Rupiah “Kalah” Lagi Dengan Dolar

NERACA

Jakarta----Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp9.160 per USD dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.114-Rp9.206 per USD.

Menurut analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, kendati pasar global ditutup menguat pada akhir perdagangan lalu, tetapi sentimen negatif dari kinerja perdagangan China tampaknya akan mengganggu pasar Asia hari ini. "Rupiah kembali melemah menuju kisaran antara Rp9.140 sampai dengan Rp9.160 per USD," ujarnya

Sementara itu, Head of Research Treasury Divison BNI Nurul Eti Nurbaeti menjelaskan, rupiah bergerak dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. Pernyataan Fitch bahwa jika pemerintah Indonesia bakal mengimplementasikan kebijakan kenaikan harga BBM pada April mendatang cenderung memberikan sentimen positif bagi sovereign rating (surat utang) Indonesia.

Potensi berkurangnya defisit APBN berdampak terhadap penambahan keuangan dari sisi fiskal pun akan dapat terealisir. Di sisi lain, penutupan index Dow Jones yang berada di zona positif diprediksi dapat menggiring terapresiasinya rupiah. "Namun turunnya level NDF rupiah dipasar valuta asing perlu diwaspadai karena cenderung menghambat pergerakan penguatan rupiah," ujarnya

Sedangkan, Treasury Analyst Telkom Sigma, Rahadyo Anggoro menilai niilai tukar rupiah pada awal pekan ini diprediksi bergerak positif meskipun perlahan. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) disinyalir menjadi penggerak menguatnya rupiah. Salah satu faktor positif pergerakan rupiah adalah suku bunga acuan atau BI rate yang tetap ditahan di level 5,75%. "Untuk hari ini range rupiah berada dikisaran Rp9.100-Rp9.150 per USD," paparnya

Sentimen positif lain dalam negeri juga datang dari pengalihan subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), bisa digunakan untuk hal yang lain seperti pendidikan serta infrastruktur. "Namun itu baru sebatas optimisme BI, hanya teori," jelas dia.

Dilihat dari kondisi regional, sentimen positif datang dari mata uang euro yang terpantau menguat karena restrukturisasi utang Yunani setelah menyelesaikan obligasi swap dengan kreditor swasta. Pemegang obligasi swasta sebesar 172 miliar euro dari total 206 miliar euro yang telah disetujui untuk obligasi swap tersebut.

Sebagaimana diketahui, pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu rupiah menurut kurs tengah BI menguat dibanding hari sebelumnya yaitu berada di level Rp9.133 per USD. Melihat pergerakan rupiah selama seminggu pekan lalu memang sangat fluktuatif. Rupiah mencatatkan level terendahnya hampir mendekati Rp9.200 pada tengah minggu, Rabu 7 Maret, yaitu berada di level Rp9.180 per USD.

Namun menurut Rahadyo, kecil kemungkinan rupiah bisa melesat hingga Rp9.200. Karena menurutnya BI sebagai Bank Sentral akan terus menjaga kisaran rupiah berada di bawah level tersebut. "BI pasti jaga, agar tidak melemah hingga Rp9.200 per USD," tutupnya. **cahyo

Related posts