Rupiah Terperosok ke Rp9.190

NERACA

Jakarta---Perkembangan positif di Amerika Serikat (AS) membuat kepercayaan investor makin meningkat. Tentu saja berdampak negative terhada nilai tukar rupiah. Bahkan terlihat makin tertekan oleh apresiasi dolar AS. "Terlebih level NDF rupiah di pasar valuta asing mengalami peningkatan di sesi awal perdagangan cenderung menggiring rupiah ke teritori negatif," kata Research Analyst Treasury Divison BNI Klara Pramesti di Jakarta,14/3

Menurut Klara, kecenderungan melemahnya rupiah akibat hasil FOMC yang tetap mempertahankan Fed Fund rate di level 0,25% di tengah membaiknya rilis data business inventories AS dan mengokohkan supremasi USD. Sementara di Indonesia, rupiah cenderung tertahan terimbas maraknya tekanan inflasi yang mulai muncul meski implementasi kenaikan harga BBM belum terealisir.

Data kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah dieprdagangkan di kisaran Rp9.193 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.147-Rp9.239 per USD. Sementara mengutip yahoofinance, rupiah berada di kisaran Rp9.165 per USD, dengan range perdagangan harian Rp9.165-Rp9.202 per USD.

Sementara analis valuta asing, David Summual menilai nilai tukar rupiah diprediksi masih akan tertekan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) seiring positifnya pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam tersebut. Selain itu, dari dalam negeri pun belum ada sentimen yang mampu mengangkat rupiah. "Pengaruh dari tekanan rupiah lebih dari isu Bahan Bakar Minyak (BBM). Range rupiah hari ini Rp9.120-Rp9.180 per USD," ujarnya

Terkait dengan isu kenaikan BBM, sejak isu kenaikan tersebut bergulir, rupiah terpantau berada di atas Rp9.100 per USD. Berangkat dari hal itu, investor selalu berhati-hati dalam melakukan aksi jual beli rupiah. "Itu kenapa rupiah tertekan," akunya.

Mengintip faktor eksternal, dolar AS terpantau menguat lantaran perekonomian negara tersebut menunjukkan arah positif. Meskipun ada data yang terpantau memburuk, yaitu sektor perumahan AS, di mana harga rumah masih tertekan.

Melihat kondisi Eropa, belum juga bisa dibilang positif. Disetujuinya bailout beberapa waktu lalu bukan berarti masalah yang menyelimuti Yunani usai. Sebab, menurutnya, masih banyak serentetan masalah lain yang menghantui Negeri Para Dewa tersebut. "Yunani, masih salah satu episode yang satu selesi masih ada yang lainnya. Kalau sekarang ditambah ada tekanan ke Spanyol, defisit APBN besar," tandasnya.

Sekadar informasi, apresiasi nilai tukar dolar AS nampaknya masih kuat membayangi pergerakan rupiah, imbasnya nilai tukar rupiah ditutup stagnan. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatatkan rupiah berada di kisaran Rp9.165 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.119-Rp9.211 per USD. Sedangkan yahoofinance mencatatkan rupiah berada di kisaran Rp9.155 per USD dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.155-Rp9.162 per USD. **cahyo

Related posts