Tanoto Foundation - Tingkatkan Kepedulian ke Dunia Pendidikan

NERACA

Tanoto Foundation menggelar Tanoto Photo Competition demi mencari solusi atas kualitas pendidikan melalui medium foto yang ditayangkan oleh media.

Tanoto Foundation menggelar Tanoto Competition dengan tema “Perjuangan Mengenyam Pendidikan” bagi pewarta foto dari media lokal dan nasional Indonesia. Founder/Executive Director LSPP Ignatius Haryanto mengatakan, Tanoto Photo Competition menerima lebih dari 150 karya foto dan ini sangat menggembirakan sekali. "Ratusan foto yang kami terima menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia dengan beragam perspektif."

Hasil karya foto yang diterima, kata Ignatius, merekam dengan jelas mengenai masalah pendidikan yang menjadi perhatian publik di antaranya sarana fisik sekolah atau infrastruktur, kualitas sumber daya manusia baik guru maupun murid, kesejahteraan guru yang masih rendah dan lain sebagainya.

Dari ratusan foto yang masuk, tim juri yang terdiri dari Arbain Rambey, Darmaningtyas dan Sinartus Sosrodjojo telah memutuskan pemenang kompetisi, yaitu Anis Efizudin dari Antara (Magelang) dengan judul foto “Gendong Pelajar” sebagai juara I, Andri Mediansyah dari Pos Metro (Batam) dengan judul foto “Mendayung Asa” sebagai juara II, Ichwan Prihantoro dari Radar Solo (Solo) dengan judul “Angkutan Banjir” sebagai juara III, dan P. Raditya Mahendra Yasa dari Kompas (Jakarta) dengan judul foto “Berangkat Sekolah” sebagai juara IV.

“Selamat bagi para pemenang Tanoto Foto Competition. Melalui foto-foto ini kita dapat melihat, saat ini banyak sekali keterbatasan pada akses menuju pendidikan yang berkualitas, terutama di daerah terpencil,” kata Head Tanoto Foundation Sihol Aritonang.

Melalui Tanoto Photo Competition, katanya, dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia dengan isu-isunya yang sangat kompleks melalui medium foto yang ditayangkan oleh media, sehingga kita bisa bersama-sama mencari solusi atas kualitas pendidikan di Indonesia.

Fakta Yang Ada

Foto dengan judul Gendong Pelajar mengisahkan seorang relawan yang menggendong pelajar menyeberangi aliran sungai Pebalan di Desa Tlatar, Dukun, Magelang, Jateng. Dari foto yang ditangkap Anis dapat terlihat bahwa sebagian besar pelajar dikawasan ini kesulitan untuk pergi sekolah akibat semua jembatan ambrol diterjang lahar dingin.

Masalah pendidikan lainnya juga terekam jelas melalui kamera Andri. Foto dengan judul Mendayung Asa mengisahkan tentang tiga sampan yang berisi sekelompok pelajar SD di Kampung Madong, Tanjungpinang. Dari tempat tinggalnya, para pelajar harus menempuh dan mendayung sampan setidaknya 30 menit perjalanan untuk tiba disekolah. Hal ini berlaku jika air surut. Jika pasang, mereka harus menempuh perjalanan lebih lama karena harus melawan arus.

Sedangkan foto yang dihasilkan oleh Ichwan mengisahkan tentang warga Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres. Mereka terpaksa menggunakan gerobak untuk mengantar seorang anak sekolah menerobos genangan air. “memang ditempat itu setiap tahunnya selalu terjadi banjir,” kata Ichwan yang mengaku lahir di daerah tersebut.

Tak berhenti sampai di situ, kesulitan fasilitas dan infrastruktur juga diungkap oleh foto yang pernah dipublasikan di Harian Kompas 12 Januari lalu. Foto yang dihasilkan oleh Raditya menceritakan tentang seorang anak bernama Mohammad Riska (10 tahun) sedang berangkat sekolah. Untuk sampai ke sekolah, Mohammad Riska harus menyusuri jalan setapak sepanjang 200 meter yang hilang karena abrasi di Desa Bendono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jateng.

Menanggapi hal itu, perwakilan dewan juri Arbain Rambey mengatakan bahwa masih banyak masalah pendidikan di Indonesia yang terekam jelas melalui kamera pewarta foto, kesulitan fasilitas dan infrastruktur masih mendominasi kondisi kualitas pendidikan di daerah rural. “kami sebagai tim juri, sangat berharap bahwa foto-foto ini dapat menggugah pemerintah dan juga masyarakat Indonesia untuk mencari solusi terbaik agar generasi muda kita dapat menikmati pendidikan sebagai mana mestinya,” kata dia.

Sihol mengungkapkan, perjuangan mengenyam pendidikan juga pernah dialami oleh founder Tanoto Foundation, Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto. “Pak Sukanto terpaksa putus sekolah di usia 17 tahun karena harus meneruskan bisnis ayahnya agar adik-adiknya dapat terus sekolah. Namun beliau terus berjuang mengenyam pendidikan dengan belajar sendiri dari sumber yang terbatas seperti majalah, surat kabar, dan sebagainya. Pak Sukanto merasakan kepahitan ini sehingga beliau tidak ingin anak-anak Indonesia yang kurang mampu menjadi tidak dapat mengenyam pendidikan, oleh karena itulah Tanoto Foundation didirikan sebagai pusat unggulan untuk mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas hidup,” tambahnya.

Related posts