Polusi Cahaya Disalahkan dalam Kasus Insomnia

Tak bisa tidur atau insomnia bukan pengalaman yang menyenangkan. Seolah ada sesuatu yang menyiksa saat Anda memulai untuk tidur. Beberapa alasan umum yang menyebabkan insomnia biasanya berpusat pada rasa stres, cemas, dan kondisi tubuh yang memburuk. Namun, di luar alasan umum itu, ada penyebab yang barangkali terletak di luar jendela kamar tidur Anda.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menyebutkan bahwa polusi cahaya berpengaruh terhadap timbulnya insomnia. Mengutip Mayo Clinic, insomnia adalah gangguan tidur. Ia akan membuat Anda untuk sulit tertidur atau menyebabkan Anda bangun di tengah tidur dan tak bisa tidur kembali.

Insomnia adalah kondisi kronis yang dapat membuat Anda merasa kesal, depresi, cemas, dan sulit mendapatkan fokus. Penelitian teranyar dari Seoul National University, Korea Selatan, menemukan bahwa terlalu banyak paparan cahaya buatan di malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian seseorang. Dengan kata lain, sumber cahaya apa pun itu--selain matahari--kemungkinan bakal membuat Anda mengalami insomnia.

Peneliti mengambil data dari National Health Insurance Service-National Sample Cohort (NHIS-NSC) Korea Selatan pada 2012-2013. Studi ini menganalisis lebih dari 50 ribu orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Sebanyak 12 ribu di antara mereka mengonsumsi obat tidur.

Peneliti mengukur paparan cahaya berdasarkan data satelit yang disediakan oleh Pusat Nasional untuk Informasi Lingkungan. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa cahaya buatan alias polusi cahaya bisa menjadi penyebab utama kasus insomnia. "Polusi cahaya dapat berasal dari lampu jalan atau sumber cahaya tidak alami lainnya," ujar ahli kesehatan, Katie Golde, mengutip Elite Daily. Selain itu, cahaya dari gawai juga disalahkan dalam kasus insomnia. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hasil penelitian tersebut.

Sementara itu, kurang tidur tak cuma memengaruhi kesehatan, tingkat stres, dan kecemasan. Selain kesehatan secara umum, kurang tidur juga bisa memengaruhi kehidupan seks seseorang. Hasil studi dari National Sleep Foundation, bahwa orang dewasa biasanya membutuhkan antara tujuh hingga sembilan jam durasi untuk tidur di malam hari. Faktanya, banyak orang dewasa yang hanya tidur kurang dari tujuh jam setiap malam.

Hal ini membuka peluang penyakit yang berasal dari fisik bahkan mental seorang yang memiliki durasi tidur yang tidak cukup. Kurangnya durasi tidur dapat mempengaruhi suasana hati, kepribadian seseorang atau depresi, hal ini berdampak pada kehidupan seks seseorang.

Gejala seperti insomnia atau kurangnya waktu tidur, kecemasan yang menyebabkan depresi merupakan disfungsi seksual. Jika tubuh kurang istirahat secara maksimal, secara tidak langsung membuat otak menekan hormon seks kortisol yang fungsinya memproduksi hormon estrogen dan testosteron pada manusia. Proses ini menurunkan dorongan seks, infertilitas atau disfungsi ereksi.

Hubungan antara kurangnya durasi tidur dan seks, umumnya terjadi pada wanita. Efek kehamilan, proses pascamelahirkan, dan menopause merupakan penyebab utama menurunnya minat wanita dalam seks karena kelelahan, depresi dan insomnia.

Mengutip Psychology Today, Penelitian yang dilakukan di University of Michigan Medical School (2015) tidak jauh berbeda, bahwa semakin lama durasi tidur malam, semakin mereka akan semakin tertarik dengan seks di hari berikutnya.

Sebaliknya semakin singkat durasi tidur manusia, akan berpengaruh pada setiap aspek kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Dengan durasi tidur yang cukup akan memperbaiki kehidupan seks, sehingga hal ini dapat menurunkan penyakit fisik dan mental yang terjadi pada jutaan manusia.

Penelitian telah menunjukkan bahwa seks sebelum tidur dapat membantu kualitas tidur. Hal ini disebabkan oleh hormon endorfin yang dilepaskan ketika seks. Manfaat dari hormon endorfin adalah meredakan kecemasan dan membuat tubuh rileks.

Seks juga melepaskan hormon oksitosin, atau hormon yang biasa disebut dengan hormon "cinta". "Hormon oksitosin bertindak sebagai obat penenang untuk mengurangi waktu yang diperlukan saat tidur," kata Michele Lastella, PhD, seorang ilmuwan dari Central Queensland University di Adelaide, Australia.

Michele menyurvei terhadap 460 orang dewasa yang berusia antara 18-70 tahun, para peserta ditanya tentang kehidupan seks mereka. Sebanyak 64 persen responden mengatakan bahwa mereka bisa tidur lebih baik setelah bercinta sebelum tidur.

Kemungkinan dengan lepasnya hormon oksitosin dan endorfin sebelum tidur, membuat tubuh menjadi lebih maksimal ketika istirahat yang mempengaruhi kualitas tidur dan bekerja pada esok hari. Sehingga stress dapat diatasi mulai dari durasi tidur Anda.

BERITA TERKAIT

Badan Kehormatan Dewan Tertibkan Pengawasan Seluruh Anggota - Masukan Program Dalam Paripurna DPRD Kota Depok 2019

Badan Kehormatan Dewan Tertibkan Pengawasan Seluruh Anggota Masukan Program Dalam Paripurna DPRD Kota Depok 2019 NERACA Depok - ‎Badan Kehormatan…

Anggota DPR Pertanyakan Alasan SP3 Kasus Gunawan Jusuf

Anggota DPR Pertanyakan Alasan SP3 Kasus Gunawan Jusuf NERACA Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Masinton Pasaribu mengatakan pihaknya…

KKRI Minta Kejagung Serius Tangani Kasus Alsintan

KKRI Minta Kejagung Serius Tangani Kasus Alsintan NERACA Jakarta - Komisi Kejaksaan Republik Indonesia (KKRI) meminta Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Menurunkan Tekanan Darah Tanpa Obat

Darah tinggi atau hipertensi adalah salah satu penyakit yang sering membunuh penderitanya diam-diam. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sekitar…

Penyebab Utama Terjadinya Cegukan Usai Makan Besar

Salah satu hal yang tak menyenangkan usai makan adalah cegukan. Satu menit pertama Anda bisa bernapas normal, tapi di menit…

Panduan Penggunaan Susu Evaporasi dan Kondensasi

Jika Anda gemar memasak, tentu Anda tak asing lagi dengan produk susu olahan seperti susu evaporasi dan kondensasi. Kedua jenis…