Kementan Desak Bulog Serap Beras Lokal

NERACA

Jakarta - Pemerintah lewat Kementerian Pertanian (Kementan) mendesak Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap beras lokal. Dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang baru dan produksi yang bagus, Kementan menilai tak ada alasan lagi bagi Bulog lemah dalam kinerja menyerap beras petani.

Menteri Pertanian Suswono menuturkan efek dari panen raya saat ini, di beberapa daerah, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sudah mulai turun. Ia mencontohkan di Jawa Timur sudah ada yang menyentuh harga Rp 3100. Menurut dia, ini kesempatan Bulog untuk bisa menyerap dari dalam negeri seoptimal mungkin.

“Dalam rapat pun Menteri Negara BUMN menekankan betul kepada Bulog. GKP yang di-Inpres baru kan Rp 3.300, artinya sudah di bawah, ini kesempatan bagi Bulog untuk menyerap, di Lampung, Sulawesi Tengah sudah di bawah HPP," kata Suswono di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu.

Suswono menjelaskan panen raya diperkirakan akan samapai pertengahan April masih cukup tunggu. Dari target produksi 70 juta ton gabah kering giling (GKG) di 2012, saat ini panen raya sudah mampu mencapai 60% dari target. Apalagi, Suswono menambahkan, saat ini, Bulog sedang mempersiapkan pembentukan anak perusahaan untuk penyerapan gabah dan beras itu. "Saya tidak tahu anak perusahaannya apa. Tadi, Menteri BUMN yang menyampaikan hal itu," ujar Suswono.

Selain itu, Suswono mengatakan, Bulog menargetkan penyerapan gabah dan beras hingga 4 juta ton. "Target kami naik sekitar 3,2%, tapi mudah-mudahan bisa di atas itu. Mudah-mudahan iklim normal dan gabah maupun beras kualitasnya relatif lebih baik, sehingga bisa memenuhi syarat untuk diserap Bulog," ujar dia.

Dia menambahkan, tujuh provinsi yang menyumbang gabah dan beras terbanyak hingga Maret tahun ini di antaranya Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Banten, dan Lampung. “Untuk besar panennya, biasanya pada Oktober sampai Maret akan memberikan kontribusi sekitar 50% atau lebih untuk produksi nasional," terangnya.

Menurut dia, pihak Bulog berjanji akan menyerap sampai 4 juta ton beras petani tahun ini. Sekedar mengingatkan pada tahun lalu Bulog hanya menyerap beras dari dalam negeri 1,8 juta ton sementara impor jumlahnya mencapai 1,9 juta ton. "Target produksi kita akan naik 3,2%, mudah-mudahan diatas itu. Dengan iklim normal relatif gabah lebih baik kualitasnya, tentunya memenuhi syarat diserap Bulog," urainya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan pemerintah menuaskan Bulog untuk mengembangkan usahanya di Myanmar dan Kamboja. Karena itu rencana pembukaan kantor cabang BUMN termasuk rencana membawa Bulog menjadi trader internasional di Myanmar. "Akan dilakukan suatu kerjasama di bidang pertanian di sana. Nantinya ada BUMN kantor bersamanya sehingga kita bisa melakukan trading disana sehingga memperluas jaringan internasional," ujar Hatta.

Nantinya, dengan adanya kerjasama ini, Hatta menyatakan peran Bulog nantinya tidak hanya berperan aktif menjamin ketersediaan dalam negeri, tetapi dapat berpartisipasi meningkatkan peran Indonesia terkait dengan persediaan pangan dunia. "Dia juga bisa memainkan peran secara internasional," bebernya.

Itulah sebabnya, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kementerian terkait sehingga dapat segera direalisasikan. "Sudah meminta rapat minggu lalu saya meminta mentan (Menteri Pertanian) untuk segera ke Myanmar dan Kamboja. Nah tentu kita sambut baik itu, kita punya pengalaman disana maka berangkat lah kita ke sana," jelasnya.

Sementara disinggung soal efek domino rencana kenaikan harga BBM subsidi Rp 1.500 pada April nanti terhadap kenaikan harga sembako, Hatta membantah harga sembako bakal naik signifikan. "Harga sembako nggak melonjak. Kalau ada yang bilang harga sembako naik, itu tidak berdasar fakta!" ungkapnya.

Dia menambahkan, pihaknya dilapori bahwa harga besar turun 1% akibat dampak dari kian dekatnya masa panen raya. Sedangkan harga bahan pangan yang mengalami kenaikan hanya cabai. Kenaikannya mencapai 25% yang diakibatkan masih kurangnya pasokan ke pasar sebagai dampak musim hujan. "Kalau ada yang naik di satu atau dua titik, itu lebih akibat hambatan tranportasi," ujarnya.

Related posts