Bapepam-LK Targetkan Kelola Dapen Rp 152,46 Triliun - Investasi di Surat Berharga Masih Utama

NERACA

Jakarta -Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mematok pertumbuhan nilai kelola dapen (dana pensiun) pada tahun ini tumbuh sekitar 12%. “Jika memang pertumbuhan kita konsisten dengan pola yang serupa, maka tahun ini kita memperkirakan akan mengalami pertumbuhan sekitar 10-12% atau mencapai Rp 152,46 triliun dibandingakan dengan tahun lalu yang mencapai Rp 136,13 triliun,”kata Kepala Biro Dana Pensiun, Bapepam-LK Dumoli Pardede di kantornya, Senin (12/3).

Menurutnya, rasa optimis ini dipengaruhi karena kondisi pasar modal yang positif serta perkembangan jumlah nasabah dana pensiun yang terus meningkat. “Hingga kini, jumlah anggota dana pensiun baru mecapai 2,8 juta jiwa. Tapi jumlah segini masih tergolong sedikit apabila dibandingakan dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa,”ujarnya

Dia menyampaikan, kebanyakan dana pensiun tersebar dalam berbagai instrumen investasi mulai surat berharga negara, reksadana, obligasi korporat, saham, sertifikat Bank Indonesia dan deposito.

Hingga sampai saat ini, pihaknya belum memberikan produk baru untuk anggotanya. Pasalnya, Bapepam-LK sifatnya menunggu produk baru apa yang ada di pasar untuk layak di investasikan. Asal tahu saja, dalam periode 2007-2011, dana pensiun meningkat setiap tahun. Tercatat pada tahun 2007 dana pensiun mencapai Rp 87,9 triliun, Rp 86,55 triliun pada 2008, Rp 108,06 triliun di 2009, Rp 125,72 di 2010, lalu tahun 2011 sekitar Rp 136,13 triliun dengan jumlah aset tahun lalu Rp 141 triliun.

Sementara itu, terkait dengan investasi emas dengan menggunakan dana pensiun, Dumoli mengaku belum bisa membolehkan dana pensiun untuk penyertaan investasi emas. Mengingat infrastruktur peraturan yang mengatur investasi emas belum ada. "Kalau investasi lainnya kita punya peraturannya tapi untuk investasi emas, kita belum punya peraturannya,” tambahnya.

Seperti diketahui, sebelumnya dalam PMK No. 99 Tahun 2008 regulator melarang industri dana pensiun untuk berinvestasi emas. Dasar pemikirannya adalah logam mulia ini kurang produktif dengan potensi pertumbuhan yang minim. Sebelumhya, saat harga emas yang merangkak naik sejak awal 2011, Bapepam-LK bersama industri melakukan kajian risiko dan likuiditas untuk membayar manfaat bagi pensiun. “Kita masih belum mengetahui emas apa yang harus dibeli, karena karatnya berbeda-beda. Misalnya, emas di Jakarta, emas di Medan, emas di Antam semua berbeda,” ujar Dumoli.

Dana Pensiun BUMN

Selain itu, dia juga mengungkapkan bila pendapatan dana pensiun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tahun 2011 mencapai Rp 5,30 triliun dari total investasi yang ditanamkan sebesar Rp 83,12 triliun. Jumlah tersebut jauh melampaui perolehan dari non BUMN yang tercatat hanya mencapai Rp2,66 triliun dari total investasi sebesar Rp53,01 triliun.

Menurut Dumoli, investasi dana pensiun BUMN tersebut paling besar ditempatkan pada obligasi sekitar Rp21,76 triliun, disusul oleh Surat Berharga Negara Rp18,21 triliun, deposito Rp16,69 triliun, saham Rp13,66 triliun, reksadana Rp6,38 triliun, lain-lain Rp3,08 triliun, serta tanah bangunan Rp3,33 triliun.

Sementara, portofolio investasi dana pensiun non BUMN terbesar terdapat di surat berharga negara Rp12,36 triliun, deposito Rp16 triliun, obligasi Rp11,17 triliun, saham Rp8,47 triliun, reksadana Rp2,84 triliun, lain-lain sebesar Rp94 miliar, serta Rp72 miliar.

Sementara itu, hingga per 31 Desember 2011, sendiri total aset dana pensiun BUMN tercatat mencapai Rp86,34 triliun, sedangkan non BUMN Rp54,55 triliun. Sedangkan iuran jatuh tempo dana pensiun BUMN diperkirakan sebesar Rp3,39 triliun dan non BUMN Rp2,60 triliun.“Untuk penerimaan iuran dana pensiun BUMN sekitar Rp3,40 triliun, sedangkan penerimaan iuran non BUMN Rp2,70 triliun,”ujarnya. (bari)

Related posts