Anak Usaha ABM Beli Tujuh Unit Kapal Tongkang - Tingkatkan Pelayanan Logistik

Neraca

Jakarta - Group usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics), melalui anak usahanya, PT Baruna Dirga Dharma (BDD), berinvestasi dengan membeli sebanyak tujuh set kapal tug dan kapal tongkang dengan kapasitas mencapai 7.500 ton.

Direktur BDD Satrio Daru Sasongko mengatakan pengadaan kapal baru ini dilakukan untuk mendukung salah satu layanan CKB Logistics yang mengkhususkan pada layanan logistik batubara (Coal Logistics). “Belanja modal (Capital Expenditure /Capex) BDD pada 2012 ini adalah senilai US$26 juta untuk pembelian kapal dan juga fasilitas pendukung lainnya,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Satrio, satu set kapal tongkang telah diterima BDD pada akhir September 2011, sementara enam set kapal lainnya diserahterimakan pada 2012 ini. Pada kuartal I-2012 ini, BDD telah menerima dua set kapal tongkang baru, yakni Kaili I dan Moana I pada Februari 2012, dan Kaili II dan Moana II pada 12 Maret 2012.

Sementara President Director CKB Logistics Roni Setyawan mengatakan selain dibuat di sebuah galangan nasional di Batam, Kepulauan Riau, kapal ini juga mendapatkan sertifikasi dari badan klasifikasi internasional dan BKI (Biro Klasifikasi Indonesia). “Ini merupakan wujud komitmen perseroan terhadap sektor energi dan layanan logistik batubara,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, kapal-kapal yang dioperasikan oleh BDD melayani kebutuhan logistik batubara di grup ABMM, yakni PT Tunas Inti Abadi (TIA), yang merupakan pemilik konsesi pertambangan batubara di Kalimantan Selatan.

CKB Logistics merupakan perusahaan logistik terpadu yang mengkhususkan layanannya di sektor energi dengan jangkauan sejumlah 35 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia baik di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimatan dan juga bagian timur Indonesia seperti Sulawesi, Ternate, Ambon, dan Papua.

Sebagai informasi, PT ABM Investama Tbk (ABMM) membidik produksi batu bara hingga 5,5 juta ton tahun depan. Kontribusi batu bara dihasilkan pada tambang perseroan di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Menurut Direktur Strategi Perusahaan ABMM, Yovie Priadi, produksi batu bara di Kalsel sebesar 4,5 juta ton, sedangkan NAD mencapai 1 juta ton.“Jadi, target kita antara 4,5-5,5 juta ton produksi batu bara di dua provinsi, atau bisa meningkatkan laba dua kali lipat, di tahun depan," ujarnya.

Kontribusi pendapatan perseroan masih besar pada kontraktor batu bara, khususnya, pada pengupasan lapisan tanah (overburden removal). Perseroan menargetkan produksi overburden removal 120 juta bcm (billion cubic metres) pada tahun depan. Sedangkan, divisi pertambangan batu bara juga memberikan kontribusi kenaikan pendapatan. (bani)

Related posts