Laju Pasar Obligasi Terancam Terhambat - Proses Pemilu Berlarut

NERACA

Jakarta – Pasar obligasi dalam negeri masih menjadi perburuan investor asing, meskipun tahun ini merupakan tahun politik. nvestor masih akan tetap melirik surat utang Indonesia lantaran imbal hasil (yield) masih cukup tinggi jika dibandingkan negara-negara lainnya di ASEAN dan makro ekonomi yang terjaga.

Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Wahyu Trenggono menuturkan, secara historis, memang satu tahun sebelum perhelatan tahun politik, ada kecenderungan terjadi gejolak di pasar keuangan. Namun tahun setelahnya, ekonomi mulai menunjukkan perbaikan.”Investor asing memandang Indonesia dalam jangka panjang outlooknya masih positif, terlihat dari indikator makroekonominya dalam kondisi stabil, fundamental terjaga,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Meskipun demikian, Wahyu berharap proses pemilu tahun ini tidak akan terlalu berlarut-larut sebab berpotensi menahan laju emisi surat utang korporasi lebih lama akibat momentum ketidakpastian yang menjadi lebih panjang. Menurutnya, secara umum kondisi yang mewarnai tahun pemilu 2014 tidak jauh berbeda dibandingkan tahun ini.

Pemilu tahun 2014 diawali oleh turbulensi ekonomi global pada 2013 yang ditandai oleh awal tapering off. Turbulensi ekonomi global juga terjadi tahun lalu menjelang tahun pemilu 2019. Bila melihat pengalaman tahun pemilu 2014, emisi surat utang korporasi akan turun pada tahun pemilu dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun pemilu presiden 2014, total penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp47,57 triliun. Nilai ini turun 19% dibandingkan realisasi penerbitan pada tahun 2013 yang mencapai Rp58,56 triliun. Kondisinya memang berbeda bila dibandingkan dengan periode pemilu 2009. Tahun pemilu 2009 diawali oleh krisis global yang cukup parah pada 2008. Sepanjang 2008, emisi obligasi korporasi sangat minim, hanya Rp12,86 triliun.

Setelah ekonomi sedikit membaik pada 2009, nilai emisi obligasi korporasi juga meningkat menjadi Rp29,68 triliun. Wahyu mengatakan, akan lebih adil bila kondisi tahun ini hanya diperbandingkan dengan kondisi pemilu 2014, sebab sama-sama diawali oleh tekanan ekonomi global di tahun sebelumnnya, tetapi tidak sampai terjadi krisis.

Disampaikannya, turunya emisi obligasi korporasi pada 2014 disebabkan karena kondisi ketidakpastian yang sangat panjang. Pemilu presiden saat ini berlangsung dua putaran. Setelah usai, pelaku pasar masih menunggu lagi hingga penetapan definitif berdasarkan putusan MK karena adanya gugatan dari pasangan Prabowo-Hatta atas pemilu saat itu.

Oleh karena itu, dirinya mengakui, biasanya ada pola penurunan jumlah penerbitan obligasi di tahun politik, lantaran penerbit dan investor masih cenderung wait and see, menanti hasil pemenang dari perhelatan pemilu untuk menentukan keputusan. Sementara I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas mengatakan bahwa sepanjang tahun 2019, total obligasi korporasi yang akan jatuh tempo mencapai Rp90,56 triliun. Mayoritas masih berasal dari korporasi di sektor finansial, yakni perusahaan pembiayaan Rp42,88 triliun dan bank Rp22,5 triliun.

BERITA TERKAIT

Waspadai Hoax yang Ancam Suksesnya Pemilu

  Oleh: Ariffudin Ahsan dan Akbar Zuliandi, Pemerhati Sosial Media   Pemilihan legisliatif dan pemilihan presiden 2019 akan segera dilaksanakan…

CHK Komitmen Tangani Sengketa Pemilu Secara Profesional

CHK Komitmen Tangani Sengketa Pemilu Secara Profesional NERACA Jakarta - Calon Hakim Konstitusi (CHK) Aswanto menegaskan bahwa dirinya dan Wahiddudin…

Kecurangan Pemilu Jadi Musuh Bersama

Lampung, Anggota MPR Fraksi PKS, Almuzzammil Yusuf menegaskan kecurangan dalam Pemilu 2019 harus dijadikan sebagai musuh bersama. Media mainstream dan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Targetkan 7000 Investor Baru di Solo

NERACA Solo - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta, Jawa Tengah menargetkan sebanyak 7.000 investor baru hingga akhir 2019 baik…

Sepekan, Kapitalisasi Bursa Tumbuh 0,99%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesis (BEI) mencatatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ketiga di bulan Maret…

Sepekan, Kapitalisasi Bursa Tumbuh 0,99%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesis (BEI) mencatatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ketiga di bulan Maret…