Rupiah Terus Melemah ke Rp9.200/USD

NERACA

Jakarta—Apresiasi nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan belum tanda-tanda menuju penguatan. Rupiah tercatat semakin dekat dengan level Rp9.200 per USD. Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah berada dikisaran Rp9.193 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.147-Rp9.239 per USD. Sementara mengutip Bloomberg, rupiah diperdagangkan dikisaran Rp9.185 per USD dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.165-Rp9.223 per USD. “Namun ekspektasi intervensi BI yang selalu menjaga posisi rupiah diprediksi memberikan ruang gerak apresiasi bagi rupiah," kata Head of Research Treasury Divison BNI Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta,15/3

Menurut Nurul, tingginya corporate demand akan USD cenderung membuat dolar AS terus melanjutkan rally-nya. "Indikasi maraknya spekulan yang membeli dolar AS dalam jumlah besar diprediksi ikut memberi tekanan bagi rupiah," paparnya

Dari dalam negeri, isu inflasi tinggi yang tak kunjung surut cenderung menambah sentimen negatif bagi pergerakan rupiah. "Terlebih meningkatnya level rupiah di pasar valuta asing yang menyentuh level di atas Rp9.200 per USD, potensi menghambat penguatan rupiah," jelasnya.

Sementara analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengungkapkan, mixed-nya pergerakan di pasar Asia membuat rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS.

Ditempat terpisah, analis valuta asing Rully Nova memprediksi pergerakan niai tukar rupiah diprediksi masih dalam kisaran sempit dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. "Pergerakan sempit, cenderung melemah kisarannya Rp9.180-9.200 per USD," katanya

Sebagaimana diketahui, maraknya data positif yang dicatatkan Amerika Serikat (AS) membuat kepercayaan investor akan mata uang tersebut meningkat. Imbasnya, rupiah makin tertekan oleh apresiasi dolar AS. "Data penjualan ritel AS yang positif menguatkan mata uang dolar AS terhadap mata uang euro dan negara emerging market termasuk di Indonesia," katanya.

Faktor lain adalah pertemuan dewan gubernur the Fed mengemukakan perbaikan ekonomi AS sudah dalam jalur yang benar sehingga mendorong investor memegang dolar AS untuk menjaga nilai aset. "Kondisi Yunani yang belum kondusif dan beberapa negara kawasan Eropa yang mengalami kesulitan menghitung angaran belanjanya salah satunya Spanyol membuat investor menahan diri masuk ke pasar emerging market," ungkapnya.

Lebih jauh dijelaskan, China yang mengkoreksi pertumbuhan ekonomi ke depannya menambah sentimen negatif pada pasar keuangan global. Kondisi global belum kondusif, sementara dari dalam negeri belum ada sentimen yang dapat mengangkat rupiah. "Sehingga dolar AS diperkirakan masih akan terus menguat," akunya.

Namun menurutnya, Bank Indonesia (BI) masih berada di pasar untuk menjaga nilai tukar domestik agar tidak dapat menembus level Rp9.200 per dolar AS. "BI cukup aktif menjaga nilai tukar terhadap mata uang asing termasuk dolar AS meski dalam jangka pendek," tandasnya. **cahyo

Related posts