Lima Tantangan Asuransi Lokal Menghadapi Persaingan Global

NERACA

Total aset industri asuransi pada 2011 meningkat 20,95% menjadi Rp 286,24 triliun dari 2010 sebesar Rp 236,66 triliun, menurut Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), peningkatan aset industri asuransi ini lebih banyak didorong oleh asuransi jiwa.

Apabila dibandingkan lebih ke belakang lagi, industri asuransi baik umum ataupun jiwa, mencatat prestasi mengesankan pada tahun 2010 , dengan total aset mencapai Rp 236,66 triliun. Jumlah tersebut meningkat hingga 30,7% dibanding periode sebelumnya yang sebesar Rp 181,81 triliun (2009).

Namun di tengah kondisi tersebut, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Nurhaida menilai, industri asuransi masih perlu berbenah. Terlebih dengan tantangan global yang menjadikan pelaku dituntut bersaing ketat, tidak hanya dengan asuransi lokal, tapi pelaku asing atau joint venture.

“Dengan persaingan ketat, ini menjadi tantangan dan perlu luruskan visi bersama,” ucap Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Nurhaida di Hotel Four Season, medio tahun lalu. Agaknya pernyataan Nurhaida itu, tetap berlaku dalam kondisi sekarang setelah Indonesia mendapat peringkat investment grade.

Nurhaida mengingatkan setidaknya lima tantangan yang harus menjadi pekerjaan rumah industri asuransi.

Pertama adalah masalah permodalan.

“Perlu kita pahami bersama bahwa ini penting. Dengan modal yang kuat maka apapun bisa dilaksanakan. Harus ada pemenuhan kebutuhan minimal modal. Yang masih di bawah Rp 50 miliar atau Rp 100 miliar,” tutur Nurhaida.

Kedua adalah masalah sumber daya manusia. “Salah satu keberhasilan asuransi bukan hanya sistem informasi. Tapi juga sumber daya manusia. Jika perlu terspesialisasi,” katanya.

Ketiga, masih rendahnya kesadaran pentingnya asuransi bagi masyarakat. “Kejadian rendahnya penetrasi, bisa disebabkan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang masih belum memadai. Umumnya produk asuransi kenal pada pendidikan yang memadai. Untuk itu edukasi ke semua lini penting. Mereka harus sadar, dalam hidup penting menginvestasikan asuransi di masa depan,” ujarnya.

Keempat, minimnya produk asuransi untuk masyarakat bawah. “Produk asuransi masih didominasi oleh masyarakat atas (golongan mampu). Yang ada di pasaran, tingkat premi dan pertanggungan masih tinggi. Sehingga penduduk tengah dan bawah, yang jumlahnya relatif banyak belum bisa disentuh. Padahal seluruh masyarakat mempunyai kebutuhan yang sama dalam asuransi, untuk mengelola risiko mereka. Ini tantangan untuk semua, regulator atau pelaku industri,” tutur Nurhaida.

Kelima, asuransi masih berpusat di kota-kota besar. “Ini sejalan dengan poin empat. Karena kota-kota besar masih dihuni masyarakat sedang-atas. Sedangkan masyarakat bawah memang cenderung di daerah. Kita harap semua teratasi, dan dapat diikuti seluruh lapisan masyakat,” imbuhnya.

Sinarmas Terbesar

Kesepakatan antara PT Asuransi Sinarmas dengan Mitsui Sumitomo Insurance Co Ltd, akan membuat PT Sinarmas Multiartha Tbk, menjadi perusahaan asuransi bermodal terbesar di Indonesia.

Menurut siaran pers PT Asuransi Jiwa Sinarmas, inti kesepakatan antara kedua belah pihak adalah rencana penerbitan saham baru Asuransi Jiwa Sinarmas senilai Rp7 triliun (JPY 66,7 miliar) yang akan dibeli sepenuhnya oleh Mitsui Sumitomo Insurance Co Ltd.

Dengan demikian komposisi kepemilikan saham di Asuransi Jiwa Sinarmas adalah Sinarmas Multiartha Tbk, sebesar 50% dan sisanya dimiliki Mitsui Sumitomo Insurance Co Ltd.

Jalinan kesepakatan itu akan berlaku efektif setelah mendapatkan persetujuan dari Departemen Keuangan.

Asuransi Jiwa Sinarmas akan menjadi perusahaan utama dalam penyedia jasa perencanaan dan perlindungan keuangan di Indonesia dengan bergabungnya Mitsui Sumitomo Insurance Co Ltd, yang sudah mempunyai pengalaman global.

Selain itu, perusahaan dapat memperkuat permodalan perusahaan dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghadapi dan memenangkan persaingan Global.

Modal Rp 8,5 triliun, akan digunakan PT Asuransi Jiwa Sinarmas untuk ekspansi bisnis melalui semua lini usahanya, yaitu agency, bancassurance, corporate, serta direct & telemarketing dan electronic distribution.

