Komitmen Bersama Bagi Kemandirian Energi - Operation Manager PT Mosesa Petroleum : Made D Primaryanta

NERACA

Negara yang dapat melangkah menjadi negara maju adalah negara yang mau belajar dan bekerja keras untuk menjadi mandiri, tidak menutup diri terhadap negara lain dan memiliki sikap konsisten dalam memperjuangkan kemakmuran rakyatnya. Inilah buah pemikiran Made D Primaryanta, sosok yang telah 20 tahun bergelut dalam dunia eksplorasi migas.

Operation Manager PT Mosesa Petroleum ini menilai bahwa syarat utama untuk menuju kemandirian energi adalah masyarakat yang bermoral dan berpendidikan serta tegaknya pelaksanaan good governance, “Kerjasama dengan negara-negara maju hanya akan bermanfaat apabila negara berkembang tahu yang baik untuknya dan selalu meningkatkan pengetahuan dan teknologi masyarakatnya,” ungkap pria berdarah Bali dan Jawa ini berpendapat.

Lulusan S2 dibidang teknik perminyakan pada University of Tulsa, Oklahoma Amerika Serikat ini menuturkan keyakinannya bila kemampuan anak bangsa dalam bidang eksplorasi sudah cukup memadai, “Saya yakin kita mampu, namun eksplorasi bukan sekadar kemampuan dalam pengertian praktis,” ungkap ayah dua orang putra, Astrid (18) dan Evan (16) buah pernikahannya dengan Dina, perempuan asal Kota Solo ini.

Untuk melakukan ekplorasi, kata Made akrab ia disapa, kegiatan tersebut harus melalui pelbagai tahap yang membutuhkan dana yang tidak sedikit, “Terlebih untuk melakukan eksplorasi migas di laut dalam atau daerah terpencil di Indonesia,” ujarnya.

Potensi migas Indonesia memang masih cukup besar untuk dikembangkan, terutama pada wilayah terpencil, laut dalam, sumur-sumur tua dan kawasan Indonesia Timur yang relatif belum dieksplorasi secara intensif.

“Tingkat kesulitan ekplorasi terendah pada sumber-sumber migas, praktis telah habis. Kini yang tersisa adalah sumber migas dengan tingkat kesulitan ekplorasi yang lebih tinggi lagi,” ungkap pria yang matang pengalaman seputar kegiatan production, operation, dan drilling (pengeboran) di dunia migas.

Atas pertimbangan itu, keterlibatan investor luar masih sangat dibutuhkan. Untuk dapat mengetahui potensi tersebut, kata Made, kita memerlukan teknologi berbiaya sangat mahal, modal yang besar, dan faktor waktu yang memadai, “Termasuk faktor efisiensi yang maksimal serta expertise dari sumberdaya manusia terbaik,” tuturnya.

Selain itu peraturan pemerintah yang mengatur usaha minyak dan gas bumi di hulu dan hilir, terkadang belum dapat menjamin investasi di sektor minyak dan gas bumi, karena masih banyak masalah lain yang menjadi hambatan bagi terealisasinya investasi, “Ada model yang harus disesuaikan untuk menarik investor asing agar tertarik beroperasi diwilayah terpencil dengan kesulitan eksplorasi yang tinggi,” ungkapnya.

Berdasarkan data Kementrian ESDM, terdapat 128 cekungan yang memiliki potensi migas yang melimpah. Namun hanya sekitar 15% saja yang sudah dieksplorasi dan dieksploitasi, sementara cekungan lainnya masih dalam proses penelitian dan pengembangan.

Made pun menilai, bahwa sebenarnya Indonesia mampu melakukan kegiatan eksplorasi karena memiliki sumberdaya manusia yang andal dibidangnya, namun dalam hal teknologi, ia menilai masih tergantung dengan bangsa asing. “Yang kita lakukan adalah melakukan inovasi dari teknologi yang sudah ada,” tutur Made.

Ia berharap dimasa mendatang, perhatian untuk melakukan pelbagai riset terkait teknologi dapat dilakukan disemua universitas di Indonesia, “Baik pemerintah dan kalangan usaha lainnya, harus mendorong agar kegiatan riset dan penelitian dari kalangan akademisi dapat berjalan dalam menumbuhkembangkan penggunaan teknologi dipelbagai bidang usaha,” ungkapnya.

Penggemar wisata kuliner dan traveling ini mencontohkan, banyak siswa terbaik telah membuktikan diri dengan memenangkan pelbagai ajang lomba science internasional, namun setelah masuk ke perguruan tinggi, potensi keilmuan siswa tersebut seakan hilang.

“Bila kampus mampu menampungnya dengan fasilitasi labotarium yang memadai untuk melakukan riset, maka saya yakin akan muncul teknologi hebat, termasuk dibidang teknologi pertambangan dari anak-anak bangsa,” ujarnya yakin.

Seiring persoalan eksplorasi dan cadangan migas, penggunaan energi ditengah masyarakat juga patut mendapat perhatian, terutama dalam penggunaan BBM bagi transportasi masyarakat. “Kebijakan-kebijakan pemerintah terkait transportasi, juga diperlukan untuk penghematan energi termasuk BBM,” tandas dia.

Dan implikasi nyata dengan menaikkan harga BBM yang direncanakan mulai berlaku 1 April 2012, adalah memicu kenaikan tarif angkutan umum dan harga lainnya. “Dengan banyaknya keluhan layanan angkutan umum,” kata Made, orang akan berbondong-bondong mengendarai kendaraan pribadi yang akan lebih memperparah kemacetan sekaligus meningkatkan konsumsi BBM. “Mau naik angkutan umum makin mahal, lama dan tidak nyaman, naik motor juga macet dan polusi makin parah. Tetap saja pengeluaran untuk BBM makin membengkak akibat kemacetan,” ungkapnya

Karena itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan mengatasi krisis energi, jelas Made, seperti meningkatkan cadangan dan produksi migas, meningkatkan pemanfaatan energi non migas, mengurangi subsidi harga energi dan meningkatkan kemampuan nasional.

Untuk dapat mengamankan sistem energi nasional, pemerintah sebenarnya telah menerapkan beberapa kebijakan bidang energi. Di antaranya meningkatkan cadangan minyak bumi dan produksi minyak mentah serta bahan bakar minyak (BBM), diversifikasi sumber daya energi, peningkatan penggunaan energi terbarukan, efisiensi dan penghematan konsumsi energi, peningkatan produksi energi final yang bersih dan ekonomis serta jaminan pemerataan distribusi energi.

“Namun semua itu dapat berjalan, apabila semua elemen masyarakat memiliki komitmen bersama dalam mewujudkan kemandirian energi yang kelak akan dinikmati oleh generasi selanjutnya dikemudian hari,” ujarnya menghimbau.

Related posts