BKDI Incar Transaksi US$ 200 Juta Perhari - Luncurkan Transaksi GOFX

NERACA

Jakarta – Pacu pertumbuhan transaksi industri bursa berjangka, Indonesia Commodity & Derevatives Exchange (ICDX) atau PT Bursa Komiditi Derivatif Indonesia (BKDI) meluncurkan transaksi GOFX (Gold, Oil, Forex) kontrak spot forex di awal tahun ini. Dengan peluncuran ini, diharapkan nilai rata-rata transaksi mencapai US$ 200 juta perhari.

Chief Executive Officer ICDX, Lamon Rutten mengatakan, pada tahap awal pelaku pasar dapat bertransaksi produk emas dan forex. Tapi, pada pertengahan tahun ini, produk minyak mentah telah dapat ditransaksikan secara spot.”Ini artinya, kontrak spot forex di dalam GOFX merupakan kontrak spot forex pertama di antara bursa berjangka ASEAN yang langsung ditransaksikan dalam bursa,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya menjelaskan, dengan kontrak spot GOFX ini, maka akan menjangkau investor ritel karena nilai satuan perdagangan menjadi US$ 10 ribu per lot untuk forex dan 10 troy onze per lot untuk emas atau tumbuh dari tadinya untuk forex harus US$ 1 juta perlot. Maka dengan demikian, nilai transaksi dalam ICDX dapat mencapai US$ 200 juta perhari. Hal itu berasumsikan nilai transaksi forex perhari mencapai US$ 1 miliar, tapi dilakukan di luar bursa.

Menurutnya, dengan adanya GOFX, diharapkan dari transaksi forex yang masuk bursa sekitar 20% - 40% saja, maka ketemu angka US$200 juta perhari. Lebih lanjut diungkapkannya, pasar GOFX didukung oleh pengerak pasar bertaraf internasional sehingga penggunanya mendapatkan akses langsung ke pasar global interbank. Hal ini menciptakan likuiditas tinggi dengan penawaran harga jual dan harga beli yang beragam dan berdaya saing.

Asal tahu saja, di awal tahun ini baik BKDI maupun Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) terus berlomba lomba memacu pertumbuhan transaksi di bursa komoditi dengan ramaikan produk baru dan mendorong pertumbuhan investor lewat sosialisasi. Di tahun politik ini, kata Direktur Utama BBJ Stephanus Lumintang pernah bilang, industri perdagangan berjangka komoditi diprediksi tetap tumbuh signifikan karena bisa menjadi alternatif investasi baru.

Bahkan, menurut Paulus, perdagangan berjangka komoditas bisa menjadi kesempatan dan alternatif untuk investasi yang "aman" di tengah tahun politik dan ketidakpastian global.”Ini perdagangan berjangka komoditas adalah pasar global, bukan pasar lokal. Benar-benar sebuah kesempatan. Karena itu kami optimistis tumbuh pada tahun 2019," ujar Paulus.

Diakuinya, dibanding pasar modal, perdagangan berjangka komoditas terbilang lambat pertumbuhannya. Saat ini bursa komoditas baru memiliki sekitar 200.000 account atau nasabah.”Jadi ruang untuk tumbuhnya masih sangat besar," kata Paulus.

BERITA TERKAIT

Nilai Transaksi Saham Sepekan Naik 3,07%

NERACA Jakarta – Sepekan kemarin, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuhan rata-rata frekuensi transaksi sebesar 5,53% menjadi 464,93 ribu…

Manfaatkan e-Smart IKM, Omzet Usaha Jaket Tembus Rp 50 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin serius mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri agar terus memanfaatkan…

Demi 18 Juta Wisman, Kemenpar Bakal Perbanyak Diskon Wisata

Menteri Pariwisata Arief Yahya optimis bisa mendatangkan setidaknya 18 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini, atau sekitar 90 persen dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lima Emiten Belum Bayar Listing Fee

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah emiten yang mengalami gangguan keberlangsungan usaha atau going concern dan berakibat tidak mampu…

Rayakan Imlek - Kobelco Berikan Special Promo Konsumen

NERACA Jakarta - Rayakan Imlek 2570, PT Daya Kobelco Construction Machinery Indonesia (DK CMI),  menggelar  customer gathering dari seluruh Indonesia.…

WSBP Pangkas Utang Jadi Rp 4,7 Triliun

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) telah menerima pembayaran termin pada Januari 2019 yang digunakan perseroan untuk pelunasan pinjaman perseroan.…