Februari Deflasi, BI Yakin Inflasi 2019 Dibawah Target

NERACA

Jakarta - Pergerakan harga konsumen selama Februari yang berbalik menjadi deflasi sebesar 0,08 persen menambah keyakinan bahwa inflasi pada 2019 akan berada di bawah 3,5 persen, atau rentang bawah sasaran inflasi pemerintah dan Bank Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di kantornya, Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa turunnya harga sebagian besar kelompok pangan dan harga barang yang diatur pemerintah, seperti bahan bakar minyak nonsubsidi, telah membantu mengendalikan pergerakan harga barang di bulan kedua ini, meskipun pada Februari di dua tahun terakhir selalu terjadi inflasi.

Pergerakan harga barang yang terkendali pada Februari 2019 ini, diklaim Perry, mengonfirmasi inflasi akhir tahun akan lebih rendah dari titik medium sasaran inflasi. "Akhir tahun ini prediksi BI inflasi akan lebih rendah dari 3,5 persen titik tengah sasaran inflasi 2019," kata Perry. Bank Sentral, kata Perry, sudah mendeteksi deflasi tersebut sejak beberapa pekan di pertengahan Februari 2019.

"Dari pemantauan harga yang disampaikan sebelumnya bahwa memang harga barang dan jasa terus terkendali," ujarnya. Dia menjamin koordinasi BI, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak akan terus memastikan harga terkendali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Deputi Bidang Statistik dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Yunita Rusanti pada Jumat kemarin mengumumkan terjadi deflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (mtm) pada Februari 2019. Pergerakan harga konsumen itu berbalik dari dinamika harga barang jika dibandingkan Februari 2018 yang infasi 0,17 persen (mtm) dan Februari 2017 yang inflasi 0,23 persen (mtm).

Dengan deflasi 0,08 persen di Februari 2019, maka secara tahun berjalan terjadi inflasi 0,24 persen hingga Februari 2019 (year to date/ytd) dan secara tahunan 2,57 persen (year on year/yoy). Yunita mengatakan menurunnya harga Bahan Bakar Minyak non-subsidi pada 10 Februari 2019 lalu dan juga harga komoditas bahan makanan menjadi penyebab deflasi di Februari 2019 yang sebesar 0,08 persen.

"Komoditas yang berikan andil deflasi itu untuk bensin khususnya untuk yang non subsidi, antara lain dari turunnya harga Pertamax, Pertamax Turbo," katanya. Penurunan harga BBM non subsidi ini mengurangi tekanan harga dari berbagai tarif kelompok transportasi. Pasalnya, di kelompok yang sama, tarif transportasi angkutan udara dan transportasi mobil menyumbang inflasi masing-masing 0,03 persen dan 0,01 persen.

Secara keseluruhan, pergerakan harga di kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan terjadi inflasi 0,05 persen dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Penyumbang deflasi lainnya pada Februari 2019 ini adalah kelompok bahan makanan. Pergerakkan harga di kelompok bahan makanan ini terjadi deflasi 1,11 persen.

Komoditas bahan makanan deflasi, ujar Yunita, antara lain daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, bawang merah, cabai rawit, ikan segar, wortel, dan jeruk. "Tidak semua bahan makanan terjadi deflasi, ada juga yang terjadi inflasi antara lain, beras mi kering, mi instan, bawang putih meskipun andilnya kecil 0,01 persen di masing masing komoditas," ujar dia. Dengan dinamika harga tersebut, kelompok bahan makanan menyumbang deflasi 0,24 persen.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Kualitas SDM, Inovasi Goyang Gayo Pemkab Gianyar menuju TOP 45 Sinovik 2019

Tingkatkan Kualitas SDM, Inovasi Goyang Gayo Pemkab Gianyar menuju TOP 45 Sinovik 2019 NERACA Gianyar, Bali - Mewujudkan sumber daya…

Milenial Makin Tinggi Kesadarannya Terhadap Lingkungan - Bincang Lingkungan di PLK 2019

Milenial Makin Tinggi Kesadarannya Terhadap Lingkungan Bincang Lingkungan di PLK 2019 NERACA Jakarta - Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya kelompok…

Ajang Promosi Produk Unggulan KUMKM Indonesia - Harkopnas Expo 2019

Ajang Promosi Produk Unggulan KUMKM Indonesia Harkopnas Expo 2019 NERACA Purwokerto - Kementerian Koperasi dan UKM mendukung penuh upaya penguatan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

LIPI : UU Sisnas Iptek Lompatan Besar Dunia Iptek

    NERACA   Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia optimistis keberadaan Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…

Dua Tantangan Perpajakan Di Era Ekonomi Digital

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi Direktorat…