Bapepam-LK Siapkan Kemudahan Investasi di Pasar Modal

Neraca

Jakarta – Industri pasar modal dalam negeri belum memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Bila dibandingkan dengan pasar modal di Singapura atau Hong Kong, kondisi di Indonesia memang masih tertinggal jauh. Hal ini memaksa Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk terus menarik minat calon investor pasar modal dan termasuk minta dukungan dari Kamar Dagang Indonesia.

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida mengatakan, dukungan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dinilai penting untuk mensosialisasikan industri itu ke pengusaha. "Mau tidak mau kita akui jika kalangan usaha belum kenal dengan pasar modal. Kita akan sosialiasasi di dunia usaha, kita harap Kadin ikut membantu,” katanya di Jakarta, Rabu (14/3).

Menurutnya, ada beberapa alasan pelaku dunia usaha belum masuk ke industri pasar modal, salah satunya belum memahami industrinya. Selain itu, lanjut dia, terkait dengan masalah perpajakan, hal itu masih menjadi suatu yang menakutkan bagi pelaku usaha untuk masuk ke pasar modal.

Oleh karena itu, dia berharap adanya pertemuan dan diskusi dengan pelaku usaha agar pasar modal dapat berkembang lebih baik legi ke depannya. "Kita terus sosialisasi, Bapepam-LK juga berharap adanya pertemuan dan diskusi dengan pelaku usaha," ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan e-registration, yakni penyertaan pendaftaran berbasis elektronik bagi penerbitan efek. Dengan e-registration, perusahaan atau emiten akan diberikan alternatif dalam proses penerbitan efek.

Menurutnya, dengan adanya penyederhanaan untuk pendaftaran dapat menjadi alternatif sehingga mampu menggalang dana di kalangan pengusaha di pasar modal, sehingga dapat menimbulkan efisiensi. "Ini bisa jadi alternatif penggalangan dana di kalangan pengusaha," tegasnya.

Nurhaida juga mengakui, rasio pembiayaan dari pasar modal, seperti obligasi, terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah, yakni sebesar 50%, dibandingkan negara-negara seperti Singapura yang mencapai 260% dan Hong Kong yang sebesar 1.080%."Pendanaan dari pasar modal saat ini baru mencapai 50% terhadap PDB," ungkapnya.

Bila dilihat dari sektor pasar modalnya, saat ini dunia usaha masih enggan masuk ke pasar modal karena belum memiliki pemahaman yang baik dibandingkan industri perbankan. Karena itu Bapepam-LK akan melakukan sosialisasi ke dunia usaha.

Janjikan Insentif Pajak

Selain itu, ke depan Bapepam-LK juga akan memberikan kemudahan terhadap dunia usaha untuk masuk ke pasar modal maupun mencari pendanaan di pasar modal lewat insensif pajak dan kemudahan menggelar penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO).

Kata Nurhadai, diharapkan dengan langkah ini, pasar modal dapat menjadi alternatif dalam mencari sumber pendanaan dan pada akhirnya akan mudah berkembang. "Kita juga melakukan revisi peraturan tentang IPO dengan mempersingkat waktu prosesnya dan jumlah dokumen yang disampaikan tidak lagi memberatkan," tuturnya.

Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menambahkan, perbankan masih menjadi andalan dalam pendanaan sektor riil. Sekitar 80% pendanaan usaha di Indonesia berasal dari perbankan.

Masalahnya, kata dia, sumber pendanaan itu sebagian besar (80,2%) berasal dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang bertenor sangat pendek satu hingga tiga bulan. "Atas hal itu, maka keterlibatan pendanaan sektor riil yang berasal dari pasar modal menjadi hal penting," ucap Ito.

Dia mengemukakan, alokasi modal yang paling efisien tidak dapat dicapai hanya dengan memanfaatkan sektor perbankan, tetapi juga harus didukung oleh pengembangan Pasar Modal. Umumnya pinjaman bank terbatas hanya untuk beberapa perusahaan yang terseleksi dan hanya membiayai investasi atau proyek yang telah berjalan, sementara pasar modal dapat membiayai proyek-proyek yang lebih berisiko namun lebih produktif dan inovatif," kata dia.

Ito juga memaparkan, studi yang dilakukan Levine dan Zervos pada 1996 lalu berdasarkan analisa time-series 41 negara pada rentang waktu 1976 hingga 1993 telah menunjukkan hubungan kuat antara perkembangan pasar modal dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. "Pada pasar modal yang telah berfungsi secara efisien, biaya modal menjadi lebih rendah karena terdapat pilihan instrumen atas tingkat risiko (saham dan obligasi) dan tenor pendanaan (jangka panjang dan pendek)," kata dia. (bani)

Related posts