Torehan Positif Keuangan Negara

Oleh: Ambara Purusottama

School of Business and Economics Universitas Prasetiya Mulya

Pemerintah mampu menorehkan prestasi gemilang dalam pengelolaan keuangan negara. Kinerja APBN 2018 terbilang cukup kinclong untuk ukuran Indonesia yang sudah lama tidak menorehkan catatan yang menggembirakan. Kinerja pendapatan negara mampu melebihi ekspekstasi dan rencana 2018 dengan pencapaian 102,5%, sedangkan belanja negara mampu mencatatkan 99,2%. Defisit APBN pun jauh melebihi harapan dengan 1,76% dari PDB nasional. Dari semua pencapaian tersebut terdapat sedikit cela yang harus dibenahi seperti pencapaian pajak yang masih belum sesuai target atau 92%. Prestasi ini memang patut menjadi kebanggaan karena pertama kalinya dalam 15 tahun negara ini tidak mengajukan perubahan APBN.

Prestasi ini memang perlu mendapatkan apresiasi lebih dikarenakan banyak tekanan yang dihadapi, baik global maupun nasional. Kebijakan AS sebagai negara superior dan juga perang dagang yang dikumandangkan AS terhadap China membuat ketidakpastian global semakin tinggi. Tentunya perilaku tersebut berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Berbagai kebijakan perlu kembali disesuaikan untuk menyerap ketidakpastian dan juga memanfaatkan peluang yang muncul. Harga komoditas, arus modal, dan nilai tukar menjadi harga yang harus diterima Indonesia akibat tekanan global. Ekspor bahan baku Indonesia ke China dan AS praktis anjlok karena Cina menahan produksinya yang diekspor ke AS dan juga sebaliknya.

Dari dalam negeri, perekonomian domestik lebih ditekan oleh impor yang melonjak. Impor pada tahun 2018 mengalami kenaikan tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini perlu dipahami karena konsumsi masyarakat yang terus meningkat dan menjadi pondasi utama perekonomian nasional. Aktivitas tersebut tidak diimbangi dengan ekspor. Meskipun mengalami peningkatan, ekspor nasional tidak mampu mengimbangi impor sehingga defisit neraca perdagangan pun tidak dapat dihindari. Tingginya impor berimbas pada nilai tukar rupiah yang tertekan sepanjang tahun 2018. Untuk tetap menjaga keseimbanagan beberapa kali pemerintah melakukan intervensi terhadap impor nasional.

Ekspor Indonesia sedikit terhambat karena perundingan yang alot terhadap ekspor minyak sawit ke Uni Eropa yang berkepanjangan. Seperti diketahui Uni-Eropa meningkatkan pembatasan penggunaan minyak sawit yang kebanyakan datang dari Indonesia dan Malaysia dengan alasan sustainability. Penanaman kelapa sawit dianggap merusak lingkungan karena tanaman tersebut menyerap unsur hara yang berlebihan. Dari perspektif eksportir, ini merupakan cara untuk proteksi hasil bumi yang dihasilkan oleh Uni-Eropa karena tidak mampu bersaing dengan produktivitas kelapa sawit. Tanaman-tanaman penghasil minyak nabati di Eropa merupakan tanaman musiman sedangkan kelapa sawit merupakan tanaman tahunan.

Di tengah torehan istimewa pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara, namun muncul pendapat yang kurang mengenakkan. Beberapa pihak menganggap pencapaian positif tersebut tidak disuplai dengan data yang sah dan menganggap bermuatan politis karena masuk tahun politik. Disaat yang sama, ekonom kenamaan menekankan bahwa pencapaian APBN 2018 sudah dapat dipastikan karena kondisi yang mendukung seperti kenaikan harga sawit. Pada dasarnya, argumentasi tersebut perlu dibuktikan karena indikator ekonomi nasional terbilang cukup moncer. Namun kritikan yang datang dapat dijadikan motivasi untuk membuktikan bahwa pencapaian dicapai dengan kerja keras dan konsistensi.

BERITA TERKAIT

Soal Sentimen Pemilu - BEI Lebih Cemas Kinerja Keuangan Emiten

NERACA Jakarta – Memanasnya konstelasi politik dalam negeri jelang pemilihan presiden (Pilpres) pada awal April 2019, diyakini tidak akan terlalu…

Menata Utang Negara

Persoalan utang luar negeri Indonesia tidak terlepas dari perjalanan siklus kepemimpinan dari masa ke masa. Pemerintahan Jokowi-JK akhirnya kini menanggung…

Program Minapadi Indonesia Sudah Dipelajari 13 Negara

NERACA Jakarta – Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyatakan, program minapadi yaitu penggabungan budi daya…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Menjawab Kasus Kartel

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef Dalam diskusi tempo hari, penulis sudah membeberkan fakta-fakta yang memperkuat dugaan penulis tentang adanya kartel…

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…

Mengapa Ekspor dan Kenapa Risaukan Impor?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ekspor dan impor sama pentingnya dalam perekonomian sebuah bangsa. Kita dididik take…