Spons Tempat Bakteri Berkembang

NERACA

Penyajian makanan dan minuman yang berkualitas merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kesehatan. Makanan yang berkualitas bukan hanya dilihat dari kandungan zat gizinya saja melainkan juga proses persiapan makanan, seperti kebersihan tempat penyajian makanan, ternyata bahan yang digunakan untuk pembersih cuci piring tempat berkembangnya bakteri.

Brand Manager Sunlight Risyantie Wulansari dalam acara seminar edukasi mengenai kualitas penyajian makanan dan minuman serta pentingnya meningkatkan higienitas dapur. mengatakan, secara umum, bakteri yang ada pada spons tidak membuat Anda sakit, tapi beberapa (seperti salmonella dan E. coli) dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Untuk mengatasinya, panaskan spons Anda selama dua menit di microwave dan menggantinya setiap dua minggu sekali.

Dapur tempat memasak sekaligus tempat untuk membersihkan peralatan memasak yang kotor sehabis digunakan, seberapa banyak mengandung bakteri. Dapur Anda bisa saja menyimpan ribuan zat dan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Apa yang Anda sentuh atau hirup di dapur, bisa saja membuat sakit.

Keberadaan bakteri ini sangat memungkinkan terjadinya kontaminasi pada perabot yang dicuci. Risiko kontaminasi meningkat jika alat makan dicampur dengan alat untuk mengolah daging, seperti pisau atau talenan. Kuman dari daging bisa menempel ke peralatan lain.

Itu masih ditambah bakteri dari spon. Baiknya, pakai talenan yang berbeda dalam mengolah daging dan sayuran. Bahayanya, saat tubuh ikut terkontaminasi kuman, maka menimbulkan penyakit seiring dengan menurunkan kekebalan tubuh.

“Bila satu Spons dipakai untuk segala keperluan risiko kontaminasi bakteri akan meningkat. Ini berisiko tinggi pada orang yang kekebalannya rendah seperti anak-anak dan orang lanjut usia.”

Ahli Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Rachmadhi Purwana mengatakan, ”Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak dengan cepat pada dapur yang lembab, peralatan yang disimpan pada saat belum kering, bahan makanan yang tidak dibersihkan dengan benar, bahkan dapat juga tumbuh pada bak cuci piring dan spons yang digunakan untuk mencuci piring.”

Mikroorganisme tersebut antara lain Staphylococcus Aureus dan Pseudomonas spp yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Sayangnya, banyak konsumen yang belum mengetahui dan memahami hal tersebut.

Sedangkan, untuk menjaga higiene dalam penyajian makanan dan minuman di rumah sakit, pemerintah telah menetapkan standar yang berlaku yaitu melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1204/SK/X/2004 mengenai persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit yang salah satu cakupannya adalah higiene dan sanitasi makanan dan minuman.

Lili Agustina dari RS Premier Bintaro yang mewakili anggota PERSI mengatakan, “Di Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB), kami mengolah dan menyajikan makanan secara in-house, tanpa bantuan jasa katering. Oleh karena itu tidak dapat dihindari bahwa peralatan makan yang digunakan bergantian dengan pasien yang lain."

Petugas yang memasak pun berganti-ganti sehingga diperlukan suatu standar higienitas untuk membersihkan dan merawat peralatan tersebut. Hal itu membuat kami sanggat menaati standar pemerintah.

Lanjutnya, bahkan dalam pelaksanaanya kami diawasi oleh suatu badan auditor independen yang secara berkala memastikan bahwa kondisi dan sanitasi dapur, peralatan makanan dan memasak, petugas dapur, hingga pemilihan sabun pencuci piring kami memenuhi standar yang ditetapkan.

Sedangkan, penelitian yang dilakukan oleh Unilever Indonesia telah membuktikan bahwa selain teruji dapat mengurangi pertumbuhan bakteri pada peralatan makanan dan masakan. Sunlight dapat membunuh kuman yang berkembang dalam suhu yang sanggat rendah, mengingat kuman yang berkembang biak di rumah sakit lebih bandel daripada kuman yang ada di rumah tangga.

Related posts