Asuransi Asing Ingin Masuk ke Indonesia - Kondisi Ekonomi Sedang “Kinclong”

NERACA

Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang “kinclong” membuat investor asing berlomba-lomba ingin masuk ke negeri ini. Begitu pula pelaku bisnis asuransi dari berbagai negara menyatakan minatnya untuk masuk ke Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari peringkat investment grade yang diraih Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional Fitch dan Moody's.

Memang kondisi pasar asuransi Indonesia terus tumbuh. Pada tahun lalu saja, pendapatan industri asuransi mencapai Rp 110,61 triliun atau tumbuh 7,99% dari Rp 102,42 triliun pada 2010. Angka itu tentu belum termasuk pendapatan dari asuransi kerugian.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengklaim pendapatan sebesar itu diperoleh dari 43 perusahaan asuransi anggota AAJI.

"Nilai tersebut terutama kami dapat dari pendapatan premi, yaitu sebesar Rp94,43 triliun atau tumbuh sebesar 24,28% ketimbang tahun sebelumnya," ujar Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim di Jakarta, Jumat (9/3).

Menurut Hendrisman, nilai pendapatan premi diperoleh dari pendapatan premi baru (new business premium) sebesar Rp67,65 triliun atau tumbuh 28,45% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Dari data kinerja AAJI tahun 2011, terlihat bahwa total jumlah nasabah asuransi kelompok meningkat tajam, sedangkan nasabah perseorangan menurun.

AAJI mencatat jumlah nasabah kelompok per akhir 2011 sebanyak 40.829.063 nasabah atau tumbuh 71,01% dari 23.873.916 nasabah pada 2010.Jumlah nasabah perseorangan justru merosot tipis dari 9.332.136 menjadi 8.991.932 orang pada periode yang sama. Pihak AAJI membantah pertumbuhan jumlah nasabah kelompok menggerus total nasabah perseorangan.

"Memang ada penurunan (jumlah nasabah perseorangan). Tapi jangan dipersepsikan bahwa itu karena tergerus pertumbuhan nasabah kelompok. Bukan berarti ketika seseorang sudah mendapat pertanggungan (asuransi) dari kantor lalu tidak mau lagi ikut asuransi perseorangan. Pasarnya berbeda," tutur Department Head of Communications AAJI, Nini Sumohandoyo.

Selama ini, produk asuransi perseorangan secara umum menawarkan pertanggungan lebih detail dan berbeda dengan fasilitas yang menjadi pertanggungan produk asuransi kelompok. Selain itu, nilai pertanggungan asuransi kelompok seringkali dianggap terlalu kecil untuk menutup (cover) biaya perawatan kesehatan, sehingga memerlukan tambahan dari produk asuransi perseorangan.

"Biasanya yang ditanggung oleh asuransi kelompok kan terbatas. Untuk berobat, misalnya, Rp70 juta, pertanggungannya hanya Rp50 juta. Biasanya kekurangannya ini diambilkan dari pertanggungan asuransi perseorangan. Dan lagi untuk kebutuhan yang lebih detail, misalkan beli kacamata, periksa gigi dan yang lain, itu biasanya tidak dicover dari kantor. Ini pentingnya asuransi perseorangan," katanya.

Dilirik Asing

"Pelaku industri asuransi jiwa diharapkan dapat menyiapkan produk service untuk kualitas kesejahteraan masyarakat," kata Benny Waworuntu.

Executive Director Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Benny Waworuntu, mengungkapkan hal itu saat meresmikan kantor pemasaran Manulife Indonesia, di Jakarta, Senin (3/10). Ini untuk mengantisipasi minat investor asing terhadap asuransi jiwa.

"Industri jiwa sedang dilirik investor luar. Ini alarm untuk bangunkan diri, semua pelaku harus bisa menyiapkan diri baik produk service dan lain-lain. Ini ujungnya bukan untuk industri saja tapi kualitas kesejahteraan masyarakat," kata Benny.

Menurut Benny, iklim investasi Indonesia yang baik turut mendorong investor dari luar negeri ke Indonesia. Dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat dan Eropa melambat membuat investor asing melirik ke Indonesia.

"Dalam pertemuan Pacific Insurance Confrence, Indonesia dinilai paling baik untuk industri bahkan ada mengatakan beberapa investor akan masuk dan mencari peluang untuk masuk," kata Benny.

Terkait investasi anggota Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Benny menuturkan, pihaknya mengimbau agar anggota AAJI dapat berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di pasar modal. Hal ini didorong dari kondisi bursa saham belum stabil.

Selain itu, pihaknya sedang menyiapkan untuk merapihkan praktik bisnis dan kode etik di industri asuransi jiwa.

Empat Pilar

Dean A. Connor, President and Chief Executive Officer Sun Life Financial dalam kunjungannya di Jakarta Selasa, (13/3) menegaskan bahwa pasar asuransi di Indonesia masih terbuka luas kesempatan untuk berkembang.

