Kredit Belum Cair Debitur naik - Di Sumut

NERACA

Medan--- Dana kredit perbankan Sumatera Utara yang belum dicairkan debitur pada Januari 2012 meningkat atau menjadi Rp8,29 triliun yang diduga karena kekhawatiran pengusaha akibat krisis ekonomi masih berlangsung. "Dibandingkan posisi Januari dan Desember 2011, kredit yang belum dicairkan debitur pada Januari 2012 memang meningkat 16,60% dan 8,08%. Pada Januari dan Desember 2011 masih Rp7,11 triliun dan Rp7,67 triliun, maka di Januari 2012 mencapai Rp8,29 triliun" kata Kepala Bidang Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Medan, Mikael Budisatrio, di Medan, Selasa.

Berdasarkan laporan perbankan, kata Mikael, kenaikan kredit yang belum diserap itu dipicu persetujuan kredit lama yang juga sebagian belum dicairkan debitur dan ditambah ada pencairan pinjaman baru yang juga belum diambil pengusaha. Kredit perbankan di Januari sendiri diakui masih melemah atau Rp105, 07 triliun diandingkan Desember 2011 yang sudah Rp106,55 triliun.

Mikael mengingatkan perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit dan mendorong manajemen bank agar bisa menyuruh debitur mencairkan dana kredit yang sudah disetujui. Namun, BI juga tetap mengingatkan agar perbankan juga hati-hati untuk menghindari risiko kredit macat, meski hingga di posisi Januari 2012, kredit bermasalah perbankan Sumut secara net tergolong rendah atau 1,61%.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Sumut, Parlindungan Purba mengakui bahwa pengusaha daerah itu masih ragu untuk menambah investasi khususnya menggunakan dana perbankan karena dampak krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang masih dirasakan.

Laporan dari anggota asosiasi, pengusaha ragu berinvestasi baru atau sekadar menambah modal, apalagi dengan dana bank karena perdagangan yang masih sangat fluktuatif dampak krisis di AS dan Eropa,

Padahal, kata Parlindungan, pengusaha sangat ingin memanfaatkan pinjaman bank dengan suku bunga yang turun meski belum sekencang penurunan BI rate dan termasuk menggunakan dana kredit yang sudah disetujui bank.

Mudah-mudahan, pasar ekspor membaik dan tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat di dalam negeri sebagai dampak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sehingga pengusaha berani menambah investasi. **cahyo

Related posts