Bank-Bank ASEAN Bisa Rebut Pasar Lokal - Terkait MEA

NERACA

Jakarta---Industri perbankan Indonesia perlu segera menyiapkan diri menghadai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015. Hal ini sangat penting agar bank-bank asing di ASEAN jangan sampai merebut pasar di dalam negeri. "Menghadapi MEA akan sulit. Karena BOPO perbankan nasional masih 80%. Karena itu, Bank-bank ASEAN dikhawatirkan akan mudah merebut pasar kita," kata Deputi Gubernur Ronald Waas di Jakarta,14/3

Lebih jauh kata Ronald, karena itu BI terus mendorong perbankan nasional melakukan efisiensi. Salah satunya dengan menciptakan interkoneksi dan interoperabilitas antar pelaku industri dalam hal sistem pembayaran.

Menurut Ronald, Indonesia sebagai negara berpenduduk terbanyak di ASEAN seharusnya bisa menjadi pemimpin di pasar ASEAN. Termasuk dalam hal industri keuangan, khususnya yang menyangkut sistem pembayaran. menggunakan kartu. "Dari perspektif sistem pembayaran, Indonesia perkembangannya cukup bagus dan kita diperhatikan negara-negara lain," terangnya

Berdasarkan data BI, jumlah alat pembayaran menggunakan kartu sebanyak 78 juta kartu. Sebanyak 63,6 juta adalah kartu ATM/debit sementara 14,5 juta adalah kartu kredit. "Tapi khusus perbankan kesiapan menghadapi MEA baru di 2020,itu pembahasannya ada di Asean banking integration forum,"imbuhnya.

Sementara menyangkut pembentukan National Payment Gateway (NPG) yang diusulkan Bank Indonesia (BI) mendapat respons positif oleh para pelaku perbankan di dalam negeri. Apalagi, keberadaan NPG sangat dibutuhkan sebagai salah satu instrumen untuk penguatan modal dan peningkatan efisiensi perbankan di dalam negeri dalam menghadapi aliran modal yang lebih bebas, seiring implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Penasihat Dewan Gubernur BI bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional Sjamsul Arifin mengungkapkan, dalam konteks MEA 2015 aliran modal merupakan salah satu pilar yang secara bertahap diliberalisasi dengan maksud untuk mendukung realisasi kebebasan arus pergerakan barang, jasa, investasi, tenaga terdidik, dan modal. "Liberasilasi lalu lintas modal ASEAN dibutuhkan sebagai landasan untuk mendorong kemajuan pembangunan negara-negara ASEAN," katanya

Menurutnya, untuk Indonesia sendiri liberalisasi tersebut tidak akan banyak membuat perubahan karena proses tersebut telah dilalui sejak puluhan tahun yang lalu. **cahyo

Related posts