abdullah: Pendekatan Ekonomi dan Keamanan Jadi Lokomotif Penyelesaian Masalah Papua

  NERACA   Jakarta - Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah menegaskan sinergitas antara aspek ekonomi dan…

Realisasi Belanja Modal Indofood Capai 28,57%

NERACA Jakarta –Sampai dengan semester pertama 2019, realisasi belanja modal PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencapai Rp 2,2 triliun…

Penjualan Antam Capai Rp 14,43 Triliun

Pada paruh pertama tahun 2019,  PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan pertumbuhan penjualan bersih unaudited sebesar 22% secara year-on-year (yoy)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ada “Mafia” Dibalik Maraknya Gelandangan dan Pengemis

  NERACA   Jakarta - Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) bukan hanya disebabkan faktor…

UPAYA MEMULIHKAN EKONOMI - Penurunan Suku Bunga Acuan Jadi Pilihan Tepat

NERACA Jakarta – Merespon kebijakan suku bunga The Fed yang sudah melandai, beberapa bank sentral dunia sudah mengambil langkah pelonggaran…

IMPOR MASIH MENDOMINASI - Presiden Ingin Defisit Garam Cepat Diatasi

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo menilai bahwa potensi garam yang dihasilkan di tambak garam Desa Nunkurus Kabupaten Kupang, Nusa…