Harga Beras di Indonesia Termasuk Murah di Pasar Internasional - Sektor Pangan

NERACA

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga beras di tingkat eceran masih terjangkau oleh masyarakat dan tidak mahal. Darmin menambahkan harga beras di Indonesia masih murah termasuk di pasar internasional, meski tidak semurah beras asal Thailand.

"Kalau di ritel, siapa bilang kita mahal? Kalau di perdagangan internasional, Thailand memang murah. Tapi, coba saja beli beras di Jepang," ujarnya, sebagaimana disalin dari Antara. Meski demikian, ia enggan berpolemik lebih lanjut mengenai tudingan harga beras mahal seiring dengan makin dekatnya penyelenggaraan pemilu. "Sudahlah, kalau bicara politik, saya enggan," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut harga daging dan beras di Indonesia termasuk yang termurah di dunia jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Menurut Mantan Gubernur DKI itu, harga-harga komoditas tersebut di Indonesia hanya kalah murah dibandingkan dengan negara-negara tertentu saja dan masih lebih kompetitif.

Ia juga menegaskan harga daging di Indonesia pun bervariasi tergantung kualitas dan kebutuhan yang diinginkan oleh konsumen. Saat ditanya terkait tudingan harga yang mahal, Jokowi mempersilakan untuk mengecek sendiri ke lapangan. "Ya coba dicek sendiri," katanya.

Sebelumnya, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut harga beras dan daging di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Hal itu ia sampaikan saat berkunjung ke Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Sebelumnya, anggota Komisi VI DPR RI Hamdhani meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) berusaha maksimal untuk selalu menjaga ketersediaan dan kestabilan harga pangan, khususnya di daerah karena menyangkut hajat hidup masyarakat.

"Sekarang ini Bulog tidak hanya mengurus soal beras, tetapi cakupannya lebih luas dalam hal pangan. Sebagai mitra kerja, kami selalu mengawasi kinerja Bulog dan mendorong agar mereka mampu memenuhi harapan masyarakat dalam hal pangan," kata Hamdhani di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, sebagaimana disalin dari Antara.

Hamdhani pun mengapresiasi terobosan yang dilakukan Bulog menjaga kestabilan harga daging. Saat ini permintaan daging beku terus meningkat karena masyarakat sudah banyak mengetahui bahwa kualitas daging beku bagus dan harganya jauh lebih murah.

"Itu untuk menjaga agar harga daging tetap stabil. Bulog menjual daging beku dengan harga hanya Rp80.000, sedangkan harga di pasar jauh lebih mahal, yaitu Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram," kata Hamdhani.

Dalam hal ketersediaan beras, Bulog diingatkan untuk selalu memantau stok dan harga beras di pasaran. Dengan begitu, Bulog dapat memperkirakan jumlah beras yang harus ada di gudang mereka sebagai cadangan.

Bulog diminta menyerap secara optimal gabah hasil panen petani lokal agar harga tidak sampai dipermainkan tengkulak. Saat ini di Kotawaringin Timur terdapat sentra beras yaitu di kawasan Selatan yang meliputi Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan, khususnya di Desa Lempuyang.

Namun fakta yang terjadi memang terkadang harga gabah di pasaran jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian yang ditetapkan pemerintah sehingga petani lebih memilih menjual ke pasar karena lebih menguntungkan dibanding menjual kepada Bulog.

Kondisi itu tidak boleh membuat Bulog lantas abai karena tugas Bulog adalah menjaga ketersediaan pangan dan kestabilan harga pangan. Hamdhani juga memantau realisasi penyaluran rastra atau beras untuk keluarga sejahtera. Dia mengingatkan agar Bulog menyalurkan rastra sesuai aturan dan tidak melakukan pungutan kepada masyarakat.

Pernyataan itu diungkapkan dia terkait kunjungan kerja ke sejumlah tempat di Sampit Selasa (12/2) lalu. Diantara lokasi kunjungan kerja itu meliputi Pusat Perbelanjaan Mentaya, Pasar Ikan Mentaya, Pasar Rakyat Mentaya, Bulog Sub Divisi Regional Sampit dan Pertamina.

Saat berkunjung ke kantor Bulog di Sampit, Hamdhani juga berdialog dan diajak melihat ruang pendingin (cool storage) yang belum lama ini dibuat di kantor Bulog Sampit. Ruang pendingin itu untuk menyimpan daging beku kerbau impor dengan kapasitas tujuh hingga delapan ton.

Sementara itu, Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai para calon presiden tidak perlu menjanjikan setop impor pangan karena saat ini Indonesia masih ketergantungan impor terhadap 21 komoditas subsektor pangan.

"Kalau ada siapa pun calon presiden mewacanakan akan setop impor, akan swasembada, itu bohong besar. Dalam kondisi seperti ini, tidak bisa dan mustahil menyetop impor pangan," kata Andreas.

Guru Besar IPB tersebut menjelaskan bahwa total impor 21 komoditas subsektor tanaman pangan terus mengalami peningkatan dari 18,2 juta ton pada 2014 menjadi 22 juta ton pada 2018.

Sementara itu, impor pangan untuk 7 komoditas utama, yakni beras, jagung, gandum, kedelai, gula tebu, ubi kayu dan bawang putih, secara volume juga terus meningkat dari 21,7 juta ton pada 2014 menjadi 27,3 juta ton pada 2018.

BERITA TERKAIT

20 Persen Ponsel di Indonesia Dibeli dari Black Market

20 Persen Ponsel di Indonesia Dibeli dari Black Market NERACA Jakarta - Sekitar 20 persen dari ponsel pintar yang beredar…

Lippo Cikarang Raih Properti Indonesia Award

Lippo Cikarang kembali membuktikan kepiawaiannya dalam hal membangun hunian yang diakui masyarakat terbukti dari proyek Cosmo Estate memperoleh penghargaan Properti…

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…

Sumbang 74%, Ekspor Produk Manufaktur Masih Melejit

NERACA Jakarta – Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu…

Usaha Rintisan - Pemerintah Terus Pacu Startup Inovatif di Sektor Kerajinan dan Batik

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian gencar menciptakan wirausaha rintisan (startup), termasuk untuk sektor kerajinan dan batik. Sebab, selama ini…