BEI Terapkan Sistem Auto Rejection Waran

NERACA

Jakarta – Dalam waktu dekat, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan sistem penolakan secara automatis atau auto rejection terhadap pembelian waran dengan harga penawaran melebihi atau sama dengan harga saham induk.

Direktur Pengawasan Transaksi dan kepatuhan BEI, Kristian S. Manullang mengatakan, sistem auto rejection tersebut direncanakan akan berlaku pada minggu kedua Maret 2019.”Peraturan Perdagangan II A sudah berlaku, tapi diimplementasikan Maret ini setelah penyesuaian sistem JATS kita dan setelah kita tes dulu dengan anggota Bursa,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Walau sudah diterapkan, Kristian tidak bisa memastikan harga waran akan selalu berada di bawah level harga saham induk. Pasalnya, harga saham induk dapat turun sedangkan harga waran tetap.“Jadi implementasi ini mencegah hampir 80% kemungkinan harga saham selalu lebih tinggi dari waran,” kata dia.

Jika hal itu terjadi, jelas dia, maka bursa akan menganalisa dampaknya terhadap pasar. Hanya saja, sebagai langkah awal, Bursa akan mengumumkan unusual market activity (UMA) dan penghentian sementara (Suspend) perdagangan untuk waran tersebut.“Suspend bagi waran lebih tinggi dari saham induk tetap kita terapkan, tapi kita lihat dampaknya ke pasar,” jelas dia.

Pada hari bersamaan, BEI menghentikan sementara perdagangan dua seri waran PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) mulai sesi I perdagangan Kamis (21/2). Dua seri waran ini adalah BABP-W2 hanya untuk satu sesi dan BABP-W3 hingga pengumuman lebih lanjut. Lidia M. Panjaitan, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, sehubungan dengan transaksi efek waran seri III Bank MNC (BABP-W2) dimana harga transaksi waran tersebut lebih besar daripada harga saham BABP pada perdagangan tanggal 20 Februari, maka BEI perlu melakukan penghentian sementara perdagangan efek waran seri III Bank MNC (BABP-W2) di pasar reguler dan pasar tunai pada sesi I tanggal 21 Februari 2019 selama satu sesi perdagangan.

Dirinya menjelaskan, penghentian sementara perdagangan efek BABP-W2 ini dilakukan dengan tujuan memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasi pada efek BABP-W2. "Sehubungan dengan transaksi efek waran seri IV Bank MNC (BABP-W3), dimana harga transaksi waran tersebut lebih besar daripada harga saham BABP pada perdagangan tanggal 20 Februari, maka BEI perlu melakukan penghentian sementara perdagangan efek waran seri IV BABP-W3 di pasar reguler dan pasar tunai mulai sesi I perdagangan tanggal 21 Februari sampai dengan pengumuman bursa lebih lanjut," ungkap Lidia.

Asal tahu saja, BEI telah menghentikan perdagangan waran seri IV BABP-W3 pada sesi II perdagangan Selasa (19/2) selama satu sesi karena lonjakan harga. Setelah satu sesi, kemarin BEI membuka kembali perdagangan waran BABP-W3.

BERITA TERKAIT

Penjualan Mobil Astra International Turun 6,7%

NERACA Jakarta – Bisnis otomotif yang masih lesu masih dirasakan PT Astra International Tbk (ASII). Dimana emiten produsen otomotif ini…

Bidik Pasar Millenials - Topping Offf Emerald Bintaro Tepat Waktu

NERACA Jakarta- Menyusul serah terima kunci apartemen A yang tepat waktu di tahun lalu, PT Jaya Real Property Tbk sebagai…

Laba Bersih Unilever Terkoreksi 24,37%

NERACA Jakarta – Pencapaian kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk di kuartal tiga tercatat negatif. Dimana perseroan dalam laporan keuangannya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pangsa Pasar Menyusut - Volume Penjualan Rokok HMSP Terkoreksi 5,7%

NERACA Jakarta - Keputusan pemermintah yang akan menaikkan cukai rokok rata-rata sebesar 23% mulai Januari 2020 menjadi ancaman terhadap pertumbuhan…

Bekasi Fajar Raup Pendapatan Rp 607,61 Miliar

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) membukukan pendapatan Rp 607,61 miliar. Jumlah…

Usai Pelantikan Presiden Terpilih - Pelaku Pasar Menantikan Tim Kabinet Ekonomi

NERACA Jakarta- Sentimen positif pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Indonesia priode 2019-2024 masih menyelimuti pergerakan indeks harga saham gabungan…