Harga Minyak Naik Didukung Optimisme Perdagangan

NERACA

Jakarta – Harga minyak terus menguat pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pasar didukung oleh tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China dan pasokan energi yang semakin ketat. Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, naik 1,18 dolar AS menjadi menetap pada 55,59 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Demikian disalin dari laman Antara.

Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman April, naik 1,68 dolar AS menjadi ditutup pada 66,25 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Untuk minggu ini, harga patokan AS naik 5,4 persen, dan Brent naik sekitar 6,7 persen.

China dan Amerika Serikat mengadakan konsultasi ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi putaran keenam di Beijing mulai Kamis (14/2) hingga Jumat (15/2). Kedua belah pihak mencapai konsensus dasar tentang masalah-masalah utama dan melakukan diskusi khusus tentang nota kesepahaman masalah-masalah ekonomi dan perdagangan bilateral. Mereka sepakat bahwa konsultasi akan dilanjutkan di Washington minggu depan.

Kemajuan terbaru pada pembicaraan perdagangan AS-Tiongkok membantu meredakan kekhawatiran tentang permintaan energi, para ahli mencatat. Sementara itu, sejumlah data terbaru yang menunjukkan penurunan lebih lanjut dari produksi global, juga mendukung harga minyak.

Pasokan global turun 1,4 juta barel per hari (bph) menjadi 99,7 juta bph pada Januari, kata laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu. Sebuah laporan terpisah pada Selasa (12/2) menunjukkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) secara signifikan membatasi produksi minyak mentahnya. OPEC mengatakan bahwa produksi minyak mentah mereka turun 797.000 barel per hari pada Januari, menjadi rata-rata 30,81 juta barel per hari.

Sebelumnya, harga minyak naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah data menunjukkan bahwa OPEC memangkas produksi lebih tajam pada Januari, dan Arab Saudi sebagai anggota utama mengatakan akan mengurangi produksinya pada Maret dengan tambahan 500.000 barel.

Meningkatnya optimisme para investor untuk terobosan dalam putaran terakhir diskusi perdagangan AS-China juga mendorong minyak berjangka ketika anggota-anggota kedua belah pihak bertemu di Beijing.

Patokan global, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 0,91 dolar AS atau 1,5 persen, menjadi ditutup pada 62,42 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik 0,69 dolar AS atau 1,3 persen, menjadi ditutup pada 53,10 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga minyak naik tipis pasca penyelesaian perdagangan setelah data dari American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS secara tak terduga turun.

Persediaan minyak mentah turun 998.000 barel dalam pekan yang berakhir 8 Februari menjadi 447,2 juta, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan 2,7 juta barel. Stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, pusat pengiriman turun 502.000 barel, kata API.

Pemotongan produksi yang efektif hingga akhir Juni oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia telah memperketat pasar meskipun ada peningkatan produksi di negara-negara non-anggota, terutama Amerika Serikat.

OPEC mengatakan pada Selasa (12/2) bahwa mereka telah mengurangi produksi minyak hampir 800.000 barel per hari pada Januari menjadi 30,81 juta barel per hari di bawah pakta pengurangan pasokan global sukarela.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan kepada Financial Times bahwa negara itu akan memangkas produksi menjadi sekitar 9,8 juta barel per hari pada Maret untuk meningkatkan harga. Sebagai bagian dari kesepakatan OPEC, negara itu berjanji akan memangkas produksi menjadi sekitar 10,3 juta barel per hari. "Pasar menawar pada laporan OPEC, angka OPEC sendiri, dan Arab Saudi menurunkan angka produksi cukup baik," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho, disalin dari Antara.

Investor juga berharap bahwa putaran baru perundingan AS-China minggu ini akan membawa kedua pihak mendekati menyelesaikan perang perdagangan mereka yang sedang berlangsung sebelum tenggat waktu 1 Maret, kata Yawger.

BERITA TERKAIT

Menteri Yohana Ingin "Tenggelamkan" Mafia Perdagangan Orang

Menteri Yohana Ingin "Tenggelamkan" Mafia Perdagangan Orang NERACA Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan…

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…

Pemerintah Nilai Harga Gas Indonesia Kompetitif

NERACA Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa harga gas industri di Indonesia relatif stabil dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…

Sumbang 74%, Ekspor Produk Manufaktur Masih Melejit

NERACA Jakarta – Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu…

Usaha Rintisan - Pemerintah Terus Pacu Startup Inovatif di Sektor Kerajinan dan Batik

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian gencar menciptakan wirausaha rintisan (startup), termasuk untuk sektor kerajinan dan batik. Sebab, selama ini…