Bank Commonwealth Luncurkan Aplikasi Wealth Management

NERACA

Jakarta - Bank Commonwealth meluncurkan aplikasi CommBank SmartWealth yang merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang berfokus pada solusi wealth management secara komprehensif (The first comprehensive Wealth Management application in the market) dan dilengkapi dengan fitur robo-advisory yang memberikan rekomendasi alokasi aset investasi untuk membantu mengoptimalkan investasi nasabah sesuai dengan profil risikonya di mana saja dan kapan saja.

Dari sisi perekonomian, CEO Schroders Indonesia, Michael Tjoajadi menjelaskan perekonomian global di tahun 2018 cukup bergejolak dan penuh ketidakpastian, kondisi tersebut diprediksi akan terus berlanjut di tahun 2019. Sepanjang tahun 2018, kondisi perekonomian global banyak mempengaruhi pasar Indonesia antara lain sentimen negatif akibat isu perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat serta pelemahan rupiah, yang membuat Bank Indonesia (BI) turut menaikkan suku bunga acuannya.

Meski demikian, Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonominya tetap positif. “Di tahun 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif didukung oleh pemulihan daya beli domestik. Pasar modal Indonesia pun mulai bergairah di mana para investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia. Namun, kita harus tetap waspada dengan kondisi ekonomi global yang dapat berimbas pada kondisi pasar domestik,” tutur Michael, seperti dikutip dalam keterangannya, kemarin.

Sementara itu, Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan, “Setelah pasar Indonesia pada 2018 terimbas negatif oleh sentimen global, seperti kenaikan suku bunga acuan AS dan friksi perang dagang antara AS dan Tiongkok. Pada tahun 2019 diperkirakan kondisinya akan lebih baik, didukung oleh sikap The Fed yang melunak dalam menaikkan suku bunga secara agresif pada tahun ini dan harapan membaiknya hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok setelah pertemuan di G20. Namun, tantangan yang akan dihadapi adalah kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi setiap negara termasuk Indonesia.”

Ivan menjelaskan lebih lanjut, di tengah kondisi pasar yang fluktuatif dan sejalan dengan misi Bank Commonwealth untuk menjadi pemimpin pasar dalam menyediakan solusi keuangan digital untuk nasabah Retail dan SME (‘to be the market leader in providing Digital Financial Solutions for our Retail & SME target customers’), Bank Commonwealth meluncurkan aplikasi CommBank SmartWealth yang memudahkan nasabah memonitor pertumbuhan seluruh portofolio produk wealth management yang mencakup produk investasi seperti reksadana dan obligasi (bonds), asuransi (bancassurance), dan tabungan serta deposito kapan saja dan di mana saja. CommBank SmartWealth juga memberikan notifikasi berita perkembangan pasar domestik dan global secara reguler dan fitur messaging untuk berkomunikasi dengan relationship manager.

Keunikan dari aplikasi yang baru saja memecahkan dua rekor MURI sebagai “Aplikasi Digital Perbankan Pertama dengan Layanan Robo Advisory” dan “Aplikasi Digital Perbankan Pertama yang Mengintegrasikan Informasi Kepemilikan Produk Wealth Management secara Menyeluruh” ini adalah fitur robo-advisory yang memberikan rekomendasi alokasi aset investasi untuk membantu mengoptimalkan investasi nasabah sesuai dengan profil risikonya. “Dengan fitur robo-advisory ini, nasabah dapat memantau portofolio mereka dan dapat mengoptimalkan investasi dengan cara yang sederhana (simple), cerdas (smart), dan terintegrasi (integrated), di mana saja dan kapan saja. Dengan teknologi ini Nasabah benar – benar mendapatkan fleksibilitas tinggi dalam mengoptimalkan portofolio investasi mereka di waktu dan tempat yang nyaman bagi Nasabah,” tutup Ivan.

Sepanjang tahun 2018, kondisi pasar Indonesia mengalami volatilitas akibat dari sentimen negatif global yang terutama disebabkan oleh kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan isu perang dagang antara AS dan Tiongkok, dimana hal tersebut diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2019. Di tahun 2019 ini juga, Indonesia memasuki tahun politik di mana Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) akan dilangsungkan secara serentak pada 17 April 2019 mendatang.

“Kami melihat bahwa kondisi politik Indonesia saat ini masih cukup stabil menjelang Pilpres dan Pileg serentak di bulan April 2019 nanti. Walaupun tidak ada korelasi langsung antara peristiwa politik dengan performa ekonomi, namun tetap ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh para investor. Pasalnya perubahan struktur pemerintahan dapat berdampak pada kebijakan-kebijakan ekonomi sebuah negara. Tapi saya percaya pesta demokrasi di tahun ini tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi ekonomi di tanah air,” kata Executive Director Charta Politika Yunarto Wijaya.

BERITA TERKAIT

Optimalkan Reksa Dana Syariah - Xdana Investa Rilis Aplikasi Xdana Syariah

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan industri reksadana syariah lebih pesat lagi, berbagai macam inovasi dilakukan manejer investasi untuk menarik masyarakat…

APLIKASI BIONS

APLIKASI BIONS : kiri ke kanan. Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo, Kadiv Pengembangan TI BEI Abdul Munim, Presdir BNI…

WIKA Realty Luncurkan SkyBox Apartment Tangerang

WIKA Realty Luncurkan SkyBox Apartment Tangerang NERACA Jakarta - PT Wijaya Karya Realty (WIKA Realty), anak usaha PT Wijaya Karya…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen pada rapat…

Investree Resmi Kantongi Izin OJK

    NERACA   Jakarta - PT Investree Radhika Jaya (Investree) sebagai pionir marketplace lending di Indonesia resmi mengantongi Izin…

Donasi Asuransi, Sun Life Berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa

    NERACA   Jakarta - PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa meluncurkan produk terbaru…