Merajut Keuntungan dari Bisnis Handicraft


Nilai sebuah handicraft tidak hanya dipandang dari segi fungsional semata. Paduan antara nilai guna dan nilai seni yang tinggi, menjadikan kerajinan tangan banyak diminati oleh banyak orang.

NERACA

Manisnya keuntungan bisnis bermodal minim dari keterampilan tangan dalam mencipta, berkreasi dan memproduksi barang bernilai ekonomis tinggi, mengundang banyak kalangan pebisnis menggeluti usaha handicraft (kerajinan tangan).

Tengok saja Provinsi Bali dengan kerajinan tenunnya, yang mampu mencetak nilai ekspor hingga US$ 2,33 juta sepanjang 2011 lalu ke sejumlah negara Eropa, Asia dan Amerika. Ekspor kerajinan khas Bali memang terus meningkat dari hanya US$ 1,53 juta pada 2010.

Namun Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bali memprediksi nilai ekspor berbagai komoditas dari Pulau Dewata akan lebih menurun dibandingkan dari 2011. “Kami memprediksi terjadi penurunan nilai ekspor pada tahun ini berdasarkan kondisi krisis ekonomi global yang belum juga membaik," kata Ketua Apindo Bali Panudiana Kuhn.

Ia menilai, kondisi krisis ekonomi itu masih melanda beberapa negara tujuan ekspor berbagai komoditas dari Bali. Menurut Kuhn, dalam keadaan tersebut negara-negara tujuan ekspor akan mengutamakan produk pangan dibandingkan dengan jenis barang lainnya, seperti kerajinan.

“Krisis global sangat mempengaruhi ekspor Bali yang umumnya berupa produk kerajinan, karena negara tujuan lebih mengutamakan bahan pangan,” ujarnya.

Selain dipengaruhi krisis ekonomi di kawasan Amerika Serikat dan Eropa, nilai ekspor juga dipengaruhi oleh persaingan dari negara produsen lainnya, salah satunya China. Dia menambahkan, sampai saat ini China masih mendominasi dan berada di posisi teratas dalam hal mengekspor produk yang ada di pasaran dunia.

“Hal itu merupakan tantangan berat yang harus dihadapi eksportir Bali pada tahun ini. Saat ini semua tergantung pemerintah untuk bisa memberikan solusi guna mempertahankan nilai ekspor supaya tidak terus menurun,” ungkapnya.

Jika pemerintah dapat memberikan solusi yang baik bagi para eksportir, lanjut Kuhn, maka nilai ekspor tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu. Atau beberapa eksport mebel dari kayu dan rotan masih memberikan kontribusi yang terbesar ditahun 2011.


Kerajinan Kayu

Ekspor kerajinan mebel berbahan kayu, memang terbilang fantastis. Tahun 2011 lalu bahkan ekspor kerajinan kayu dapat mencapai US$800,68 juta, sedangkan kerajinan berbahan rotan menembus US$ 154,16 juta. Ada pula kerajinan dari bambu yang menoreh pembukuan laba hingga US$ 10,13 juta, dan kerajinan berbahan metal mencapai senilai US$ 100,53, bahan plastik US$ 51,34 juta, dan bahan lainnya US$ 664 juta.

Rotan sebagai primadona sumber devisa yang besar, karena Indonesia sebagai negara terbesar penghasil rotan di dunia.

Di luar negeri industri rotan dengan skala besar berada di China dan Filipina, yang produknya berupa barang jadi. Sedangkan di Indonesia industri yang dikatakan cukup besar berada di Jawa Timur (Gresik) dan Jawa Barat (Cirebon) produknya sebagian besar berupa barang setengah jadi untuk diekspor.

Dewasa ini industri kecil (home industry) semakin banyak lokasinya berada di sekitar industri besar, dengan memanfaatkan bahan baku dari industri yang tidak layak diekspor atau dari petani pemungut rotan, dari mereka lah produk berupa bahan setengah jadi dan barang jadi kemudian dipasarkan di dalam negeri.

Komitmen pemerintah Indonesia dalam mengembangkan hilirisasi rotan di luar Pulau Jawa dapat dilihat dari peningkatan investasi untuk pembangunan sentra industri rotan di luar Pulau Jawa dari 33% pada 2010 menjadi 41% pada 2011.

Hal ini membuktikan bahwa potensi pasar untuk usaha kerajinan rotan masih terbuka lebar. Bahkan membuktikan bahwa rotan masih menjadi primadona kerajinan khas dari Indonesia. Potensi ini terbuka tidak hanya dari kalangan pengrajin saja, dari sisi marketing pun kita masih bisa mengambil peluang untuk memasarkan produk kerajinan ini. Tentunya tidak hanya di dalam negeri saja, tapi juga ke luar negeri.

Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahjono menuturkan bahwa ekspor mebel dari kayu dan rotan masih memberikan kontribusi yang terbesar, terutama pada pangsa pasar Eropa dan Amerika Serikat. “Kami tetap berusaha membidik pasar alternatif ekspor, terutama mebel ke beberapa negara seperti China, India, Taiwan dan negara-negara di Asean,” ungkapnya.

Namun diakui bahwa potensi bisnis terbesar adalah dari produk mebel dan kerajinan gaya hidup rumah tangga, yang telah memiliki pembeli setia di Indonesia. Sementara mebel dan kerajinan kayu yang diproses dengan mesin, dapat menjadi daya tarik tersendiri terutama dengan melihat peningkatan respon pasar pada 2011.

Dengan sumber daya, kreativitas, dan inovasi yang dimiliki industri permebelan dan kerajinan Indonesia, diharapkan bisnis kerajinan dan mebel mampu memberi kontribusi yang signifikan bagi roda perekonomian bangsa.

Pendapatan melalui ekspor kerajinan dan mebel bukan perkara kecil. Sejumlah negara berkapita lebih baik dari Indonesia, bahkan menilai kerajinan merupakan potensi pendapatan yang dapat mengundang jutaan dollar. Mereka berlomba menggelar penghelatan akbar memperkenalkan produk kerajinan dengan megah, guna menarik pembeli mancanegara.

Seperti halnya yang dilakukan Indonesia dengan International Furniture & Craft Fair Indonesia (IFFINA), ada pula China International Furniture Fair (CIFF) di Guangzhou; Spoga Cologne di Köln, Jerman; International Furniture Market (IFM) di Kuala Lumpur, Malaysia; Maison & Objet di Paris, Prancis dan Furniture Shanghai 2011 di Shanghai, China.



Related posts