Tutupi Belanja Modal, Samator Terbitkan Obligasi Rp 500 Miliar

Neraca

Jakarta - Perusahaan penghasil gas industri terbesar di Indonesia, Samator Group, berencana menerbitkan surat utang berkisar Rp400-500 miliar pada tahun depan. "Kami akan menggunakan jasa AAA Securities," kata Executive Vice President Samator Group Rachmat Harsono di Jakarta, Selasa (13/3)

Kata Rachmat, dana hasil penerbitan obligasi ini akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) dan membiayai kembali (refinancing) obligasi I. Saat ini belanja modal perseroan telah dialokasikan untuk ekspansi ke Makassar, Batam dan Surabaya lantaran meningkatnya kebutuhan pasokan gas dari perseroan.

Rencana penerbitan obligasi ini, perseroan bakal menggunakan buku laporan keuangan Desember 2012. Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan sekitar Rp950 miliar. Target tersebut didukung dari kontrak dengan Wilmar selama 15 tahun yang dimulai pada Mei 2012 dan Subang yang akan dimulai pada pertengahan 2012.

Kemudian soal penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), kata Direktur Utama Samator Arief Harsono, masih dalam penjajakan. Bahkan, investor Jepang dan Singapura menginginkan perusahaan ini dapat mencatatkan sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia. "Ya, banyak permintaan dari Jepang dan Singapura. Namun, kita masih kaji terus," ujarnya.

Bangun Pabrik Oksigen

Selain itu, PT Samator Gas Industri bekerjasama PT Krakatau Steel melalui anak usahanya PT Krakatau Engineering dan Bapelkes Krakatau Steel sepakat mendirikan pabrik oksigen dengan kapasitas 45.000 meter kubik per jam.

Dalam rencana pembangunan pabrik oksigen tersebut, nantinya akan dibentuk perusahaan patungan yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh Samator. Menurut Dirut Krakatau Steel Fazwar Bujang, investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik tersebut mencapai sekitar US$ 80 juta. “Selain dari internal perusahaan, pembiayaan pembangunan pabrik tersebut juga akan dibiayai dari pinjaman perbankan," paparnya.

Dia menjelaskan, pembangunan pabrik dimulai pada tahun 2012 dan diproyeksikan beroperasi pada 2014. Diharapkan, pembangunan pabrik oksigen itu dapat membantu kebutuhan gas Krakatau Steel.

Fazwar mengungkapkan, total kebutuhan oksigen Krakatau Steel mencapai 165.000 meter kubik per jam. Sesungguhnya Krakatau Steel sendiri sudah memiliki pabrik oksigen namun kapasitas produksinya masih sangat kecil atau 9.000 meter kubik per jam.

Maka untuk memenuhi kebutuhan total oksigen tersebut, akan dibangun pabrik oksigen kerja sama dengan perusahaan oksigen Linde, Jerman dengan kapasitas 100.000 meter kubik per jam. "Hasil produksi oksigen Linde ini untuk memasok kebutuhan pabrik Posco (perusahaan baja patungan antara Krakatau Steel dan Korea Selatan,"ujarnya.

Selama ini pabrik oksigen yang sudah beroperasi dan bekerja sama dengan Perancis memiliki kapasitas 20.000 meter kubik per jam. Pembangunan pabrik oksigen Krakatau Steel Grup tersebut diharapkan juga untuk memasok oksigen bagi perusahaan atau pabrik- pabrik yang ada di kawasan Cilegon.

Sementara itu, CEO Samator Group Arief Harsono mengatakan, kerja sama Krakatau dengan Samator ini akan menjadikan pabrik tersebut menjadi produsen oksigen nomor dua terbesar di ASEAN. “Adanya tambahan oksigen tersebut, maka memudahkan Krakatau Steel untuk mengembangkan industri baja," kata Arief.

Saat ini Samator memiliki sebanyak 32 pabrik gas yang menghasilkan oksigen, nitrogen dan argon yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Pada tahun 2014 Samator menargetkan kapasitas produksi oksigen akan mencapai sekitar 75.000 meter kubik per jam, dari saat ini sekitar 30.000 meter kubik per jam. (bani)

Related posts