BI Prediksi Inflasi Capai 6,8% - BBM Rp1000/liter

NERACA

Jakarta-- Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi pada 2012 bisa mencapai 7,1% apabila pemerintah melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. "Menurut hitungan kita 4,4% kalau tidak ada apa-apa. Nah, kalau ada itu ya jadi 6,8% sampai 7,1%," kata Gubernur BI, Darmin Nasution di Jakarta,

Lebih jauh kata Darmin, apabila ada kenaikan harga BBM sebesar Rp1.000 per liter maka terjadi inflasi sebesar 6,8% sedangkan apabila ditetapkan subsidi konstan sebesar Rp2.000 per liter maka terjadi inflasi 7,1%. "Kalau harga BBM-nya Rp1.000 itu inflasi 6,8%, tapi kalau subsidi dibatasi konstan Rp2.000 per liter maka akan ada peluang naik, tapi inflasi kita di 7,1%," ujarnya.

Menurut mantan Dirjen Pajak ini, peningkatan inflasi tersebut berasal dari dampak langsung kenaikan harga BBM dan dampak lanjutannya ke barang-barang lain. "Resiko inflasi memang sulit untuk dihindari, tapi dalam perspektif jangka menengah panjang, kami melihat kebijakan BBM akan positif dalam menjaga prospek kesinambungan fiskal, meningkatkan efisiensi perekonomian dan memperkuat kinerja neraca pembayaran," ujarnya

Bank Indonesia, lanjut Darmin akan menempuh kebijakan yang memadai dan terukur agar inflasi kembali pada sasarannya, dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan. Kebijakan tersebut antara lain dengan mengoptimalkan bauran kebijakan dari suku bunga, nilai tukar, pengelolaan likuiditas dan kebijakan makroprodensial.

Darmin menjelaskan dampak kebijakan subsidi BBM ke inflasi masih memungkinkan ditekan lebih rendah dengan menerapkan subsidi ke sektor transportasi dan komunikasi kebijakan yang baik untuk meminimalkan efek psikologis. "Sebetulnya yang harus kita perhatikan betul adalah ada satu barang, jangan sampai kenaikannya itu terjadi melampaui yang seharusnya. (Jangan sampai) banyak spekulasinya, naiknya lebih besar dari harga yang seharusnya naik," ujarnya.

Pemerintah dalam RAPBN-P 2012 mengubah asumsi laju inflasi menjadi 7,0% dari sebelumnya dalam APBN sebesar 5,3% terkait kemungkinan adanya penyesuaian harga BBM pada April mendatang.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jika jadi dilakukan bisa berdampak langsung dan tidak langsung kepada inflasi. "Jadi simulasi kita, setiap kenaikan Rp 500 itu maka akan terjadi inflasi langsung sebesar 0,31%. Kemudian yang tidak langsungnya itu sebesar 1,5-2 kali inflasi pengaruh langsungnya," ujarnya

Suryamin menerangkan, jika kenaikan dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 maka angka inflasi 0,31% tinggal dikali tiga sesuai dengan selisih harga tersebut. Atau, angka inflasi jadi bertambah 0,9%. "Jadi kalau secara totalnya ambil saja dua kali 0,31% jadi 0,93% tiap Rp 500 ya," tambah dia. **maya

Related posts