Citigroup Tidak Lolos Stress Test Bank Sentral AS - LABA BERSIH CITIBANK JEBLOK

Jakarta – Siapa yang menduga jika sebuah bank ternama asal Amerika Serikat, Citigroup, gagal lolos dari uji stress test yang dirancang regulator setempat (The Fed). Ini menunjukkan tingkat kecukupan modal bank asing untuk bisa bertahan dari guncangan keuangan akibat krisis global diragukan. Sementara di Indonesia, keuntungan bersih operasi Citibank hngga akhir 2011 menurut data Bank Indonesia, diketahui menurun 19,71% dari tahun sebelumnya.

NERACA

Citigroup memang tidak sendirian, ada tiga institusi keuangan lainnya yang bernasib serupa. Mereka adalah SunTrust, Ally Financial dan MetLife. Keempat bank tersebut tampaknya rupanya tidak memiliki cukup modal untuk bertahan hidup saat krisis global masih berkecamuk.

Bank Sentral AS (The Fed) menurut situs CNBC.com kemarin, 15 dari 19 bank yang di-stress test berhasil lolos dari ujian ini. Semua bank diuji dari posisi terkuat mereka pasca dihantam krisis keuangan 2008 hingga saat ini.

Citibank merupakan bank ketiga urutan terbesar di Amerika. Pihak regulator memaparkan, Citigroup hanya memiliki rasio modal Tier I sebesar 4,9%. Kemudian Ally Financial dan MetLife masing-masing 4,4% dan 4,8%. Sedangkan MetLife di level 6% dengan catatan diukur sedikit berbeda dengan bank yang lain.

Di sisi lain, laporan publikasi keuangan Citibank yang dirilis Bank Indonesia terungkap, laba bersih bank asing itu merosot 19,71% yaitu dari Rp 2,201 triliun (2010) menjadi Rp 1,776 triliun pada akhir 2011. Sementara kredit yang disalurkan dalam periode yang sama juga turun dari Rp 26,826 triliun menjadi Rp 26,329 triliun (lihat tabel).

Tidak Kuat

Secara terpisah, Corporate Affairs Citi Indonesia Mona Monika mengatakan, The Fed baru saja mengumumkan hasil skenario hipotesis uji tekanan pada keadaan darurat. Hasilnya menunjukkan bahwa Citi lolos stress test tersebut tanpa melakukan penambahan dividen.

Perlu diketahui bahwa kekuatan permodalan Citi adalah salah satu yang tertinggi di industri - rasio Tier 1 Common Capital sampai akhir tahun lalu adalah 11,8%. Rasio permodalan Citi bedasarkan stress test adalah 5,9% - di atas rasio minimum sebesar 5%.

“Ketika rencana Citi untuk memberikan tambahan dividen (return capital) diperhitungkan dalam stress test, Federal Reserve mengkalkulasikan rasio permodalan Citi sebesar 4,9% dimana dibawah rasio minimum dari stress test tersebut,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (14/3).

Jadi, tanpa rencana pemberian tambahan dividen tersebut maka Citi telah berhasil melalui skenario stress test yang dilakukan oleh Federal Reserve. Oleh karena itu Citi akan mengajukan kembali perbaikan dari rencana permodalan kepada Federal Reserve tahun ini sesuai ketentuan yang berlaku

Adapun kedudukan Citi Indonesia saat ini bahwa kinerja dan pertumbuhan kami bagus. Rasio Kecukupan modal Citi Indonesia adalah 24,76%.

Menurut Achmad Deni Daruri, President Director of Center for Banking Crisis, gagalnya Citigroup menjalani uji tekanan yang ditujukan sebagai uji coba ketahanan atas gangguan keuangan yang dilakukan oleh Bank sentral AS, mengindikasikan kekuatan modal yang dimiliki Citigroup tidak kuat atau boleh dikatakan pengelolaan masih terbilang buruk.

Lebih jauh lagi Deni memaparkan,Citigroup bukan hanya kali ini saja mengalami kemunduran modal,dulu di 2008 Citigroup juga pernah mengalami namun langsung mendapatkan bailout dari pemerintah Amerika Serikat.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, dengan adanya uji terhadap Citi yang dikatakan tidak tahan terhadap uji ketahanan terhadap krisis membuat banyak nasabah Citibank yang merasa was-was. “Memang itu sudah alamiah kalau induknya kena masalah maka anaknya juga ikut terkena masalah,” ujarnya, kemarin.

Akan tetapi, menurut dia, hal itu tidak akan terjadi karena pemerintah AS tidak akan membiarkan bank sebesar Citigrup mengalami kolaps karena dampaknya terlalu besar.

Farial mengingatkan, jangan terlalu kagum terhadap perbankan Amerika. “banyak orang Indonesia yang menaruh uangnya pada bank-bank asing, tapi buktinya adalah bank asing tidak terlalu kuat untuk mengarungi badai krisis. Ini menandakan sistem perbankan Amerika masih bodoh karena tidak mengelola uangnya dengan benar. Mereka lebih banyak utangnya dari pada profit,” tegasnya.

Setiap Tahun

The Fed melakukan tes terhadap bank setiap tahun. Tapi ini adalah pertama kalinya sejak 2009 Fed akan merilis hasilnya kepada publik. Pada tahun 2009 Fed menemukan miliaran dolar AS dana yang tidak mencukupi (insufficient fund) pada neraca bank. Tes dirancang untuk memastikan bahwa bank memiliki cukup uang tunai dan setara kas seperti saham untuk menahan kerugian akibat bencana krisis keuangan.

The Fed ingin bank menjadi cukup kuat untuk terus meminjamkan uang kepada masyarakat Amerika dan kalangan bisnis. The Fed dapat menghentikan bank dari membayar dividen saham atau membeli kembali saham mereka sendiri jika mereka gagal tes.

Stress test harus dapat menggambarkan kemampuan bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dalam kondisi krisis, yang didasarkan pada berbagai skenario. Penetapan cakupan dan frekuensi stress test harus sesuai dengan skala dan kompleksitas usaha, serta eksposur risiko likuiditas bank. bari/iwan/ahmad/fba

Related posts