Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Ginjal

NERACA

Penyakit gagal ginjal terus meningkat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Namun banyak penderita ginjal yang tak merasakan gangguan kesehatan apapun hingga mencapai kondisi gagal ginjal tahap akhir.

"Rata-rata penderita ginjal yang datang ke dokter sudah mencapai gagal ginjal tahap akhir," ujar pakar ginjal Prof Endang Susalit SpPD KGH dalam seminar media "RSCM mampu Melakukan Teknik Transplantasi Ginjal Berstandar Internasional" di Jakarta.

Meski tak ada data pasti, Prof Endang yakin penyakit ginjal semakin banyak diderita penduduk Indonesia. Dari perkiraan 300.000 pasien gagal ginjal di Indonesia, baru 25.000 yang mendapat layanan kesehatan. Sementara sisanya tak dapat ditangani medis, dan kemungkinan meninggal dunia tanpa menjalani pengobatan.

Pengobatan penyakit ginjal tahap akhir biasanya berupa hemodialisis, peritoneal dialisis dan transplantasi ginjal. Kesemuanya memerlukan biaya yang tak murah. Sehingga, pencegahan penyakit ginjal dengan menjalankan gaya hidup sehat.

Menurut Dr Bonar Marbun SpPD KGH mengatakan, dalam menjalankan aktivitas harian, sebenarnya seseorang hanya membutuhkan kinerja ginjal sebesar 25%. "Dua ginjal manusia masing-masing menyumbang 50% jadi 100%. Jadi sebenarnya satu ginjal itu seperti cadangan".

Bila kinerja ginjal menurun menjadi 20%, banyak orang yang belum mengalami keluhan apapun. "Barulah saat kinerja ginjal di bawah 15% baru terasa ada gangguan dan kebanyakan pada saat ini sudah masuk gagal ginjal tahap akhir”.

Kondisi gagal ginjal paling sering terjadi sejak usia separuh baya. Sehingga seseorang perlu melakukan pengecekan rutin sekali setahun bila mencapai usia 40 tahun. Bila usia seseorang telah mencapai lebih dari 60 tahun, sebaiknya melakukan pengecekan enam bulan sekali.

Mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal, mendorong perilaku mencegah dan melakukan deteksi dini secara berkesinambungan, dapat meningkatkan pengetahuan di kalangan praktisi medis tentang peran penting dalam mendeteksi penyakit ginjal kronik pada pasien.

“Frekuensi penyakit ginjal kronis Chronic Kidney Disease (CKD) cenderung terus meningkat setiap tahun di seluruh dunia”. Studi populasi yang dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali yang melibatkan sekitar 10.000 pasien dengan metode Modification Diet in Renal Disease (MDRD) menunjukkan bahwa prevalensi CKD sebesar 8,6% dari total penduduk Indonesia.

“Menanggapi hal ini, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) mengimbau agar masyarakat melakukan tindakan pencegahan, yaitu dengan menjaga kesehatan ginjal serta melakukan deteksi dini dari gangguan ginjal”.

CKD merupakan kondisi di mana fungsi ginjal menurun secara bertahap atau hilang secara keseluruhan. Saat fungsinya mengalami penurunan, ginjal akan mengalami kesulitan untuk menyaring racun dan cairan, sehingga sampah dan cairan berlebih tetap berada dan terakumulasi dalam tubuh .

Penyebab CKD yang paling umum adalah penyakit hipertensi dan diabetes di mana keduanya sangat berkaitan erat dengan pola asupan nutrisi dan gaya hidup. Klasifikasi gagal ginjal kronik dapat dilihat berdasarkan sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsinya yaitu predialisis dan dialisis. Pada kondisi pre-terminal tatalaksana yang dapat dilakukan adalah melalui pengaturan diet dan pemberian obat-obatan.

Sedangkan dialisis dan transplantasi ginjal dilakukan saat pasien memasuki fase dialisis. Menjaga kesehatan ginjal dapat dilakukan dengan delapan langkah, yaitu menjaga kesehatan dan rutin berolah raga, menjaga kadar gula darah tetap stabil, menjaga tekanan darah dalam batas normal, mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga berat badan, minum banyak air putih, tidak merokok, tidak mengkonsumsi obat sembarangan serta memeriksa fungsi ginjal segera apabila memiliki salah satu atau lebih faktor risiko.

Related posts