Untuk mendukung eksistensinya yang berada di peringkat ke-11 dalam pendapatan di Indonesia, perusahaan itu menetapkan empat pilar utama bisnis Sun Life Financial.

Keempat pilar itu adalah pertama, terus membangun posisi kepemimpinan Sun Life di Kanada dalam bidang asuransi, wealth management, employee benefits. Kedua, menjadi pemimpin untuk bisnis asuransi grup dan voluntary benefits di Amerika Serikat.

Ketiga, mendukung pertumbuhan MFS Investment Management dan memperluas bisnis manajemen aset Sun Life lainnya di seluruh dunia. Keempat, memperkuat kompetisi Sun Life Financial di Asia.

“Kami harapkan dalam dua-tiga tahun mendatang, kami bisa bergeser ke peringkat 10 besar,” katanya.

Menurut dia, pihaknya menangkap peluang menguatnya pertumbuhan ekonomi Asia yang didukung oleh peningkatan komposisi penduduk kelas menengah di Asia, Sun Life Financial mencatat pertumbuhan yang kuat pada 2011.

Sun Life Financial Asia berhasil membukukan pendapatan sebesar CDN$144 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar CDN$92 juta.

Di Indonesia, melalui dua anak perusahaannya yaitu PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Financial Indonesia) dan PT CIMB Sun Life (CIMB Sun Life), perusahaan asuransi asal Kanada ini mampu tampil menonjol dibandingkan dengan kompetitor-kompetitornya dengan mengandalkan pendekatan dinamis kepada saluran distribusi dan penjualan yang luas yang didukung oleh pendekatan kolaboratif melalui kerja sama dengan beberapa lembaga keuangan.

Pada 2011, Sun Life Financial Indonesia mencatat total pendapatan premi sebesar Rp 867,8 miliar dari Rp 779 miliar di 2010 atau bertumbuh sebesar 11% year-on-year (YoY). Sementara, CIMB Sun Life membukukan pertumbuhan total pendapatan premi sebesar 225% atau mencapai Rp943 miliar dari sebelumnya Rp290 miliar pada 2010. Secara total, pertumbuhan Sun Life Financial di Indonesia pada 2011 adalah sebesar 69% YoY.

“Sun Life Financial di Indonesia mengembangkan pendekatan kerja sama yang sangat fleksibel dengan rekan-rekan kami,” kata Bert Paterson, Country Manager Sun Life Financial di Indonesia.

“Misalnya, CIMB Sun Life mengembangkan pasar dengan mengedepankan model ‘holistik’ bancassurance menawarkan lima saluran distribusi kepada nasabah CIMB Niaga meliputi telemarketing, penjualan di cabang, tele-direct, credit link dan gabungan dengan produk perbankan,” jelasnya lagi.

Untuk lebih mendekatkan diri dengan nasabah dan mengikuti dinamika konsumen yang semakin berkembang, Sun Life Financial Indonesia juga masuk ke area digital dengan meluncurkan Sun Advisor. Produk ini adalah aplikasi asuransi pertama di Indonesia untuk memberikan kemudahan kepada agen agar dapat lebih memahami kebutuhan nasabah dengan pendekatan yang profesional, membantu meningkatkan produktivitas tenaga pemasar, dan efisiensi dengan berfokus pada kebutuhan nasabah yang spesifik dan menarik agen baru.

Pada 2012, Sun Life Financial Indonesia akan mengembangkan beberapa strategi bisnis antara lain meningkatkan jumlah agen penjual, memperluas jangkauan dan sekaligus meningkatkan produktivitas serta memperkuat kinerja strategis dengan lima mitra bancassurance. Di samping terus mencari mitra bank yang baru dan group afiliasi. Selain itu, Sun Life Financial Indonesia juga akan terus mengembangkan bisnis syariah yang hingga saat ini telah berkontribusi hingga 10% dari total bisnis.

“Peluang pasar asuransi di Indonesia masih terbuka sangat lebar, mengingat baru 10% penduduknya yang memiliki produk asuransi jiwa. Untuk merangkul pasar lebih luas, di sepanjang 2011, Sun Life Financial Indonesia membuka tujuh cabang baru di beberapa kota di Indonesia.

Ekspansi ini merupakan bagian dari komitmen Sun Life Financial Indonesia untuk terus memberikan solusi layanan asuransi yang mudah dan sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” kata Bert.

Senada dengan Bert, President Director Sun Life Financial Indonesia Johnson Chai mengatakan beberapa perusahaan asuransi asing sudah berancang-ancang untuk masuk ke Indonesia.

“Saya tidak etis untuk menyebutkan namanya. Tetapi yang jelas perusahaan asuransi itu dari Hong Kong dan Singapura. Bahkan beberapa di antaranya adalah perusahaan asuransi yang sudah pernah beroperasi di Indonesia, namun mereka keluar ketika krisis ekonomi menerpa pada 1997-1998. Kini mereka ingin masuk kembali,” katanya.

(agus/dbs)

Related posts