Hancurkan Uang Butuh Biaya

NERACA

Jakarta—Kalangan perbankan menilai pembaharuan uang kertas memakan biaya yang tak sedikit. Apalagi untuk membiayai uang tunai tentu lebih besar. "Biaya yang digunakan BI untuk meng-handle uang tunai sangat besar," kata GM Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha, di Jakarta

Namun demikian, kata Steve, tidak bisa mengatakan secara spesifik pembaharuan uang kertas yang dimaksud. Yang jelas BI harus merogoh kocek yang lumayan jumlahnya untuk pencetakan uang, juga distribusi. "Tak cuma itu, penghancuran uang tunai juga ada biayanya," tambahnya

Tapi, dengan menggunakan alat bayar, termasuk kartu, maka biaya itu bisa terkurangi. Maka dari itu, BI tengah berusaha mewujudkan program masyarakat tanpa uang tunai (cashless society). "Biaya cash handling itu untuk membandingkan jika uang cash itu juga ada biayanya. BI sendiri juga ingin mendorong cashless society, mendorong penggunaan nontunai," paparnya

Guna mewujudkan hal itu, BI tidak memperkenankan tambahan biaya untuk transaksi dengan kartu kredit. Sayangnya untuk hal itu, dia tidak menyebutkan berapa ongkos yang dikeluarkan oleh BI. "Kalau untuk besarannya bisa ditanyakan ke BI," tandasnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ronald Waas mengklaim penggunaan uang elektronik alias e-money terus berkembang pesat. Bank sentral mengharapkan penggunaan e-money ini bisa diterapkan di pedesaan juga. "Karena masyarakat perkotaan lebih mementingkan kecepatan untuk transaksi non bank seperti pembayaran parkir, tol, dan transaksi di minimarket,” ujarnya.

Bahkan Ronald berharap pada saatnya nanti uang elektronik ini bisa mencapai pedesaan. Sehingga makin memudahkan untuk semua transaksi. Oleh karena itu, perlu ada sosialiasai yang lebih panjang kepada masyarakat. “Penggunaan e-money juga harus mencapai pedesaan guna mempermudah transaksi non bank," tukasnya

Namun, Ronald mengatakan jika ingin e-money masuk pedesaan tetap harus didukung dengan infrastruktur IT. "E-money bisa dikembangkan di pedesaan. Dibantu nantinya dengan program pemerintah yang membangun infrastruktur IT di desa-desa," tegasnya.

Sebelumnya, Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Aswin Sasongko mengatakan Indonesia akan terkoneksi melalui pembangunan fiber optik hingga masuk pedesaan untuk mendukung program National Payment Gateway. "Harapannya indonesia harus terkoneksi dengan adanya fiber optik untuk mendukung national payment gateway," ujarnya.

Aswin juga mengatakan Kominfo berperan dalam mengatur infrastruktur IT sedangkan BI berperan mengatur sistem pembayaran pada National Payment Gateway.

Sepeeti diketahui, Head of Corporate Communication Division Telkomsel, Ricardo Indra mengaku Telkomsel, serius dalam menggarap bisnis uang elektronik ini, dengan produk T-Cash. "Telkomsel merupakan operator selular pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi dari Bank Indonesia pada tahun 2007 untuk menjalankan bisnis e-money,” katanya

Menurut Indra, saat ini T-Cash telah digunakan oleh sekitar 8,2 juta pelanggan. Telkomsel pun telah bekerja sama dengan lebih dari 530 merchant, dan memiliki total terminal sebanyak 32.737 unit di seluruh Indonesia. **cahyo

Related posts