Inflasi Diprediksi Kembali ke Target Awal - Butuh Waktu 12 Bulan

NERACA

Jakarta--Bank Indonesia (BI) memprediksi perlu waktu sekitar 12 bukan untuk mengembalikan target inflasi pada kisaran 4,5% plus minus 1%. Masalanya pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi angka inflasi bias terdongkrak sampai 7%. “Meski inflasi pada 2012 dapat berada di atas sasarannya, karena dampaknya temporer, inflasi di 2013 diyakini akan kembali pada kisaran 4,5% plus minus 1%,” kata Deputi Gubernur BI, Ardhayadi Mitroatmodjo dalam Rapat Panja A Badan Anggaran DPR, Jakarta,15/3

Lebih lanjut kata Ardhayadi, sejauh ini inflasi masih berada dalam kecenderungan yang menurun, tercatat dari inflasi indeks harga konsumen (IHK) sampai Februari 2012 yang sebesar 0,81% atau secara year on year (yoy) 3,56%. "Inflasi IHK yang rendah tersebut diperkirakan masih akan berlanjut. Karena, ditopang oleh kecukupan pasokan domestik dan harga komoditas global yang dalam kecenderungan menurun," ujarnya.

Menurut Ardhayadi, jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, BI meyakini inflasi masih akan tetap berada pada kisaran 4,5% plus minus 1%. "Namun, jika terdapat kebijakan penyesuaian harga BBM, inflasi dapat melewati sasaran tersebut," ucapnya.

Yang jelas berdasarkan perhitungan BI, kata Ardhayadi lagi, kebijakan menaikkan harga BBM dapat menaikkan angka inflasi mencapai 7 persen. Menurut dia, peningkatan inflasi tersebut berasal dari dampak langsung kenaikan harga BBM dan dampak lanjutan ke barang dan jasa. "Perkiraan kami tersebut juga sejalan dengan kesepakatan dengan Komisi XI DPR dengan pemerintah mengenai asumsi inflasi maksimal 7 persen. Risiko inflasi di 2012 yang bisa melewati 4,5% plus minus 1% tersebut, akibat penyesuaian harga BBM bersubisi memang sulit untuk dihindariutk dihindari," paparnya.

Meski demikian, lanjut Ardhayadi, BI memperkirakan dampak kebijakan pengurangan subsidi BBM terhadap kenaikan harga bersifat sementara. "Berdasarkan pengamatan kami secara bulanan, penyesuaian harga BBM hanya akan diikuti dengan kenaikan tarif transportasi dan kenaikan harga barang dan jasa lainnya akan berlangsung dalam periode tiga bulan setelah kenaikan harga BBM," tuturnya.

Sementara itu, jelas dia, apabila dilakukan perbandingan secara tahunan, angka inflasi baru akan menurun setelah 12 bulan. "Dalam perspektif jangka menengah-panjang, kami juga melihat kebijakan pengurangan subsidi BBM ini akan positif dalam menjaga kesinambungan fiskal, meningkatkan efisiensi perekonomian serta memperkuat kinerja neraca pembayaran," imbuhnya.

Guna mewaspadai prospek inflasi pasca kenaikan harga BBM dan penurunan ekonomi global terhadap ekonomi nasional, jelas dia, BI tengah mengoptimalkan berbagai kebijakan untuk sesuai dengan kondisi fundamental. "Kami akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudential. Respon kebijakan suku bunga akan ditempuh bila di perlukan, guna tetap mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai dengan perkiraan makro ke depan," paparnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dalam upaya mengendalikan inflasi yang bersifat temporer, kebijakan akan difokuskan pada operasi moneter untuk mengendalikan kelebihan likuidtas jangka pendek. "Kami juga akan terus menguatkan koordinasi bersama pemerintah di tingkat pusat dan daerah melalui forum tim pengendalian inflasi di kantor pusat (BI) maupun di daerah," ujarnya. **bari

Related posts