SNB dan RBI Pertahankan Suku Bunga

NERACA

Jenewa--- Bank sentral Swiss (Swiss National Bank/SNB) terus mengusahakan agar nilai franc Swiss tidak terlalu meningkat secara tajam terhadap euro. Karena itu SNB menegaskan siap bertindak secara maksimal. Demikian pula dengan Reserve Bank of India (RBI).

Bahkan SNB mempertahankan kisaran target untuk suku bunga Libor (London interbank offered rate) franc berjangka tiga bulan tidak berubah pada 0%-0,25%, karena pembuat kebijakan berusaha untuk menjaga franc dari lonjakan terhadap mitra utama.

Pernyataan bank sentral mengatakan, mereka siap untuk "membeli dalam jumlah tidak terbatas mata uang" untuk mempertahankan uang Swiss minimal 1,20 franc terhadap euro. Investor resah oleh krisis utang zona euro dan ketidakpastian prospek ekonomi AS, yang telah mendorong mereka berbondong-bondong ke mata uang safe haven di Swiss, menaikkan nilai franc yang merugikan pengekspor Swiss.

Mata uang Swiss menguat 11% terhadap euro dan 15% terhadap dolar antara Januari hingga 5 September 2011, memaksa bank sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk membendung kenaikan tersebut. Sementara itu, di Swiss, tidak ada risiko inflasi di masa mendatang. Perkiraan inflasi bahkan telah direvisi lebih rendah sejak pengujian terakhir pada bulan Desember . "Kekuatan franc terus menyajikan tantangan terhadap perekonomian" Namun, demikian bank menyatakan tingkat 1,20 franc terhadap euro sejauh ini telah bertahan," ujar analis.

Situasi ekonomi Swiss telah stabil dan bank sentral memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar hampir 1,0% pada 2012

Dari Mumbai, dilaporkan Bank sentral India juga berusaha mempertahankan suku bunganya. Hal ini mengingat kekhawatiran tentang risiko inflasi akibat meningkatnya harga minyak mentah. Reserve Bank of India (RBI) mempertahankan suku bunga acuan repo -- suku bunga pinjaman kepada bank komersial -- tidak berubah pada 8,50% dan tingkat suku bunga reverse repo -- suku bunga untuk deposito bank -- pada 7,50%. "Risiko inflasi telah meningkat dari lonjakan terbaru dalam harga minyak mentah, penurunan fiskal dan depresiasi rupiah," kata gubernur bank sentral Duvvuri Subbarao dalam sebuah pernyataan.

Pada saat yang sama, Subbarao juga mengatakan "tidak ada pengetatan (uang) lebih lanjut dibutuhkan dan bahwa tindakan lebih lanjut akan menuju penurunan suku bunga." RBI telah mempertahankan suku tetap sejak akhir tahun lalu, setelah menaikkannya 13 kali sejak Maret 2010, memperlambat ekonomi secara tajam.

Para pemimpin bisnis telah berteriak-teriak untuk penurunan suku bunga guna memacu perekonomian, yang diperkirakan akan tumbuh 6,9% pada tahun berjalan hingga 31 Maret, kecepatan paling lambat pada krisis keuangan global 2008. Tetapi inflasi India melaju cepat secara tak terduga menjadi hampir tujuh persen pada bulan lalu, data menunjukkan Rabu, jauh di atas tingkat kenyamanan bank sekitar lima persen.

Bank sentral pekan lalu sudah menurunkan jumlah uang tunai yang bank umum harus pertahankan dalam cadangan -- untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan pinjaman -- yang analis katakan telah mengurangi kesempatan untuk tindakan pelonggaran lebih lanjut. Ini adalah kali kedua sejak awal tahun, bank sentral telah mengurangi rasio cadangan tunai. "Inflasi masih menjadi sedikit masalah dan harga minyak dunia meningkat," ekonom senior Moody`s Analytics, Glenn Levine mencatat menjelang pengumuman bank sentral. **cahyo

Related posts