Potensi Industri Asuransi di Indonesia

NERACA

Masyarakat Indonesia secara umum belum terlalu mengenal produk keuangan yang satu ini. Ketika orang menyebut asuransi, yang terbayang dalam benak masyarakat kebanyakan adalah kecelakaan, cacat, dan kematian.

Sesuatu yang lekat dengan peristiwa yang mengerikan dan ingin dihindari. Kondisi itu terjadi karena belum banyak orang yang memahami secara utuh produk keuangan yang dari sejarah terbentuknya adalah untuk memproteksi rencana dan masa depan keuangan nasabah dari peristiwa-peristiwa yang mungkin tidak terduga. Tidak heran bila hanya sebagian kecil dari masyarakat Indonesia yang membeli produk asuransi.

Dari data, terungkap bahwa penduduk Indonesia hanya membelanjakan 1,6% dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) untuk asuransi. Persentasenya masih di bawah Malaysia dan Singapura, yang masing-masing membelanjakan lebih dari 4,5% dan 7,5% dari total pendapatannya untuk asuransi. Sebenarnyalah, produk asuransi tidak hanya melindungi jiwa nasabah, atau pemegang polis.

Sesuai dengan makin beragamnya produk asuransi jiwa, memberikan perlindungan kesehatan, kecelakaan, kelanjutan pendidikan, masa tua, investasi, serta memberikan rasa aman pada nasabah dan ahli waris dalam menghadapi masa depan. Fakta dan pemahaman ini harus terus menerus disampaikan kepada masyarakat melalui strategi komunikasi yang jitu.

Masih rendahnya kesadaran berasuransi merupakan tantangan bagi industri untuk dapat tumbuh dan berkembang di Indonesia. Industri asuransi harus meningkatkan kesadaran masyarakat berasuransi dengan cara melakukan edukasi yang berkelanjutan mengenai pentingnya manfaat berasuransi kepada masyarakat. Apabila kesadaran masyarakat telah tumbuh, asuransi akan menjadi kebutuhan dalam kehidupan mereka.

Kalau ini terjadi, dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia merupakan potensi yang sangat menjanjikan. Tetapi untuk mencapai ini mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar, butuh proses panjang. Cara lain yang dapat ditempuh untuk mempercepat pertumbuhan pasar asuransi jiwa ialah menyatukan produk asuransi ke dalam produk perbankan atau apa yang disebut bancassurance.

Menurut data CIMB Sun Life, perkembangan asuransi melalui jalur distribusi bancasurance tumbuh lebih cepat dalam beberapa tahun belakangan ini dibandingkan dengan jalur distribusi lainnya. Persentasenya mencapai 50% dari total volume pasar asuransi.

Perbankan yang memiliki beragam segmentasi produk dan nasabah memiliki potensi besar melakukan penetrasi pasar asuransi.Penetrasi pasar asuransi akan meningkat lima kali lebih besar dalam 10 tahun ke depan jika upaya edukasi mengenai pentingnya perlindungan asuransi serta mengomunikasikan manfaat dan beragam jenis produk asuransi kepada masyarakat berhasil.

Strategi menyatukan produk asuransi dengan perbankan inilah yang ditempuh CIMB Sun Life.

Penetrasi pasar asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, namun dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa, Indonesia bakal menjadi pasar yang menarik.

Dari jumlah tersebut, sekitar 70 juta penduduk diyakini dapat membeli asuransi jiwa sendiri, bukan hanya dari yang disediakan oleh tempat kerja mereka. Pada tahap ini, CIMB Sun Life mengembangkan produk secara eksklusif dan spesifik untuk memenuhi berbagai kebutuhan nasabah CIMB Niaga, untuk membantu mereka mencapai tujuan keuangan mereka.

(agus/dbs)

Related posts