Inflasi Rendah Tetap Harus Diwaspadai

Selasa, 08/03/2011

Pengumuman Biro Pusat Statistik (BPS) bahwa inflasi Februari 2011 sebesar 0,13% tentu menggembirakan banyak pihak. Untuk kali pertama sejak empat tahun lalu, bahan makanan menyumbang deflasi. Umumnya, kelompok ini lebih tinggi inflasinya ketimbang inflasi secara umum.

Hasil survei indeks harga konsumen oleh BPS di 66 kota menunjukkan, 40 kota inflasi dan 26 kota lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Singkawang dan Parakan, sedangkan terendah di Sukabumi. Deflasi tertinggi terjadi di Sumenep dan Jayapura. Sumbangan inflasi terbesar dari laju inflasi 0,13% berasal dari ikan segar.

Bahan makanan seperti cabai, beras, dan daging ayam yang biasanya menyumbang inflasi, pada bulan lalu justeru deflasi. Sumbangan terbesar dari ikan segar 0,03% terhadap laju inflasi disebabkan oleh gelombang tinggi sehingga nelayan tak bisa melaut.

Dengan inflasi Februari sebesar 0,13%, laju pada tahun kalender mencapai 1,03%, sedangkan laju tahunan atau Februari 2011 terhadap Februari 2010 sebesar 6,84 %. Berarti inflasi year on year yang pada Januari 7,02% turun menjadi 6,84%. Sementara itu inflasi inti dari laju inflasi 0,13% sebesar 0,31% atau lebih tinggi dari inflasi umum.

Dari sisi kelompok barang, inflasi terjadi pada kelompok makanan jadi, minum­an, rokok, dan tembakau sebesar 0,47%. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,40%; kesehatan 0,69%; pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,13%. Sementara deflasi disumbang oleh komoditas cabai merah 0,10%, beras 0,07%, daging ayam ras 0,04%, tomat 0,02%, dan emas perhiasan 0,02%. Deflasi pada bahan pangan dinilai positif setelah harga mencapai puncaknya pada akhir 2010 dan awal 2011.

Ada empat penyebab deflasi menurut teori moneter, yaitu menurunnya persediaan uang di masyarakat, meningkatnya persediaan barang, menurunnya permintaan akan barang, dan naiknya permintaan akan uang

Deflasi dapat menyebabkan menurunnya persediaan uang di masyarakat dan akan menyebabkan depresi besar (seperti dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat pasar investasi (saham) akan mengalami kekacauan. Ini dikarenakan harga barang mengalami penurunan, konsumen memiliki kemampuan untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi (deflationary spiral).

Sebelumnya, pemerintah optimistis ha­sil panen akan menyumbang deflasi pa­da Februari. Menko Perekonomian Ha­tta Rajasa menyatakan, inflasi Februari bakal lebih rendah dibandingkan dengan in­flasi Januari 0,89%. Sehu­bungan de­ngan target inflasi dalam APBN 2011 se­besar 5,3%, pemerintah berjanji bekerja lebih keras menjaga stabilitas harga pangan sehingga tidak mendorong laju inflasi. BPS sendiri berharap dengan laju tahun kalender 1,03% target inflasi 2011 bisa ter­capai. Pasalnya, Maret biasanya ting­kat inflasi rendah karena panen masih terjadi.

Namun, sebagian ekonom memperkirakan inflasi tahun ini tetap tinggi. Tekanan terbesar datang dari komoditas pangan pokok yang harganya bergejolak. Sejumlah ekonom memperkirakan, inflasi tahun ini dapat mencapai 7%. Artinya, target pe­merintah menjaga inflasi di tingkat 5,3% per tahun bakal meleset. Pe­nyebabnya, distribusi berbagai kebutuhan pokok tidak bagus. Ada keterkaitan antara kualitas infrastruktur dan inflasi. Saat ini nilai bisnis logistik lebih tinggi ketimbang volumenya akibat kualitas infrastruktur buruk.

Kalau saja pemerintah serius membenahi infrastruktur, inflasi diprediksi dapat menurun hingga separuh dari sekarang. Selain itu, pemerintah perlu berhati-hati meluncurkan kebijakan yang berpotensi mendorong tingkat inflasi. Misalnya pembatasan BBM bersubsidi dan pencabutan batas atas tarif listrik. Semoga!