Obligasi Bank Infrastruktur Dalam Kajian

NERACA

Jakarta--- Penerbitan obligasi infrastruktur terkait wacana pembentukan bank infrastruktur tampaknya terus dikaji Bank Indonesia. Alasanya tak mudah menerbitkan sembarang obligasi. Masalahnya, terletak pada suku bunga yang diberikan. "BI masih mengkaji bagaimana obligasi bank infrastruktur ini bakal menarik bagi investor, karena mengeluarkan obligasi harus memberikan suku bunga yang menarik," kata Peneliti Eksekutif Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia (BI), Pungky Purnomo di Jakarta,14/3

Menurut Pungky, tentu ada hambatan dalam penerbitan obligasi infrastruktur tersebut, misalnya soal janga waktu. Apalagi pembiayaan sektor infrastruktur adalah pembiayaan berjangka panjang. “Belum tentu investor mau menahan investasi dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat bank infrastruktur harus memberi iming-iming imbal hasil yang memuaskan investor,” tambahnya.

Lebih jauh kata Pungky, sektor infrastruktur termasuk sektor yang cukup menggiurkan. Berdasarkan catatan, pertumbuhan pembiayaan infrastruktur sepanjang tahun lalu mencapai sekitar 22%. Angka ini cukup tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan perkembangan pembiayaan infrastruktur dari tahun ke tahun terus meningkat. Tinggal bagaimana memanfaatkan peluang ini

Diitempat terpisah, Andreas Wibowo, Peneliti Utama Kementerian Pekerjaan Umum, menilai PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII) dianggap belum bekerja optimal. Bahkan peranan PII dalam pembangunan infrastruktur masih minim. Sampai saat ini, PII baru menjamin satu proyek, yakni pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa Tengah tahun lalu. Pada proyek itu, PII memberi pinjaman Rp 300 miliar. "Satu proyek tidak sepadan dengan tujuan pendirian PII," ujarnya

Sinthya Roesly, Direktur Utama PII berargumen, minimnya peranan itu karena perusahaannya masih baru. Namun, ia menjanjikan, peningkatan peranan PII. Tahun ini, PII bakal menjamin empat proyek infrastruktur. Itu antara lain proyek di sektor air senilai Rp 5 triliun di Bandar Lampung, pembangkit listrik di Sumatra Selatan Rp 30 triliun, serta jalan tol Rp 5 triliun di Medan, Kuala Namu, dan Tebing Tinggi. Kemudian, juga penjaminan atas pembangunan rel kereta api di Kalimantan Tengah dan Semarang Barat sebesar Rp 20 triliun. Keempat proyek itu mulai berjalan pada pertengahan tahun ini. "Modal kami semakin kuat, nilai penjaminan pun naik," kata Sinthya.

Tahun ini, PII mendapat suntikan modal Rp 1 triliun dari pemerintah. Sayang, Sinthya enggan menjelaskan nilai penjaminan masing-masing proyek itu. Yang pasti, penjaminan itu bakal mendongkrak laba PII pada tahun ini menjadi Rp 150 miliar. Jumlah itu meningkat drastis dibandingkan pencapaian laba tahun 2011 sebesar Rp 45 miliar. **cahyo

Related posts