Banyak Beredar Susu Kadaluarsa di Pasar - Kabupaten Sukabumi

Sukabumi - Penjualan susu merek Indomilk berbentuk cair dan bubuk yang mendekati masa kadaluarsa dan tak layak jual alias rijek oleh PT Idolakto kepada rekanannya CV Karya Wijaya, mendapat sorotan dari Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Tut Wuri Handayani (TWH) Cicurug.

Pasalnya, kata Ketua LPKSM TWH Drs Rusli Siregar, selain mengakibatkan bau di penampungan, kebanyakan susu yang rijek itu dijual ke pasaran dan banyak dikonsumsi manusia. “Susu mendekati kadaluarsa seharusnya dimusnahkan, tak boleh diperjualbelikan kepada pihak lain. Tetapi ini banyak beredar di pasaran”, tegas Rusli Siregar kepada NERACA, di Sukabumi, Rabu (14/3).

Rusli menyatakan, dengan adanya penjualan susu rijek dan susu mendekati kadaluarsa itu, pihak PT Indolkato sebagai produsen susu merek Indomilk, diduga melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya pasal 8. “Padal ayat dua tertera pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang yang dimaksud”, ungkap Rusli. Sehingga, kata dia, sangat dipertanyakan hubungan kerjasama antara PT Indolakto dan CV Karya Wijaya.

Rusli mengatakan, dirinya telah mengkonfirmasikan ini kepada pihak PT Indolkato. Namun jawaban manajemen PT Indolkato bukan tanggungjawab mereka tentang barang rijek yang telah dibeli pihak lain. “Ketika saya konfirmasikan persoalan ini kepada pihak manajemen PT Indolakto, mereka seolah lepas tangan”, tegas dia.

Rusli juga menyebutkan, susu rijek ini bukan hanya dijual kepada CV Karya Wijaya. Bahkan dijual ke pasaran. Dalam setiap dusnya, oknum karyawan PT Indolakto berinisial SS dibantu oknum CV Karya Wijaya berinisial BS menjual susu-susu tak layak jual ini seharga Rp50 ribu perdus.

Keterangan lainnya yang didapatkan NERACA, CV Karya Wijaya adalah induk perusahaan Indomilk. Merkea membeli limbah dan susu rijek ini, dikabarkan untuk diolah menjadi pakan ternak.

Namun persoalan lainnya timbul. Akibat timbunan susu yang sudah mulai membusuk di tempat pengolahannya di Desa Warung Ceurig, Kecamatan Parungkuda, menimbulkan bau khususnya di pagi hari. Diduga pengolahan susu kadaluarsa ini, tidak mendapatkan ijin dari warga.

Pimpinan PT Indolakto, Erwin Tambunan, ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat ke telepon selulernya, hingga berita ini diturunkan belum menjawab pertanyaan wartawan.

Sementara pihak Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sukabumi, melalui bidang Perlindungan Konsumen, menyatakan akan melakukan penelitian terhadap beredarnya susu rijek di pasaran.

“Besok kami akan melakukan penyelidikan dulu. Apabila ditemukan adanya susu itu bererdar untuk dikonsumsi masyarakat, maka kami akan mempelajari kasusnya. Kalau terbukti, maka penyebar susu ke pasaran bisa dikenakan UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen”, jelas juru bicara Bidang perlindungan Konsumen, Memed Jamaludin, menjawab pertanyaan wartawan. (ron)

Related posts