Barata Indonesia Jalin Kerja Sama Delapan Universitas

NERACA

Jakarta – PT Barata Indonesia (Persero) menjalin kerja sama dengan delapan universitas, sebagai bagian untuk menciptakan sumber daya manusia yang siap kerja ketika lulus dari bangku kuliah.

Direktur Keuangan dan SDM Barata Indonesia, Yoyok Hadi Satriyono di Gresik, disalin dari Antara, mengatakan kerja sama ini dilakukan dalam bentuk kegiatan magang bersertifikat, dan sesuai dengan program Kementerian BUMN.

"Perusahaan-perusahaan BUMN diminta turut membantu agar para mahasiswa maupun mahasiswi lebih siap, baik itu secara skill maupun kompetensi, ketika nanti memasuki dunia kerja," kata Yoyok, dalam keterangan persnya.

Kerja sama ini dilakukan dengan penandatangan Program Magang Bersertifikat 2019 Kementerian BUMN dengan delapan Universitas, yakni Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Malang, Poliktenik Energi dan Mineral Akamigas, Universitas Islam Malang, Politeknik Negeri Medan, Politeknik Negeri Banyuwangi, Universitas Mulawarman serta Akademi Komunitas Semen Indonesia. "Nantinya, perwakilan mahasiswa dari delapan universitas tersebut akan menjalani program magang selama enam bulan," katanya.

Mahasiswa nantinya akan diterjunkan langsung di dunia kerja dan diperlakukan layaknya karyawan atau staf perusahaan, sesuai dengan bidang yang digeluti. "Sebab selama ini kerap kali ditemui para lulusan baru yang kesulitan ketika terjun langsung masuk di dunia kerja. Sehingga para lulusan barusan tersebut harus belajar lagi dari awal," katanya.

Dengan kerja sama ini diharapkan permasalahan yang ada dapat diminimilisir sehingga menghasilkan lulusan yang berkulitas, dan siap ditempatkan di dunia kerja. "Program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia untuk menghadapi persaingan global, dan merupakan bentuk dari wujud BUMN Hadir Untuk Negeri. Di mana BUMN ikut hadir dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa," katanya.

PT Barata Indonesia (Persero) mengawali 2019 dengan mengekspor komponen pembangkit listrik jenis "condenser and LP outer casing", yang diproduksi di pabrik Cilegon, Banten, ke Brasil, Amerika Selatan.

Direktur Utama Barata Indonesia Oksarlidady Arifin dalam rilis di Jakarta, disalin dari Antara, mengatakan pembangkit listrik buatan anak negeri tersebut akan digunakan di pembangkit listrik GNA Novo Tempo Project yang memiliki kapasitas 1.300 MW.

Ia mengatakan bahwa ekspor perdana komponen pembangkit listrik pada awal 2019 itu merupakan langkah positif bagi perusahaan. Apalagi, pada tahun ini, Barata Indonesia akan meningkatkan nilai ekspor perusahaan, terutama untuk komponen pembangkit listrik.

"Kami besyukur pada awal tahun ini, kami bisa mengekspor komponen pembangkit listrik karya anak bangsa ke Brasil. Kami berharap ekspor tidak berhenti di sini, namun bisa berlanjut sepanjang tahun," ujar Dady, panggilan akrab Oksarlidady Arifin. "Tahun ini Barata berniat meningkatkan nilai ekspor, termasuk untuk komponen pembangkit listrik dengan target nilai ekspor di angka 17 juta dolar AS," tambahnya.

Peningkatan tersebut diharapkan selain menambah devisa negara juga meningkatkan nilai total ekspor perusahaan pada tahun ini. Selain komponen pembangkit listrik, Barata juga mengekspor komponen kereta api ke berbagai negara. Pada 2019, Barata menargetkan nilai ekspor pengecoran (foundry)di angka 23 juta dolar AS.

Semenjak mengakuisisi pabrik Siemens Indonesia di Cilegon yakni Siemens Power dan Gas-Turbine Components, Barata menargetkan untuk memperkuat posisi perusahaan di bidang pembangkit listrik.

Sebagai koordinator dalam program lokal konten pembangkit listrik, Barata berharap aset baru yang dimilikii di bidang pembangkit listrik tersebut dapat meningkatkan penjualan untuk pasar lokal dan internasional.

Sebelum melakukan ekspor ke Brasil, Barata juga telah mengekspor komponen pembangkit listrik "blade ring" dan "combustion chamber" ke Kaohsiung, Taiwan pada medio Oktober 2018.

Sebelumnya, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyatakan, langkah pengendalian impor yang dilakukan melalui serangkaian kebijakan pemerintah harus dilakukan dengan lebih berani guna mengatasi persoalan defisit neraca perdagangan nasional.

"Langkah-langkah pengendalian impor yang lebih berani sangat diperlukan guna mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan," kata Bambang Soesatyo dalam rilis di Jakarta, disalin dari Antara, baru-baru ini.

BERITA TERKAIT

Danai Untuk Modal Kerja - Asiaplast Beri Pinjaman TBE Rp 1,3 Miliar

NERACA Jakarta - Emiten produsen plastik, PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) memberikan pinjaman kepada PT Tiga Berlian Electric (TBE) untuk…

PII Ingin Berikan Kenyamanan Berinvestasi - Indonesia PPP Day 2019

  NERACA Singapura - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyelenggarakan Indonesia Public Private Partnership (PPP) Day 2019 di Singapura pada Selasa, (15/01)…

Sebanyak 13 Negara Belajar Minapadi di Indonesia

  NERACA Yogyakarta - Sebanyak 13  (tiga belas) perwakilan negara-negara Asia-Pasifik belajar minapadi di Indonesia. Ketiga belas negara tersebut yakni…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…