Dampak Investment Grade Pada Obligasi Indonesia

NERACA

Di tengah kelesuan perekonomian global yang dipicu oleh krisis utang negara-negara Eropa yang belum menemukan penyelesaiannya, peringkat utang Indonesia justru mendapat peningkatan rating menjadi investment grade dari dua lembaga pemeringkat internasional Fitch dan Moody’s.

Di tengah-tengah perekonomian global yang lesu yang melanda negara-negara barat maka negara-negara sedang berkembang di Asia seperti China, India dan Indonesia justru menunjukkan tingkat perekonomian yang cenderung meningkat. Dari hasil survei menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2011 mencapai 6.5% dan sudah tiga tahun berturut-turut tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas 6%.

Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan hal ini sudah diakui oleh dunia sehingga lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch dan Moody’s berani meningkatkan rating utang Indonesia ke tingkat investment grade alias layak investasi karena dianggap perekonomian Indonesia sudah cukup stabil di tengah-tengah krisis global yang sedang melanda dunia saat ini.

Ini menjadi berdampak dengan iklim investasi di Indonesia, karena investor asing dari seluruh dunia sedang mengarahkan pandangannya ke Indonesia, khususnya pada instrumen obligasi. Ini menjadi keuntungan dalam pasar modal di Indonesia, kita harapkan peristiwa ini akan bertahan cukup lama di pasar modal Indonesia.

Moment ini juga dimanfaatkan oleh Pemerintah khususnya Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama yang berstatus perusahaan tertutup, untuk memanfaatkan pembiayaan alternatif melalui emisi obligasi dan sekaligus mengurangi intervensi.

Menteri BUMN Dahlan Iskak mengatakan obligasi juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan tata kelola perusahaan dan bisa mengurangi intervensi pemerintah terhadap badan usaha milik negara (BUMN).

“Dengan menerbitkan surat utang atau obligasi, BUMN juga diharapkan mulai mengenal dan terbiasa dengan aturan pasar modal. Hal ini akan berdampak positif ketika perusahaan pelat merah melepas saham perdananya,”demikian pernyataan Dahlan Iskan.

Obligasi merupakan pembiayaan jangka panjang dengan tingkat bunga tetap, sehingga mengurangi risiko fluktuasi tingkat bunga. dalam proses obligasi, perusahaan akan melalui proses pemeringkatan. Semakin baik fundamental perseroan, peringkat yang diberikan akan semakin tinggi, dan bunga obligasi akan semakin rendah.

Hal itu bisa mendorong BUMN untuk terus berlomba-lomba memperbaiki kinerjanya Dia juga mengatakan rata-rata bunga obligasi saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan bunga pinjaman perbankan. Obligasi juga merupakan pembiayaan jangka panjang dengan tingkat bunga tetap, sehingga mengurangi risiko fluktuasi tingkat bunga.

Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber maka BUMN yang berencana terbitkan obligasi di tahun 2012 adalah sebagai berikut, PNM Rp 500 miliar (tahap I), Waskita Karya Rp 750 miliar, Pelindo Rp 1 triliun, Semen Baturaja Rp 1,1 triliun, Perum Peruri Rp 2 triliun, AP II Rp 3 trilliun, PLN US$ 1 miliar, (GMTN tahap II), Semen Gresik US$ 500 juta atau setara Rp 4,5 triliun, Antam Rp 1 triliun (tahap II).

Sentimen positif Moody’s Investor Service yang menaikkan rating indonesia menjadi layak investasi juga berdampak pada perbankan dan multifinance yang diperkirakan menjadi sektor yang bakal merilis obligasi korporasi besar-besaran pada kuartal II di 2012 seiring dengan kecendrungan kupon rendah dan obligasi jatuh tempo tahun ini.

SUN Meningkat

Permintaan terhadap Surat Utang Negara (SUN) makin meningkat, menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto permintaan terhadap Surat Utang Negara (SUN) makin meningkat setelah Indonesia mendapatkan peringkat layak investasi dari dua lembaga pemeringkat internasional, Fitch dan Moody`s.

Selain itu, total penawaran lelang pada hari Kamis 26 Januari 2012 mencapai Rp50,13 triliun dan merupakan yang terbesar sepanjang sejarah penjualan SUN kita, terakhir 6 Juli 2011 incoming bitnya Rp30 triliun.

Artinya demand terhadap surat utang negara kali ini semakin meningkat. Tingginya permintaan dari para investor khususnya investor asing terhadap SUN, menandakan persepsi asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia semakin meningkat. "Hal ini juga menunjukkan persepsi investor dengan perekonomian Indonesia dipersepsikan bagus".

Di sisi lain kupon juga tentu dituntut lebih murah. Berdasarkan data dari PT Trimegah Securities obligasi korporasi yang jatuh tempo di atas Rp 20 triliun cukup banyak dan emisi baru obligasi korporasi tahun ini diproyeksikan mencapai Rp 50 triliun. Jumlah emisi baru ini tidak jauh berbeda dengan total penerbitan obligasi korporasi tahun lalu Rp 45,23 triliun.

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat per pekan pertama tahun ini, jumlah obligasi yang jatuh tempo mencapai Rp 25,87 triliun dari 65 seri obligasi. Dari jumlah itu, obligasi jatuh tempo sektor multifinance mencapai Rp. 8,47 triliun, sedangkan perbankan Rp 5,06 triliun. Keduanya menyumbang 52% dari total obligasi jatuh tempo.

Secara umum pengaruh peringkat layak investasi terhadap kupon obligasi korporasi-korporasi cukup besar, terutama penurunan kupon. Ini bisa dilihat dari banyaknya peminat investor asing yang akan masuk kepasar modal Indonesia terutama dalam investasi obligasi.

Sementara itu, meski tren tingkat imbal hasil obligasi pemerintah terus turun, penerbitan obligasi korporasi dinilai masih memerlukan pemberian premi yang agak tinggi agar tetap diserap oleh investor. Menurut para analis obligasi, penurunan kupon obligasi korporasi tidak akan sebesar penurunan yang terjadi pada obligasi pemerintah karena target return dari investor domestik belum turun.

Jadi penerbitan obligasi korporasi masih harus sedikit mempertimbangkan permintaan investor. Terlebih lagi, maraknya penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini akan membuat emiten berlomba-lomba menawarkan premi yang menarik agar surat utangnya diserap oleh pasar.

“Total outstanding obligasi korporasi dari tahun ke tahun tercatat terus meningkat yang mana pada tahun ini diperkirakan sangat tinggi seiring peningkatan pertumbuhan ekonomi, yakni Rp 67,32 triliun secara gross dan Rp 37,39 triliun untuk net issuance-nya”.

Pihaknya berharap banyaknya investasi di Indonesia akan memicu perekonomian akan terus meningkat dan pembangunan disegala sektor akan tumbuh pesat, baik di perkotaan maupun di pedesaan akan terus meningkat, kesenjangan dan kesejahteraan rakyat harus didahulukan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu.

Related posts