Anti Klimak Lobian Dahlan Menuai Hasil Minat Pengusaha Besar - Penjualan 10,88% Saham Garuda

NERACA

Jakarta - Entah karena belum terpanggil atau tidak tertarik, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan akhirnya menyurati lima pengusaha besar nasional agar membeli 10,88% saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melalui tiga penjamin emisi (underwriter) perseroan. Kelima pengusaha tersebut Sandiaga Salahuddin Uno, Rachmat Gobel, Anthony Salim, Chairul Tanjung, dan Nirwan Dermawan Bakrie.

Beruntung, dari kelima pengusaha ini, tiga diantaranya sudah membalas surat Dahlan dan menyatakan berminat membeli saham maskapai penerbangan pelat merah. Mereka adalah Sandiaga Uno mewakili Saratoga Group, Rachmat Gobel mewakili Panasonic Gobel Group, serta Chairul Tanjung mewakili CT Group. "Dua hari yang lalu (Jumat, 9 Maret 2012), saya mengirimkan pesan pendek melalui telepon seluler ke lima pengusaha. Alhamdulillah, Sandiaga, Gobel, dan Chairul Tanjung berminat," kata Dahlan, saat ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (12/3).

Dia berharap kepada tiga pengusaha nasional tersebut supaya dapat menyerap saham GIAA dengan menggunakan harga pasar sekarang. Hal ini dilakukan untuk menghindari saham maskapai BUMN ini jatuh ke tangan asing.

Langkah Dahlan ini seperti “menjilat ludah sendiri.” Pasalnya, mantan direktur utama PLN ini pernah berikrar tidak akan ikut campur dalam rencana tiga sekuritas pelat merah itu melepas saham GIAA. Kala itu, dia beralasan karena hal tersebut murni aksi korporasi perusahaan. "Saya serahkan kepada mereka (underwriter), mana keputusan yang terbaik. Kalau belum ada yang membeli mau diapakan, ya, terserah mereka," tukasnya.

Ketiga penjamin emisi GIAA ini adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. Total saham yang dimiliki ketiga penjamin itu sebanyak 3.008.406.725 lembar senilai Rp 2,256 triliun. Sistem single point berlaku pada perjanjian penjaminan emisi perseroan. Artinya, mereka bertiga wajib membeli dengan proporsi yang berimbang, yaitu masing-masing Rp 752 miliar.

Karena penjualan sahamnya tidak laku, akhirnya ketiga sekuritas itu memborong sisa sahamnya yang dijual ke publik tersebut dengan harapan bisa dijual kembali di kemudian hari. Celakanya, jika saham tersebut terus dipegang oleh ketiganya, maka akan berbahaya terhadap laporan keuangan akhir tahun karena berpotensi menjadi kerugian.

Sektor strategis

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara mengecam pembelian saham GIAA oleh asing dengan embel-embel posisi direktur keuangan. Pasalnya, langkah ini akan merugikan negara baik secara ekonomi, finansial, manajemen, dan kontrol, maupun secara politik, strategis, kemandirian, ketahanan, serta kedaulatan bangsa.

Selain itu, bisnis penerbangan adalah sektor strategis yang dijamin konstitusi untuk dikuasai negara. Lalu, sektor penerbangan yang dikelola GIAA menyangkut pertahanan, ketahanan, dan kedaulatan negara yang harus dikelola penuh oleh BUMN. Oleh karena itu, sambung Marwan, audit pelaksanaan IPO harus segera dilakukan dan segera lakukan penundaan penjualan 10,88% saham GIAA.“Kalau dijual, dugaan saya untuk menghilangkan jejak penyelewengan, sekaligus membebaskan pelaku dari tanggungjawab kerugian negara. Hal ini harus terlebih dahulu dituntaskan Kementerian BUMN, DPR dan lembaga terkait lainnya,” kata Marwan. [ardi]

Related posts