Modal ini juga akan digunakan untuk menciptakan produk baru yang dibutuhkan semua lapisan masyarakat.

Di samping itu, perusahaan juga memprioritaskan peningkatan kemampuan pelayanan kepada seluruh pemegang polis (nasabah) dengan dukungan seluruh staff dan teknologi yang andal.

Pendapatan premi Asuransi Jiwa Sinarmas pada 2010 mencapai Rp 9,2 triliun, naik dari tahun 2009 hanya Rp7,1 triliun dan total aset perusahaan naik dari Rp 7,84 triliun menjadi Rp11,45 triliun pada periode yang sama.

Ekuitas perseroan juga membaik menjadi Rp 1,5 triliun dari Rp 913 miliar dan total aset mencapai Rp11,45 triliun dari Rp7,84 triliun.

Laba bersih naik menjadi Rp542,5 miliar dari sebelumnya Rp234 miliar.

Investasi Asuransi

Meskipun penetrasi asuransi di Indonesia dan pengeluaran asuransi jiwa per kapita masih sangat rendah dengan pertumbuhan jumlah kelas menengah yang meningkat 56,5% selama kurun waktu 2003-2010, investasi PMA di bidang asuransi dalam beberapa tahun terakhir tidak menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Namun dengan peringkat investment grade yang diberikan oleh Fitch dan Moody’s, tentu akan membuat kondisi itu berubah.

“Kami perkirakan akan lebih banyak perusahaan asing yang akan masuk ke Indonesia,” kata seorang eksekutif perusahaan asuransi yang tidak bersedia disebut namanya.

Sebagai contoh, katanya, AXA yang berpatungan dengan Bank Mandiri mengakuisisi asuransi Darmabangsa membentuk Mandiri Axa General Insurance(MAGI) dengan modal awal Rp 100 miliar.

Sebelumnya Bank Mandiri telah memiliki asuransi jiwa patungan, PT Axa Mandiri Financial Services. Sebelum itu, Agustus 2011, Mitsui Sumitomo Co Ltd (MSIG) berpatungan dengan Asuransi Jiwa Sinarmas.

Dengan akuisisi senilai Rp 7 triliun, modal terdongkrak dari Rp 1,5 triliun pada akhir tahun lalu menjadi sebesar Rp 8,5 triliun.

MSIG mengantongi 50% kepemilikan saham AJ Sinarmas dari induk usahanya Sinarmas Multiartha. Dalam lima tahun ke depan, AJ Sinarmas MSIG mematok target penambahan tenaga agen berlisensi dari sekitar 4.000 orang menjadi 100.000 orang, termasuk melebarkan jaringan pemasaran dari sekitar 100 unit menjadi minimal 500 unit.

Jumlah perusahaan asuransi asing (joint venture) jiwa dan umum hingga saat ini berjumlah 38, masing-masing 18 perusahaan asuransi jiwa dan 20 perusahaan asuransi umum, berkurang tiga perusahaan asuransi jiwa dan satu asuransi umum sejak 2003. Tak sedikit pula investor asing dalam industri asuransi yang keluar dari Indonesia setelah menjalankan bisnis mereka bertahun-tahun di sini.

Awal November lalu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengeluarkan pembatasan kegiatan usaha (PKU) terhadap empat perusahaan asuransi umum dan tiga perusahaan asuransi jiwa karena tidak dapat memenuhi persyaratan modal minimum sebesar Rp 40 miliar yang diatur dalam PP 81/ 2008 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian. Namun, langkah itu tidak juga mengundang minat akuisisi oleh investor asing.

Studi permodalan asing perusahaan asuransi yang dilakukan Tim Bapepam LK Kementerian Keuangan (2008) menunjukkan, modal asing mempunyai hubungan yang kuat dan positif terhadap tingkat kesehatan, peningkatan kemampulabaan, dan kemampuan perusahaan meningkatkan premi bruto.

PP 73/1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian membatasi kepemilikan asing hingga 80%. Hal ini didasari oleh semangat untuk mendorong masuknya investasi asing sebagai pemicu pertumbuhan permodalan bisnis asuransi domestik. Pascakrisis 1998, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan melalui PP 63/1999 yang memberikan kebebasan luas bagi masuknya investasi asing ke Indonesia dengan syarat batas kepemilikan lokal tidak boleh berkurang daripada sebelumnya.

Sekalipun dominasi asing semakin besar dalam pangsa pasar asuransi jiwa, tidak demikian halnya dengan asuransi umum. Perlu ada insentif, baik fiskal maupun nonfiskal agar terjadi proses konsolidasi permodalan asuransi dengan kehadiran modal asing yang lebih besar. Langkah seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam menyambut kembalinya status investment grade yang pernah kita miliki pada 1997.

(agus/dbs)

Related posts