Minimnya Transparansi Ginjal Di Indonesia

NERACA

Di Indonesia terdapat 70.000 orang penderita gagal ginjal kronik yang memerlukan penanganan terapi cuci darah (dialisis). Keberhasilan operasi ginjal di Indonesia di atas 90%, dan lebih murah.

Dengan harga yang murah dan tingkat operasi yang baik di Indonesia, tidak menjadi acuan untuk para penderita ginjal ini untuk di operasi, bayangkan ada 7.000 penderita yang dapat melakukan cuci darah, sedangkan sisanya sekitar 63.000 orang yang sudah pasrah dengan penyakit ginjal. "Sebagian besar pasien yang menjalani cuci darah dibiayai dan dibantu pemerintah, yakni melalui program Gakin dan Askeskin (Jamkesmas).

Bila pasien telah memasuki stadium gagal ginjal kronik (GGK), selain dialisis, cangkok ginjal (transplantasi) cara terbaik untuk mengatasi penyakit tersebut. Kendati di Indonesia cangkok ginjal telah dilakukan sejak 1977, transplantasi yang dilakukan di dalam negeri baru berjumlah 500 orang. Malah ada 1.000 operasi cangkok ginjal, yang dilakukan orang Indonesia di luar negeri.

Kepala Sub Bag Ginjal Hipertensi Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Endang Susalit memaparkan, biaya cuci darah yang tinggi menjadi penyebab utama cakupan pasien yang mendapat terapi hanya sedikit. Seorang penderita penyakit ginjal tahap akhir, memerlukan cuci darah minimal dua kali dalam seminggu untuk seumur hidupnya. Biaya untuk satu kali cuci darah berkisar antara Rp500.000 hingga Rp 750.000.

Bisa dibayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan pasien. Sedangkan untuk transplantasi, minimal Rp150 juta, ditambah biaya cek up pascaoperasi Rp 5 juta yang harus dilakukan tiap satu bulan selama tiga bulan.

Khusus untuk cangkok ginjal, selain biaya, permasalahan ketersediaan donor ginjal juga menjadi kendala cukup signifikan menjadi penyebab rendahnya operasi cangkok ginjal di Indonesia. Padahal secara medis, sebenarnya manusia dapat hidup sehat dan normal dengan hanya menggunakan satu ginjal.

Untuk itu, kata Endang, perlu sosialisasi tentang fakta ini ke masyarakat. Lebih baik pencegahan, Bambang mengatakan, upaya untuk meningkatkan cakupan pasien gagal ginjal yang mendapatkan terapi cuci darah secara gratis, dengan terus menggalakkan sosialisasi Askeskin dan Gakin.

"Mau pemerintah sih, 100% tercover, tapi selain kendala sosialisasi, kita jujur kekurangan sarana dan prasaranan, termasuk biaya untuk cuci darah."

Untuk itu, solusi terbaik dengan mencegah penyakit gagal ginjal sejak dini. Dianjurkan masyarakat memeriksakan air seni atau urine di laboratorium dan konsultasi kepada dokter sehingga risiko terserang ginjal dapat diketahui sejak dini.

Dr. Indrawati Sukadis, ahli ginjal Yayasan Ginjal Nasional Indonesia (Yagina) yang kini sudah menjadi anggota MPR, menjelaskan bahwa rata-rata 1 dari 10 orang dewasa di Indonesia menderita kerusakan ginjal mulai dari tahap ringan hingga berat, pemeriksaan rutin wajib hukumnya.

"Cek rutin, terutama bagi orang yang telah berumur di atas 40 tahun dan terutama penting bagi mereka yang menderita penyakit degeneratif seperti diabetes melitus atau hipertensi," ujarnya. Dia menambahkan, 30% orang yang menderita penyakit degeneratif sangat berpotensi terkena gagal ginjal.

Berkenaan dengan rendahnya operasi transplantasi ginjal yang dilakukan di Indonesia, Pengajar dari Bagian Urologi FKUI/RSCM David Manuputty sangat menyayangkan hal tersebut. Padahal, ujarnya, tingkat keberhasilan cangkok ginjal di Indonesia di atas 90%. Selain itu, kelebihan lainnya, ginjal yang dicangkokan di Indonesia semuanya ditransfer langsung dari donor yang masih hidup umumnya dari keluarga.

Keuntungannya, kondisi ginjal kehangatannya masih terjaga sehingga metabolismenya masih di atas 10%. Berbeda bila operasi ginjal dilakukan di luar negeri, selain umumnya diambil dari donor yang telah meninggal, juga ginjal metabolismenya tidak sebaik dibandingkan ginjal dari Indonesia. Karena ginjal tersebut disimpan lama dan butuh waktu untuk dikirim.

"Imbasnya, harga jadi mahal, karena plus biaya pengiriman," tuturnya. David berpesan, bagi donor ginjal, tidak perlu takut bila harus mendonorkan separuh ginjalnya. Pasalnya, walau ginjal tinggal satu, yang artinya berkurang kinerjanya hingga 50%, namun tubuh sebenarnya hanya membutuhkan 10% kinerja ginjal. "Jadi satu ginjal sudah lebih dari cukup untuk hidup normal," tutupnya.

Related posts