MRT Simbol Peradaban Baru Indonesia

Oleh : Anisa Rahmawati, Mahasiswa PTN di Jakarta

Salah satu primadona dalam pelaksanaan Nawacita di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah pembangunan infrastruktur, satu diantaranya berupa pembangunan proyek moda raya terpadu (MRT). Diyakini bahwa MRT akan memberikan dampak berganda, yakni dalam menopang mobilitas masyarakat maupun sebagai pendorong ekonomi baru.

Bila tidak ada aral melintang, moda transportasi massal berbasis rel dari Lebak Bulus sampai Bundaran Hotel Indonesia ini bakal rampung sesuai jadwal. Direktur PT MRT William Sabandar memastikan MRT sudah dapat digunakan publik mulai Maret 2019 mendatang dan diharapkan akan mampu membawa penumpang setidaknya 65 ribu orang setiap harinya. Jumlah ini akan naik secara bertahap.

Pembangunan proyek MRT ini merupakan lembar baru peradaban Jakarta. Tak berlebihan bila Presiden Jokowi menyatakan bahwa kehadiran MRT membawa peradaban baru. Pertama, MRT adalah moda transportasi yang sama sekali baru di Jakarta maupun Indonesia. Tidak ada pembandingnya dalam sejarah Indonesia.

Kedua, Jakarta menjadi sejajar dengan kota-kota di negara maju yang membangun dan mengedepankan moda transportasi massal. Wajah Jakarta yang sumpek, macet, dan tertinggal, sudah mulai membangun pola transportasi ramah lingkungan. Semakin banyak orang yang diangkut oleh transportasi umum membuat pemakaian bahan bakar minyak dihemat. Polusi udara dan kemacetan di jalan raya berkurang. Bukan hanya MRT, Jakarta juga mengembangkan transit oriented development (TOD) dimana terdapat hunian dan pusat bisnis atau perbelanjaan di sana.

Ketiga, transportasi umum modern memaksa pengguna untuk lebih disiplin baik dalam hal waktu maupun perilaku mematuhi aturan, seperti kebersihan dan keamanan. Warga juga dilatih bertenggang rasa dengan sesama pengguna apalagi kepada warga difabel, perempuan hamil, atau lansia.

Keempat, keberadaban juga ditunjukkan oleh fungsi pemerintah yang mendisiplinkan warganya dengan lebih dahulu menyediakan fasilitas angkutan yang memadai. Kampanye beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum menjadi masuk akal untuk dipatuhi warga karena telah tersedianya angkutan umum yang aman, nyaman, dan tarif terjangkau. Tidak beradab adalah bila pemerintah memaksa warganya meninggalkan kendaraan pribadi beralih ke bus atau angkot bobrok.

Pembangunan infrastruktur fisik bagi pemerintahan di era Jokowi sekaligus adalah bagian dari strategi kebudayaan dalam menghadapi tantangan-tantangan kekinian dan masa depan. Karena itu, tidak heran bila MRT bakal berlanjut pada fase kedua dan seterusnya. Pada akhir 2019, pembangunannya akan dilanjutkan dengan fase kedua yang menghubungkan Bundaran HI-Kampung Bandan, sekaligus pembangunan MRT koridor timur-barat yang menghubungkan Cikarang-Balaraja.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, menyatakan bahwa lembaganya akan mendukung penuh proyek MRT ini. Proyek ini memang tidak akan bisa direalisasikan tanpa sinergi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor industri dan jasa keuangan. Keberadaan MRT akan mendorong pusat-pusat ekonomi baru di sepanjang lintasannya.

MRT dipercaya akan mengubah pola transportasi warga Jakarta dan mengurangi kemacetan. Sebab moda transportasi massal ini lebih aman, nyaman dan cepat. Catatan yang tak bisa ditinggal terkait MRT adalah peran Jokowi yang berhasil mendobrak kebekuan lebih dari 25 tahun wacana MRT menjadi kenyataan. Pada 1986, Bacharuddin Jusuf Habibie yang menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sudah merencanakan adanya MRT. Di era Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang menjabat sejak 1997 hingga 2007 telah dilakukan studi dan penelitian yang dijadikan landasan pembangunan MRT. Namun baru pada era Gubernur Jokowi, MRT mulai dibangun. Untuk itu, upaya para Gubernur DKI Jakarta terlebih Presiden Jokowi dalam membangun infrastruktur yang memadai di ibukota ini patut diberikan apresiasi setinggi-tingginya. Sekarang tugas masyarakatlah untuk menjaga fasilitas yang telah disediakan pemerintah.

BERITA TERKAIT

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…

Emdeki Realisasikan Dana IPO Baru 30,05%

Per Juni 2019, PT Emdeki Utama Tbk (MDKI) baru merealisasikan dana hasil penawaran umum saham perdana sebesar 30,05% dari dana…

Berkah Proyek MRT - Intiland Optimis Penjualan Capai Rp2,53 Triliun

NERACA Jakarta – Keberadaan transportasi massal mass rapid transportation (MRT) menjadi sentimen positif untuk mendongkrak penjualan properti milik PT Intiland…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pertumbuhan Stagnan, Ekonomi Sulit Mapan

Oleh: Sarwani Mentok, kata yang pas untuk menjelaskan  pertumbuhan ekonomi tahun ini. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional  (Bappenas)  memprediksi  ekonomi akan…

Resonansi Narasi Rekonsiliasi

Oleh: Gun Gun Heryanto, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta Bak oasis di tengah musim kemarau panjang, perjumpaan Joko Widodo dan…

Rekonsiliasi dan Upaya Menjaga Keseimbangan Politik

  Oleh : Gita Warsita, Pemerhati Masalah Sosial Politik     Dengan berakhirnya drama Pilpres 2019 berupa pilihan presiden dan…